Backpacking to Bromo : Manisnya Hidup Terasa Setelah Lelah Berjuang

Catatan perjalanan hari kelima, 4 Agustus 2010
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Alarm di handphone saya berbunyi, saya lihat waktu menunjukkan pukul 01.30 sesuai rencana pembicaraan tadi malam. Saya bangun─Dida pun bangun─untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendakian ke Pananjakan─tempat favorit melihat sunrise. Saya mengisi perut walaupun “hanya” dengan 4 lembar roti dan madu sebagai sumber energi. Saya melihat teman-teman baru kami pun sudah terbangun, apalagi Ivan si bule backpacker itu, ia sudah tampak siap dengan stelan hiking-nya. Ya memang hanya kami bertiga saja yang memutuskan untuk berjalan kaki menuju Pananjakan, selain lebih murah (gratis), kami pun bisa sekalian berolahraga dan tentu pengalaman yang kami dapat tidak akan biasa-biasa saja.

Udara malam (dinihari) itu benar-benar menusuk persendian, saya sampai memakai baju dua lapis ditambah jaket tebal dua lapis juga. Tidak lupa memakai kupluk, sarung tangan, kaos kaki, dan membawa perbekalan di backpack (ransel). Kami akan berjalan selama kurang lebih dua setengah jam di kegelapan dan dinginnya malam. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan rombongan mahasiswa dari ITS─belakangan saya tahu bahwa mereka adalah mapala (mahasiswa pecinta alam) sejati. Memang, Ivan sudah janjian dengan mereka ketika bertemu di warung nasi tadi malam.

Malam itu benar-benar gelap, sedikit sekali penerangan di Desa Cemorolawang. Terlihat di depan kami─walaupun samar-samar─berdiri kokoh gunung yang tinggi. Gunung itulah yang akan kami daki untuk menuju ke Pananjakan. Khusus bagi pejalan kaki, itulah trek khusus untuk menuju ke Pananjakan dan jaraknya jauh lebih ringkas ketimbang menggunakan mobil yang harus memutar jauh. Konsekuensinya, harus siap stamina dan mental setangguh karang.

Udara dingin dinihari itu tidak begitu terasa karena badan kami mengeluarkan kalori. Jalan mendaki seakan tak ada ujungnya. Setibanya di pos 1, saya bisa melihat sedikit siluet dari kawah Bromo berlatarkan Gunung Semeru. Hanya satu kata yang pantas terucap : Subhanallah. Kami istirahat sejenak sambil menunggu rombongan yang tertinggal. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan pendakian. Makin lama, medannya makin curam dan sulit, sesekali saya terpeleset. Rasanya, jika tak terpeleset, belum merasakan pendakian.

Perjalanan masih jauh, kami baru saja menempuh setengah perjalanan dan waktu menunjukkan pukul 03.00 dinihari di handphone saya. Jika ingin sholat subuh di Pananjakan dan mengambil spot terbaik disana, kami harus bergegas, sebelum para wisatawan lain─yang menggunakan mobil hardtop─tiba duluan. Akhirnya, tibalah kami di pos 2, dari pos 2 ini semakin terlihat jelas kawah Bromo dan Semeru yang megah. Indah nian alam Indonesia ini, tapi seberapa banyakkah yang menyadarinya?

Sampai di pos 2, artinya tinggal beberapa menit lagi kami sampai di Pananjakan. Sebenarnya, dari pos 1 dan pos 2, kita sudah bisa melihat sunrise dan kawah Bromo berlatarkan Semeru. Namun, sensasinya berbeda, suasana dan keramaiannya pun berbeda karena kebanyakan wisatawan─domestik dan asing─menuju ke Pananjakan. Setelah melewati hutan yang gelap dan tanjakan yang berbatu, akhirnya kami sampai juga di jalan beraspal yang merupakan jalur bagi mobil hardtop. Terdengar gerungan mobil hardtop dari kejauhan seolah kepayahan mendaki jalan menanjak.

Sedikit demi sedikit, kumpulan mobil hardtop tadi mulai terlihat di puncak Pananjakan, ini berarti langkah kami semakin dekat untuk menyaksikan sunrise dari tempat terbaik. Setelah dua setengah jam berjalan, akhirnya kami sampai juga di puncak Pananjakan. Suasana sudah riuh oleh wisatawan─kebanyakan turis asing─dan mereka sudah menempati spot terbaiknya. Waktu menunjukkan pukul 04.30 di handphone saya, sebentar lagi waktu sholat subuh tiba. Kemudian saya dan Dida menuju ke tempat sholat, ternyata disana pun sudah mulai dipadati wisatawan─kebanyakan turis domestik. Waktu sholat subuh akhirnya tiba terlihat dari para jamaah yang sudah mulai mendirikan sholat.

