Backpacking to Bromo : Kisah Menuju Desa Cemorolawang

Catatan perjalanan hari keempat, 3 Agustus 2010
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Farewell Jogja! Itulah kata-kata terakhir saya di kota budaya Jogja, kota budaya yang membuat betah bagi pendatang, kota dengan biaya hidup rendah, kota yang memiliki manajemen transportasi yang baik, dan kota budaya yang masyarakatnya santun. Saya benar-benar merasa betah di kota gudeg ini, malah sempat terlintas dalam pikiran saya untuk pindah ke Jogja (maaf, Bandung, bukan maksud saya untuk mengkhianatimu). Hari-hari terakhir di Jogja benar-benar membuat saya rindu untuk bisa kembali lagi dan mewujudkan mimpi saya di Jogja : bersepeda keliling kota. Namun, mau tidak mau waktu 3 hari 2 malam harus saya lewati untuk kemudian menuju tempat isnpiratif lain : Bromo!

Pagi itu, dari Masjid Al-Muttaquun Prambanan, kami berjalan sedikit menuju halte Trans Jogja Prambanan untuk berangkat ke Stasiun Lempuyangan. Di halte sudah menunggu beberapa orangtua dan anak sekolah yang pada pagi buta itu sudah bersiap-siap untuk bekerja dan menuntut ilmu. Tidak perlu menunggu lama, bis Trans Jogja sudah datang tepat waktu sesuai jadwal operasinya, pukul 05.30. Suasana bis masih kosong, begitu saya masuk, terasa sekali hembusan udara dingin merasuk ke ubun-ubun, AC nya dingin sekali. Langsung saja saya mengambil kursi yang paling dekat dengan pintu, nyaman sekali rasanya memakai bis fasilitas umum yang terawat dengan baik.

Pagi itu kami diajak berkeliling mengitari sudut-sudut kota Jogja, suasananya masih lengang dan bersih, tidak saya jumpai kemacetan, tidak ada mobil berwarna-warni dengan berbagai trayek alias angkot, dan TIDAK ADA JALAN BERLUBANG seperti di kota antah-berantah. Rasanya, saya tidak ingin cepat-cepat sampai ke stasiun karena saya benar-benar menikmati suasana di Jogja. Namun, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, mau tak mau saya harus berpisah juga dengan Jogja. Sebelum beranjak dari Jogja, kami mengisi perut dulu dengan nasi rames gudeg di warung depan stasiun. Benar-benar nuansa yang berbeda.

This slideshow requires JavaScript.

Kereta api jurusan Jogja-Probolinggo berangkat pukul 07.30 tepat. Kami sudah siap-siap dari pukul 07.00, setelah membeli tiket seharga 26.000 rupiah, kami lalu masuk ke kereta api ekonomi Sri Tanjung. Kami duduk berhadapan dengan seorang ibu yang ramah dan setelah mengobrol panjang-lebar, barulah saya menyadari bahwa ibu di depan kami adalah ibu yang sudah banyak makan garam. Pengalamannya banyak, kata-katanya pun bijak. Beruntungnya kami mendapat ilmu gratisan di kereta api ekonomi.

Sebagai penumpang kereta api ekonomi, berarti saya harus tunduk pada kemauan rakyat. Mau tidak mau, kami harus mau diajak memutar ke Surabaya sebelum sampai di tujuan kami Probolinggo. Bayangkan saja, Probolinggo yang berada agak ke daerah Selatan harus diputar dulu ke Surabaya yang berada di daerah Utara Jawa (lihat peta Jawa). Ya, itulah konsekuensi, berani mengambil tindakan harus berani mengambil akibatnya. Alhasil, kami tiba di Probolinggo sekitar pukul 17.00, berarti sekitar 9,5 jam perjalanan!

Setelah menjamak sholat Dzuhur dan Ashar, kami bergegas mencari angkutan yang menuju ke kaki Bromo. Memang penampilan kami adalah penampilan seorang wisatawan gara-gara ransel besar di punggung kami, maka tak heran jika ada orang yang langsung menawari kami, “Mau ke Bromo, Mas?Ikut kami saja, angkutan ke Bromo sudah habis jam 4 tadi. Memang pada dasarnya kami awam tentang Bromo, ya sudah, tawaran tadi kami terima. Akhirnya, kami dipertemukan dengan rombongan sesama mahasiswa dari Universitas Negeri Solo dan seorang turis bule bernama Ivan yang ternyata adalah seorang backpacker sejati yang lancar berbahasa Indonesia. Dengan mereka juga, kami menempati hostel bersama-sama dan bisa mendapatkan hostel yang murah karena pembaginya menjadi lebih banyak. Walaupun ongkos bis ELF nya menjadi dua kali lipat (50.000) dari harga normalnya (25.000), tapi kami bisa mendapat pengalaman bersama teman baru kami itu. Bukankah pengalaman lebih mahal dari sekedar 25.000? Terbayarkan sudah.

