Backpacking to Jogja : Kedatanganku di Kota Budaya Jogjakarta

Catatan perjalanan hari pertama, 31 Juli 2010
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Dalam waktu seminggu, saya dan Dida melakukan perjalanan ke berbagai kota dan objek wisata dengan berusaha semaksimal mungkin menekan biaya dalam perjalanan, atau yang lebih kita kenal dengan istilah wisata ala backpacker. Perjalanan ini bukanlah sembarang perjalanan, bukan sekedar perjalanan melepaskan penat, tetapi juga sebagai bentuk perwujudan dari nasihat Imam Syafii─tentang merantau ke tempat-tempat yang jauh untuk menjemput dan menebar inspirasi.

Kami memulai perjalanan pada hari Sabtu pagi tanggal 31 Juli 2010 dengan menggunakan kereta api ekonomi seharga 24.000 rupiah──orang-orang menyebutnya dengan kereta sekolah rakyat. Berangkat dari Bandung pukul 06.15 terlambat 5 menit dari jadwal yang seharusnya. Ah, kesan saya pada kereta api ekonomi sudah buruk disini. Seperti yang sudah saya rencanankan sebelumnya, kali ini, buku yang saya bawa sebagai teman perjalanan adalah buku karya Andrea Hirata terbaru yang berjudul Dwilogi Padang Bulan.

Sebenarnya, banyak cerita dari kereta api kelas ekonomi ini, tapi biarlah itu menjadi kesan tersendiri bagi saya. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 11 jam, lagi-lagi harus terlambat satu setengah jam dari jadwal yang seharusnya. Otomatis, rencana perjalanan yang sudah kami rancang matang-matang harus kami padatkan dalam waktu yang singkat itu, tapi Alhamdulillah tidak mengurangi rencana kunjungan.

Sore itu, setelah bergelut dengan panasnya suasana kereta api ekonomi, tibalah kami di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Akhirnya, kami bisa menghirup udara segar juga setelah lelah berjibaku berebut udara segar di dalam kereta dengan penumpang lain. Sore itu amat menyegarkan bagi kami, dengan cahaya matahari yang mengintip-ngintip dan angin yang tidak malu menunjukkan dirinya. Tempat yang pertama kami tuju adalah mushola stasiun untuk mendirikan sholat dzuhur dan ashar sekaligus─jamak qoshor─dan beristirahat sejenak.

Tiba di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta

Sore itu sudah pukul 17.30. Begitu keluar dari stasiun, begitu riuhnya para tukang becak menawarkan jasanya. Kontan saja saya tolak halus-halus, namanya juga backpacker, tidak ada anggaran untuk itu. Tempat yang kami tuju adalah halte trans Jogja─perlu diketahui, tidak ada angkot disini. Memang, jarak antara stasiun dan halte cukup jauh, ya, itulah “sedikit” pengorbanan jika kita benar-benar ingin mewujudkan tata lalu-lintas yang baik dan lancar.

Tidak perlu merogoh saku dalam-dalam untuk membayar ongkos Trans Jogja ini, cukup 3.000 perak saja, kita sudah bisa diantar ke tempat-tempat strategis dalam kota. Dan asyiknya, kami diajak berkeliling kota dulu sebelum tiba di tujuan. Tempat tujuan berikutnya adalah Masjid Keraton untuk mendirikan sholat maghrib dan isya sekaligus dan sekedar bersih-bersih badan. Memang, sulit untuk mencari yang gratis-an di era CAFTA ini, bahkan untuk toilet pun kami harus membayar 2.000 perak, tapi tak apalah, hitung-hitung saling memberdayakan masyarakat.

Setelah mendirikan sholat maghrib dan isya sekaligus, ada seorang Bapak mendekati kami dengan ramah. “Mau naik gunung mas?” begitu katanya, mungkin karena melihat ransel kami, terlebih lagi setelah melihat ransel saya yang biasa digunakan untuk naik gunung. Setelah berkenalan, beliau bernama Helmi, ya Pak Helmi. Kami sempat mengobrol seputar kota Jogja ini, mulai dari makanan murah, tempat penginapan, sampai budaya masyarakat Jogja. Akhirnya, kami diantarkan menuju tempat makanan murah─mungkin lebih dikenal dengan angkringan.

