Backpacking to Jogja : Jogja Never Ending Asia

Catatan pelajaran
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Begitu tiba di Jogjakarta, saya begitu terkagum-kagum dengan suasana kotanya yang bersih. Nuansa tradisional begitu kentara disana. Becak-becak tanpa atap hilir-mudik menawarkan jasanya, arsitektur bangunan yang kental dengan nuansa Belanda, dan juga apiknya tata kota yang mencirikan Jogja sebagai kota budaya. Sejauh mata memandang, tidak nampak oleh saya bangunan-bangunan pencakar langit layaknya bangunan megah di kota Metropolitan. Mungkin, tinggi bangunannya hanya sebatas 4 tingkat saja. Nuansa bangunannya terasa masih alami, hanya sepoles-dua poles modifikasi.

Sepanjang jalan, saya benar-benar disuguhi dengan nuansa perkotaan yang beda. Lalu lintas yang tertata apik dan jalanan yang begitu mulusnya seolah sepanjang jalanan adalah track balap. Tidak saya jumpai jalanan yang macet─kecuali malam Minggu di sepanjang Malioboro─apalagi jalanan yang berlubang, sepertinya jalan berlubang tidak ada dalam kamus kota Jogja, tapi (masih) ada dalam kamus kota Bandung.

Rasanya, belum dikatakan pernah ke Jogja jika belum berkunjung ke Malioboro, begitu sugesti orang-orang. Malioboro seolah telah menjadi sinonim dari Jogja itu sendiri─Jogja = Malioboro. Malioboro kini tidaklah seperti Malioboro dulu, konon katanya para seniman Jogja selalu mencari dan mendapat inspirasi dari seputaran Malioboro. Namun, kini Malioboro tak ubahnya seperti pusat perbelanjaan dan korban dari angkuhnya modernisasi dan globalisasi.

Terlepas dari itu, Malioboro tetaplah menjadi icon dari Jogja itu sendiri. Malioboro telah menjadi media pemberdayaan masyarakat Jogja. Malioboro telah membuka urat nadi pergerakan ekonomi masyarakat. Malioboro telah membuat para tukang becak senang, tukang sewa penginapan senang, tukang makanan angkringan senang, bahkan pemerintah pun rasanya senang. Namun, jika terus dieksploitasi tanpa memperhitungkan akibatnya, keberkahan itu akan berubah menjadi bumerang

Tidak hanya suguhan nuansa kotanya saja yang memberi saya inspirasi. Makanan dan cara mereka menyajikan makanan pun telah membuat saya tertarik. Angkringan, begitulah masyarakat Jogja menyebutnya. Sajian makanan khas Jogja yang lebih nikmat disantap dalam suasana merakyat. Makan makanan khas Jogja sembari lesehan atau duduk di kursi ala mang bakso dan menikmati udara malam Jogja yang hangat. Bukan itu saja, ternyata harga makanan yang ditawarkan pun membuat saya terheran-heran, murah sekali! Rasanya, anak kost ataupun mahasiswa akan senang mendapat kabar ini.

Selain itu, lagi-lagi Jogja menawarkan pesonanya. Trans Jogja, itulah moda transportasi yang menjadi kebanggaan masyarakat Jogja. Trans Jogja, si solusi transportasi perkotaan. Moda transportasi yang benar-benar sesuai dengan slogannya : Aman, nyaman, dan terjangkau. Saya benar-benar merasakan sendiri slogan itu. Suasana bis yang ber-AC, dilengkapi dengan kursi malasnya, ada juga kelas berdiri─bagi yang tidak mendapat duduk, dan yang pasti harganya terjangkau─3.000 perak untuk jarak jauh-dekat. Lagi-lagi, rasanya para anak kost dan mahasiswa akan senang mendapat kabar ini.

Naluri bersepeda saya pun terbit setelah melihat jalur jalan khusus sepeda. Cat khusus bergambar sepeda di bahu jalan seolah telah resmi “menerima” kalangan pesepeda di jalan raya. Selain itu, rasanya para pesepeda di Jogja ini tidak perlu takut dan was-was akan diserempet oleh angkot. Mengapa? Karena angkot tidak ada dalam sejarah perkembangan kota Jogja. Jadi tidak ada angkot di Jogja? Ya, benar. Yang ada hanyalah Trans Jogja─juga becak dan ojek─untuk moda transportasi dalam kota, dan bis untuk moda transportasi antar kota. Entah apakah ketiadaan angkot ini merupakan berita bahagia atau berita sedih. Namun, saya merasa senang saat itu.

Walaupun hanya 3 hari saja saya berada di Jogja, tapi saya benar-benar merasakan jerat pesonanya. Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk pindah ke Jogja (maaf, Bandung, bukan maksud saya untuk mengkhianatimu), tapi perasaan itu benar-benar saya rasakan. Entah alasan apa yang bisa “memaksa” saya untuk pindah ke Jogja. Alasan meneruskan akademik? Rasanya sebuah Institut di Bandung lebih baik. Alasan berlibur? Itu sudah pasti. Atau mungkin alasan karena mengikuti “keluarga baru” sehingga saya harus pindah? Itu urusan Allah, saya terlalu bodoh untuk menebak-nebak.

Perjalanan 3 hari di Jogja telah memberi saya suatu angin segar. Saya perlu berterimakasih atas keramahan masyarakat Jogja, atas kesantunannya dalam menghormati tamu, juga atas kemurahan hati dan kemurah-meriahan harganya. Saya merasa bahwa biaya hidup di Jogja ini rendah, nggak neko-neko. Lagi-lagi, rasanya anak kost dan mahasiswa akan senang mendapat kabar ini. Jogja yang katanya kota pelajar itu akan tetap saya rindukan. Rindu untuk kembali menikmati pesonanya. Jogja Never Ending Asia!

4 thoughts on “Backpacking to Jogja : Jogja Never Ending Asia

  1. Pingback: Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

  2. Pingback: Wisatapedia Indonesia » Pulang ke Kotamu … Pasti Mampir ke Malioboro, Yogyakarta …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s