Perjalanan dari stasiun Probolinggo ke Desa Cemorolawang memakan waktu sekitar satu setengah jam dengan perjalanan yang berkelok-kelok dan menanjak. Jika tidak kuat mabuk perjalanan, sebaiknya minum obat anti-mabuk dulu sebelum menuju ke Desa Cemorolawang. Akhirnya, sampai juga di Desa Cemorolawang sekitar pukul 19.30. Lalu, rombongan kami dibantu untuk mencari penginapan yang murah. Setelah bertanya-tanya dan menawar harga, akhirnya kami dapat harga sewa satu rumah (wisma) dengan harga 27.000 per orang per malam. Harga yang murah di tengah-tengah panorama keindahan Desa Cemorolawang.

Udara malam di Desa Cemorolawang tidak terlalu dingin, tapi air di kamar mandi terasa seperti air kulkas. Untuk menghangatkan suasana, kami mengobrol sana-sini, mulai dari bertanya asal-muasal hingga rencana menuju Panajakan. Akhirnya saya, Dida, dan Ivan (turis bule) saja yang bersepakat untuk jalan kaki menuju Pananjakan, sedangkan rombongan kami yang lain memilih menggunakan mobil hardtop dengan harga sewa sekitar 300.000 per mobil. Memang seorang backpacker harus berani berkorban “sedikit” dan yakinlah bahwa pengalaman yang didapat tidak akan biasa-biasa saja.

Setelah malam cukup larut, kami putuskan untuk beristirahat karena perjalanan kami besok─lebih tepat besok dini hari─cukup melelahkan dan membutuhkan energi serta stamina yang baik. Saya pasang alarm pukul 01.30 dan meminta untuk saling membangunkan satu sama lain. Kata orang, ke Bromo tidaklah lengkap jika tidak melihat matahari terbit (sunrise) dan melihat indahnya kawah Bromo berlatarkan gunung tertinggi di Pulau Jawa─Semeru. Oleh karena itu, kami merencanakan pukul 02.00 dinihari sudah berangkat dari penginapan menuju Pananjakan karena waktu tempuh perjalanan jika berjalan kaki sekitar dua setengah jam. Kami beristirahat malam itu untuk menjemput inspirasi esok hari.

Tips perjalanan menuju Bromo bagi backpacker

Bagi orang yang belum mengetahui rute menuju Bromo, pastilah bertanya-tanya, baik melalui teman yang sudah kesana maupun melalui internet. Akan tetapi, informasi yang didapat kadang simpang-siur dan sudah tidak update lagi karena sudah pada lupa atau mungkin tidak dicatat. Oleh karena itu, saya ingin berbagi sedikit mengenai rute perjalanan ke tempat wisata Bromo. Catatan ini saya buat bulan Agustus 2010.

  1. Mungkin banyak yang mendapat informasi bahwa untuk menuju ke Bromo bisa mulai dari Malang atau dari Probolinggo. Saya menyarankan mulai dari Probolinggo karena lebih dekat. Jika Anda bertolak dari Jogjakarta, naiklah kereta api jurusan Probolinggo dan berhenti di stasiun Probolinggo (harga tiket KA 26.000 rupiah)
  2. Usahakan sampai di Probolinggo tidak terlalu sore (maksimal pukul 15.00) karena semakin malam akan semakin susah kendaraan. Lalu naik angkot kuning menuju terminal Bayuangga Probolinggo.
  3. Dari terminal Bayuangga Probolinggo, kemudian naik angkot ELF tujuan Bromo dan usahakan juga beramai-ramai naik angkot ELF nya karena jika hanya mengantar satu atau dua orang dianggap bayar harga sewa dan lebih mahal. Harga normal 25.000 rupiah.
  4. Bawa perbekalan dari Probolinggo, seperti air minum, makanan, suplemen, dan perbekalan lainnya karena harga makanan di kawasan Bromo mahal dan tidak praktis. Lebih bagus lagi jika sudah kita persiapkan sebelumnya. Bagi yang ingin berjalan kaki menuju Pananjakan, sebaiknya bersama orang yang benar-benar mengetahui rutenya dan membawa banyak air minum, tapi jika ingin menggunakan mobil hardtop, carilah minimal 6 orang untuk menyewa mobilnya seharga 300.000 rupiah per mobil, jadi masing-masing membayar 50.000 rupiah.
  5. Sediakan baterai kamera cadangan. Konon, baterai pada suhu dingin akan lebih cepat habis dan itu terjadi pada saya. Alhamdulillah, punya backup kamera teman. Walaupun ada yang jual baterai di Pananjakan, tapi harganya mahal.
  6. Sediakan jaket tebal (usahakan semi anti-air), jika masih kurang tebal dirangkap saja karena suhu di kawasan Bromo sangat dingin bagi yang belum terbiasa. Lengkapi juga dengan kupluk, sarung tangan, kaos kaki, dan senter.
  7. Jika ingin mencari penginapan murah, usahakan mencari di daerah atas dan usahakan juga beramai-ramai. Bisa bertanya juga pada supir angkot ELF.