Kami beruntung tiba di Jogjakarta bertepatan dengan malam Minggu karena suasana Jogja pada malam itu benar-benar ramai. Begitu keluar dari komplek masjid Keraton, kami melihat begitu banyak anak-anak muda bergaya punk tanggung di komplek Alun-Alun Keraton─belakangan saya ketahui, ada konser Band Superman is Dead di sekitar Alun-Alun Keraton. Lalu, kami melanjutkan jalan-jalan ke tempat yang kata orang belum pernah ke Jogjakarta sebelum mengunjungi tempat ini : Malioboro.

Lagi-lagi, kami merasa beruntung karena suasana Malioboro pada malam Minggu benar-benar hidup. Mulai dari orangtua dan keluarga, para turis asing, pendatang dari berbagai daerah, hingga remaja tanggung pun ada disitu. Kami ditunjukkan tempat makan yang murah oleh Pak Helmi tadi, kami makan di depan Pasar Sore Malioboro. Nikmat sekali makan malam dengan suasana malam yang begitu hidup, apalagi ditambah dengan harga makanan yang sangat cocok untuk seorang backpacker. Satu bungkus nasi rames seharga 2.000 rupiah (total harga makanan 4.000 rupiah karena saya mengambil dua bungkus), es teh manis seharga 2.000 rupiah dan gorengan seharga 500 rupiah (saya mengambil dua). Jadi, pengeluaran saya untuk makan malam itu adalah 7.000 rupiah.

Lanjut! Kami melihat ada keramaian di komplek Monumen Sebelas Maret yang tidak jauh dari tempat kami makan. Ternyata ada hiburan malam disitu. Setelah beres mengambil gambar gedung Bank Indonesia dan Kantor Pos Besar di ujung jalan Malioboro, kami lanjutkan dengan menonton acara hiburan malam di komplek Monumen Sebelas Maret itu (Monumen Sebelas Maret tepat berada di depan bekas Istana Presiden sewaktu Ibukota Negara berada di Jogjakarta). Suasana di komplek Monumen benar-benar heterogen, tidak hanya kalangan remaja tanggung saja, tapi juga ada kalangan senior─jika tidak mau disebut tua─dan para turis asing. Malam yang inspiratif sekali, benar-benar memberikan suasana yang berbeda bagi pikiran saya. Malam yang bisa memberikan kesegaran baru bagi pikiran dan jiwa (mind and soul).

Suasana malam Malioboro

Cukup sudah nongkrong di komplek monumennya, kami lanjutkan jalan-jalan untuk mencari penginapan sambil menyusuri keramaian jalan Malioboro pada malam hari. Sejenak saya membayangkan Bandung. Jika saya kaitkan dengan Bandung, suasana jalan pada malam itu persis seperti di jalan Ahmad Yani (Kosambi) Bandung─karena banyak PKL di kanan-kiri jalan, tetapi keramaiannya bak jalan Dago. Jadi, kombinasi antara jalan Kosambi dan jalan Dago. Ah, tapi Malioboro memiliki kesan tersendiri.

Kami beristirahat sejenak di dudukan di bawah lampu taman kota pinggir jalan. Sejenak mengamati hiruk-pikuknya masyarakat Jogja dan tentu juga para pendatang. Sekali lagi, malam ini masih merupakan malam yang inspiratif! Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 di layar handphone saya. Ah, jam segini belum mendapat tempat penginapan! Ya, itulah tantangan yang harus dinikmati oleh seorang backpacker : Harus berani menghadapi segala ketidakpastian kondisi. Dengan begitu, mentalitas kita akan terlatih untuk menjadi manusia yang mandiri dan tidak terus menggantungkan diri pada orang lain. Satu lagi yang penting, menjadi seorang backpacker berarti juga melatih manajemen kepasrahan kita kepada Allah.

Memang tidak ada yang kebetulan, selagi kami bingung, handphone saya bergetar tanda SMS masuk.  Saya baca, “Kang, udah dapet tempat penginapan belum?” SMS dari Terong─nama panggilan untuk teman saya itu─yang secara tidak kebetulan juga sempat berpapasan di komplek Monumen tadi. Lalu, dia menyarankan kami untuk mencari penginapan di daerah jalan Sosrowijayan─tempat ini merupakan pusatnya para backpacker di Jogja. Memang, malam itu sangat ramai, jadi penginapan di daerah Sosrowijayan pun sudah habis di-booking. Harga paling rendah sekitar 50.000 rupiah per kamar per malam. Lalu, kami lanjutkan mencari penginapan di daerah Sosrowinayan─masih dekat dengan Sosrowijayan yang sama-sama di daerah Malioboro. Alhamdulillah, akhirnya kami dapat penginapan yang jauh lebih murah, seharga 40.000 rupiah per kamar per malam. Kami ambil saja tempat penginapan itu, jadi masing-masing orang mengeluarkan uang 20.000 rupiah saja. Harga yang murah untuk tempat tidur, kamar mandi, keramahan, dan keramaian sekitar Malioboro. Malam ini harus istirahat yang cukup karena besoknya masih harus disambung lagi dengan petualangan menjemput dan menebar inspirasi, tentunya dengan objek wisata yang berbeda.

