Backpacking to Jogja : Mengagumi Kemegahan Merapi, UGM, dan Prambanan

Catatan perjalanan hari ketiga, 2 Agustus 2010
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Rencana ke Kaliurang yang seharusnya kami bereskan pada hari kedua, ternyata harus kami susun kembali rencananya. Mengingat hari kemarin yang kekurangan informasi mengenai waktu buka dan tutupnya objek wisata juga ditambah dengan sarana transportasi yang ada. Tapi, tak apalah. Anggap saja latihan mencari solusi dalam keadaan terdesak. Kini, yang harus kami lakukan adalah mengubah susunan acara dan bergerak (lebih) gesit lagi.

Setelah beres sholat subuh, kami lalu packing kembali barang-barang kami karena akan langsung menuju UGM setelah beres dari Kaliurang ini. Sekedar info, mungkin pada waktu kunjungan kami ke Kaliurang bukan merupakan waktu kunjungan bagi wisatawan. Terlihat pada begitu banyaknya hostel yang kosong─tidak seperti di Malioboro yang sepertinya penuh terus. Hostel yang kosong seolah disediakan untuk kami saja. Kami anggap seperti di rumah sendiri, begitu kata orang-orang untuk membuat tamunya tidak merasa canggung.

Pagi kala itu memang sangat sejuk, udara pegunungan yang bersemilir halus tak henti-hentinya mengelus-ngelus rambut saya, ditambah dengan kehangatan mentari yang seolah mengintip di balik pegunungan Merapi. Kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu untuk mengisi energi. Konon, katanya dalam kondisi udara dingin, kita akan cepat merasa lapar ketimbang dalam kondisi udara panas. Tapi yang pasti, kita akan lebih cepat merasa haus pada kondisi udara panas. Alangkah adilnya alam ini dalam memperlakukan penghuninya, tapi penghuninya saja yang (kadang) tidak berlaku adil pada alam.

Setelah mengisi perut dengan soto ayam hangat, badan ini sudah siap untuk menjelajah inspirasi lagi. Dengan membayar tiket masuk seharga 2.000 rupiah, kami disuguhi oleh hutan pegunungan Merapi yang sejuk ditambah dengan suara alam yang begitu syahdu. Kami susuri jalan setapak demi setapak yang menanjak, terlihat matahari mengintip dari balik pepohonan. Momen indah ini tidak pantas untuk dilewatkan, saya tidak segan-segan untuk mengeluarkan kamera dan mengabadikan gambarnya.

Taman Nasional Gunung Merapi

Tidak hanya pepohonan saja yang menghiasi perjalanan kami, tapi juga ada sekelompok kera yang bergelantungan di pepohonan sembari mengatakan bahasa yang tidak kami mengerti. Tapi sayang,  keindahan alam yang kami nikmati sepanjang perjalanan menanjak, harus tercoreng oleh hasil perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan vandalisme, kreativitas, grafity, dan rasa ingin eksis dengan mencoret-coret fasilitas umum. Oh, alangkah lucunya negeri ini.

Antara vandalisme, kreativitas, dan grafiti

Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, rasa lelah berjalan menanjak terbayarkan oleh panorama gunung Merapi yang gagah. Sampailah kami di menara paling tinggi di hutan itu. Kami berhenti sebentar di menara itu sambil mengabadikan gambar Merapi dari kejauhan. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan kemegahan Merapi : Subhanallah. Rasa-rasanya, kamera pun tidak bisa menangkap kemegahan itu, hanya mata ini saja yang bisa menangkapnya. Mata, suatu karunia yang besar dari Allah untuk kita.

Pos menara pengawasan Merapi

Setelah puas membenamkan keindahan panorama ke dalam memori, kami lanjutkan menyusuri bukit untuk menuju air terjun kecil─di tanah Sunda lebih dikenal dengan Curug. Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami mendengar suara gemericik air, otomatis kami mengikuti sumber suara tadi. Lagi-lagi, mata kami dimanjakan dengan keindahan alam pegunungan. Airnya jernih, bahkan batu-batu di dalamnya pun sampai terlihat dengan jelas.