Sekian tips-tips amatir dari saya, mudah-mudahan membantu bagi para pencari inspirasi dari alam.

Pengeluaran hari keempat :

  1. Trans Jogja halte Prambanan – Yos Sudarso  : Rp.   3.000,00
  2. Makan nasi rames di depan stasiun : Rp.   7.500,00
  3. Tiket KA jurusan Jogjakarta – Probolinggo : Rp.  26.000,00
  4. Air mineral : Rp.  11.000,00
  5. Angkot “ELF” : Rp.  50.000,00
  6. Tempat penginapan (hostel)  : Rp.  27.000,00

TOTAL  : Rp. 124.500,00

@rizaldwiprayogo

19 thoughts on “Backpacking to Bromo : Kisah Menuju Desa Cemorolawang

  1. Pingback: Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

  2. indobrad

    wah menarik sekali membaca pengalamanmu ini. sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya temui sewaktu saya ke Bromo. Paling tidak saya mendapat gambaran bahwa harga-harga yang dulu pernah saya list tidak banyak berubah. Ongkos ELF yang dulu juga Rp 25,000.- sewaktu saya ke sana tahun 2008.

    Thanks utk sharingnya. Ditunggu postingan backpacking lainnya ya. Oh ya, salam kenal. Saya blogger dari Depok. Ditunggu kunjungan baliknya🙂

    Reply
  3. iwan solo

    rute dari bromo ke pananjakan 2,5 jam jalan kaki itu lewat mana…apa sama dng jalan yg biasa dilewati hartop atau ada jalan tembus lain yg lebih dekat?
    penginapan di pananjakan ada juga apa ndak?
    kami ada rencana kesana, rencananya sampai cemorolawang siang dan langsung jalan kaki ke pananjakan, istirahatnya di pananjakan.

    terimakasih

    Reply
  4. Rizal Dwi Prayogo Post author

    bagi yg akan berjalan kaki, sebaiknya ditemani oleh orng yang udh hapal treknya karena jalannya menembus hutan bukit, tidak sejalur dgn jalur hardtop. Jalurnya lebih ringkas. Sebaiknya coba tanyakan wisatawan lain disana yg berencana akan berjalan kaki juga lalu janjian.

    Jika dilihat dr Desa Cemorolawang, akan terlihat menara tinggi di puncak Pananjakan, ikuti saja arah itu.

    Di puncak pananjakan tdk ada penginapan. Penginapan berada di sekitar desa cemorolawang saja. Saran saya, jika ingin melihat sunrise, sebaiknya berangkat mendaki sekitar pukul 02.00 dinihari.

    Semoga membantu.

    Reply
  5. awi

    saya tunggu tadi tulisan tentang jalan kaki dari cemoro lawang ke penanjakan..eee sampai habis tulisan kok tidak ada??

    Anyway, terima kasih petunjuk perjalanan dari jogja ke cemoro lawang dengan biaya murah tersebut.

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Iya mba, kondisi penginapannya terbilang cukup, lumayan baik. Murah karena memang orangnya banyak, jd pembaginya jg banyak. Kamar mandi di dalam rumah (maksudnya di dalam rumah tp di luar kamar).

      Salam.

      Reply
  6. Dedy

    Wah,… saya jd ingat setahun yang lalu waktu perjalanan naik Sri TAnjung ke Probolinggo.. di kereta seharian tp benar2 menikmati.. ntar malam ane juga mo ke Probolinggo lg tp mencoba naik perjalanan darat (bus mila Sejahtera) apapun resikonya siap kuhadapi.. demi sebuah pengalaman… sama seperti ente….thanks ya

    Reply
  7. zuli

    oke teman teman semua saya mau ke bromo akhir juni ini klo teman teman minat ayok kita rame rame yuk saya ga ada teman nih…..

    Reply
  8. tamani

    kami empat srikandi siap menerjang kegersangan dan kedinginan bromo besok!! hehehe
    doakan kami ya semoga lancar dan selamat.
    makasih infonya berguna banget buat bekal kami.

    Reply
  9. widi

    wah, trims ya…. saya cari rute perjalanan kebromo dari yogya naik kereta ke purbolinggo, saya mau ke gua pindul juga

    Reply
  10. Windy

    Good job gan…… Kebetulan pengalaman agan di tahun 2010, skr harga2 sdh agak naik, tp masih terjangkau kq. Spt kereta skr sdh naik menjadi 80rb, elf 30rb, tiket bromo 30rb, penginapan 50rb. Sy rasa msh dalam batas wajar, krn harga2 juga pada naik. Kebetulan sy org probolinggo asli, rmh saya dkt terminal bayuangga probolinggo. Sy sarankan kl dr bromo jgn langsung pulang, coba ke air terjun madakaripura aja, tmpatnya lmyn dkt dari gunung bromo. Dijamin pemandangannya wooooow keren, tp usahakan jgn musim hujan, takut banjir dan longsor.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s