Daerah tempat saya menginap

Daerah tempat saya menginap

Pengeluaran hari pertama :

  1. Tiket KA Bandung (Kiaracondong) – Jogjakarta (Lempuyangan) : Rp. 24.000,00
  2. Trans Jogja Halte Yos Sudarso – Halte Malioboro : Rp.   3.000,00
  3. Toilet : Rp.   2.000,00
  4. Makan malam + minum di angkringan Malioboro : Rp.   7.000,00
  5. Tempat penginapan (Hostel)  : Rp. 20.000,00

Total : Rp. 56.000,00

11 thoughts on “Backpacking to Jogja : Kedatanganku di Kota Budaya Jogjakarta

  1. Pingback: Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

  2. The Traveler Librarian

    Sayang kalo ga sempet mampir ke Malioboro LIBRARY. Selain kita menikmati suasana kota Jogja, bila kita berkunjung ke library ini, kita akan diajak berwisata pengetahuan mengenai segala hal tentang Jogja, mulai dari sejarah berdiri, masa penjajahan sampai kondisi terkini. Ketika saya berkunjung kesana, walaupun sudah larut, saya sangat beruntung bertemu dengan pengelolanya. Disana saya diajak berkeliling melihat-lihat fasilitas yang ada dan berdiskusi segala hal tentang politik, hukum, budaya, dan lain-lain.

    Salah satu topik yang kita bahas adalah mengenai perang bubat, kita berdiskusi mengenai pandangan seputar perang bubat, dari perspektif Sunda dan Jawa, menarik sekali sampai-sampai waktu yang semakin larut pun tak disadari.

    Sepertinya komentar saya takkan cukup untuk diungkapkan disini.

    Ka Jogja deui, Yuk!

    Reply
  3. The Traveler Librarian

    Sayang kalo ga sempet mampir ke Malioboro LIBRARY. Selain kita menikmati suasana kota Jogja, bila kita berkunjung ke library ini, kita akan diajak berwisata pengetahuan mengenai segala hal tentang Jogja, mulai dari sejarah berdiri, masa penjajahan sampai kondisi terkini. Ketika saya berkunjung kesana, walaupun sudah larut, saya sangat beruntung bertemu dengan pengelolanya. Disana saya diajak berkeliling melihat-lihat fasilitas yang ada dan berdiskusi segala hal tentang politik, hukum, budaya, dan lain-lain.

    Salah satu topik yang kita bahas adalah mengenai perang bubat, kita berdiskusi mengenai pandangan seputar perang bubat, dari perspektif Sunda dan Jawa, menarik sekali sampai-sampai waktu yang semakin larut pun tak disadari.

    Sepertinya komentar saya takkan cukup untuk diungkapkan disini.

    Ka Jogja deui, Yuk!

    http://informasiplease.blogspot.com

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Salam kenal mas/mbak librarian🙂
      Iya, sebenernya sy jg masih kangen dgn nuansa Jogja, ingin rasanya berkeliling disana. Tp waktu yg begitu mepet bg kami, soalnya kami udh menjdwal dgn rinci.

      Mudah2an lain waktu ada kesempatan, krn bener2 sy masih kangen Jogja.

      Salam

      Reply
  4. indee

    Wahh,,,akhir september nih mo kesana. mencoba backpacker senderian, meskipun aku cewek.
    Kangen Jogja euy

    Salam kenal dariku🙂

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Sy ga punya no kontak nya mas ilham, tp coba aja cari di daerah Sosrowijayan, Sosrowinayan, di situ emang spesialisnya penginapan bagi backpacker..

      Semoga perjalanannnya menyenangkan dan bisa berbagi cerita yg didapatkan.

      Salam.

      Reply
  5. phyt@

    seep bnr tuh…., pas kemaren k jogja dg tmn2 pd khabisan pnginepan, hunting di daerah sosrokusuman lmyan dpt tmpt nginep yg super murah, bersih,nyaman… slm kenal phyt@

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s