Air di puncak Pananjakan terasa seperti air es, lebih dingin dari air kulkas di rumah saya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tayamum saja. Sejenak saya merenung, untuk mengambil wudhu saja jika kita merasa tidak kuat dengan dinginnya air, Islam membolehkan kita untuk bertayamum. Islam begitu memudahkan pemeluknya. Saya merenung lagi, jika untuk berwudhu saja Islam begitu memudahkan pemeluknya, bagaimana mungkin orang-orang musuh Islam itu menilai bahwa jilbab menyulitkan pemeluknya? Tolong katakan, jika menyingkirkan gangguan di jalan saja sudah termasuk iman, maka bagaimana mungkin Islam menjadi biang terorisme dan kekerasan di muka bumi ini? Seketika mata saya berkaca-kaca.

Setelah sholat, kami bergegas kembali ke puncak untuk mengambil spot terbaik. Namun, suasana puncak Pananjakan menjadi lebih ramai dan setiap orang sepertinya sudah menempati spot terbaiknya ditambah dengan penempatan posisi kamera untuk menangkap setiap momen indah. Saya pun mempersiapkan kamera saya, tapi saya kurang beruntung karena baterai kamera saya tiba-tiba habis. Awalnya, saya putuskan untuk membeli baterai disana, tapi niat itu saya urungkan karena harga baterai yang mahal bagi seorang backpacker. Ya sudah, saya minta berbagi saja dengan kamera Dida.

Momen yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba, matahari mulai mengintip dari ufuk timur. Seketika, mata-mata kamera mulai membidik tajam. Perlahan-lahan, kawah Bromo dan gagahnya Semeru mulai terlihat. Sekali lagi, hanya satu kata yang pantas terucap : subhanallah. Indah nian alam Indonesia ini, seberapa banyakkah yang menyadarinya? Mata kamera pun saya rasa tidak mampu merekam keindahan panorama ini, hanya mata ini yang mampu merekamnya. Sekali lagi, mata, merupakan nikmat yang besar bagi kita. Dari nikmat mata saja, kita sudah tak mampu melukiskan nikmat-nikmat Allah.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sunrise @Bromo

Pagi itu kami habiskan untuk memandang lekat-lekat keindahan Bromo dan mengabadikan gambar. Inspirasi ini begitu nyata. Ada semacam angin segar di mata dan pikiran ini yang sudah jenuh oleh rutinitas. Tak ingin saya beranjak dari sini. Namun, kami harus turun menyusuri lagi hutan-hutan untuk kembali ke Desa Cemorolawang. Kami─saya, Dida, dan Ivan─kembali turun bersama mahasiswa mapala ITS tadi. Perjalanan turun kami nikmati dengan santai, sesekali kami mengambil gambar di pos 1 dan pos 2 tadi. Tetap terasa keindahannya. Terlihat mobil-mobil hardtop yang kecil bak semut dari atas pos 1 ini. Sekali lagi, indah nian alam Indonesia ini tapi seberapa banyakkah yang menyadarinya?

Badan ini mulai terasa pegal-pegal dan saya mulai mengeluh. Namun, saya merasa kerdil ketika melihat ibu-ibu tua yang dengan kokohnya memikul berkarung-karung rumput untuk dibawa ke desa. Sejenak, saya jadi malu untuk mengeluh. Kami lanjutkan lagi perjalanan, kali ini tanpa Ivan karena ia harus bergegas karena ingin melihat kawah Bromo dari dekat. Itulah jiwa seorang backpacker sejati, berani berlelah-lelah dan totalitas untuk mendapatkan momen-momen terbaik. Nilai-nilai itulah yang saya pelajari dari Ivan sang backpacker sejati.

Ivan sang backpacker sejati

Bersama kawan-kawan mapala ITS

Menatap Bromo berlatarkan Puncak Mahameru

Setelah menapaki jejak-jejak perjalanan dan melihat kembali ke belakang, ternyata jalan yang kami tempuh memang bukan jalan yang biasa-biasa saja. Banyak sekali tanjakan dan terlihat puncak Pananjakan begitu tinggi dari bawah bukit. Sudah sejauh itu kami berjalan, ternyata jika ada keinginan dan tekad yang kuat, setiap orang pasti bisa mencapai apa yang dicita-citakannya. Dari sinilah saya belajar bahwa betapapun lelahnya kita melewati tanjakan yang terjal dan berbatu, tapi begitu kita telah sampai di puncak, kita akan disuguhi oleh panorama yang indah dan bangga dengan perjuangan yang telah kita lakukan. Jika diterapkan dalam filosofi hidup : manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Sejauh ini kami berjalan,

4 thoughts on “Backpacking to Bromo : Manisnya Hidup Terasa Setelah Lelah Berjuang

  1. Pingback: Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

  2. Pingback: #4 Ramadan Terindah di Gunung Fuji « .rizaldwiprayogo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s