Setelah dirasa cukup menikmati panorama Kaliurang, kami lanjutkan perjalanan menuju UGM, sesuai dengan juklak kami yang telah diubah waktunya. Kami naik angkot ELF dari Kaliurang menuju halte Trans Jogja Kentungan. Lagi-lagi, kami se-angkot dengan turis bule, tapi bule itu tidak mengajak saya ngobrol, seolah mereka tahu kemampuan bahasa Inggris saya tidak bagus. Namun, ada satu hal yang menarik, para sopir angkot ELF itu seolah sudah memiliki template tersendiri jika harus berbicara pada turis : tentang bagaimana bertanya mau kemana; tentang menjawab ongkosnya berapa; tentang bagaimana menunjukkan arah. Unik sekali.

Sesampainya di Kentungan, kami langsung menuju halte Trans Jogja dan membayar ongkos 3.000 rupiah untuk jarak jauh ataupun dekat. Sesaat kemudian, bis Trans Jogja datang. Ada hal menarik lagi yang saya rasakan pada moda transportasi ini : manajamennya benar-benar bagus. Penjaga haltenya pun ramah-ramah dan tidak segan-segan menunjukkan alamat yang akan kami tuju. Penumpang yang akan turun benar-benar didahulukan dari penumpang yang akan naik. Benar-benar nyaman, aman, dan pastinya terjangkau.

Nyamannya suasana di dalam Trans Jogja membuat saya tidak mau beranjak pergi, tapi UGM sudah dekat, ya apa boleh buat, saya harus beranjak juga. Begitu sampai di gerbang depan UGM, saya takjub karena luasnya yang melebihi kampusku, ITB. Dari gerbang depan, terlihat bangunan bergaya arsitektur Joglo yang seolah mengidentitaskan dirinya sebagai bangunan yang berada di Jawa Tengah. Lalu, kami berjalan menyusuri dalam kampusnya menuju masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar sekaligus. Alangkah luasnya UGM ini, dari gerbang depan hingga masjid kampusnya saja ibarat berjalan dari gerbang depan kampus ITB sampai ke gerbang belakangnya langsung. Lalu, sampailah kami di Masjid Kampus UGM.

UGM

Masjid Kampus UGM

Setelah menunaikan sholat, kami beristirahat sejenak untuk mengisi energi jiwa sambil menikmati sejuknya suasana masjid pada siang yang terik itu. Setelah dirasa cukup, untuk mengisi energi fisik, kami lalu menuju Koperasi Mahasiswa UGM atau yang lebih dikenal dengan KOPMA UGM. Suasana kemahasiswaan begitu terasa disitu, selain karena banyak mahasiswa, harga-harganya juga harga mahasiswa. Kami juga membeli perbekalan di KOPMA untuk melanjutkan petualangan.

Kantin KOPMA UGM

Kaliurang sudah, UGM sudah, rencana selanjutnya pada hari ketiga ini adalah Candi Prambanan. Kami lalu menuju Halte Trans Jogja KOPMA UGM dan menyiapkan uang 3.000 rupiah menuju Prambanan. Kami transit di Halte berikutnya. Setelah menunggu lama karena bis Trans Jogja pada sore hari selalu penuh oleh anak sekolah, kami putuskan naik bis kota saja menuju Prambanan. Lagi-lagi, di luar Rencana Anggaran Belanja Backpacking-an (RABB), ini artinya kami harus menekan anggaran pada sektor lain.

Akhirnya, sampai juga di Prambanan, kami berjalan sedikit menuju komplek dalam lalu membayar tiket masuk seharga 15.000 rupiah (harga hari biasa). Kemegahan Candi Prambanan sudah terlihat sejak pintu masuk. Lagi-lagi sebuah mahakarya anak manusia, tinggal menjadi pilihan bagi generasi generasi selanjutnya untuk tetap melestarikan warisan budaya bangsa ataukah akan mencampakkannya.

Candi Prambanan

Sebenarnya, saya sudah pernah ke Candi Prambanan sewaktu SMA, tetapi pada waktu itu rombongan tidak masuk ke komplek Candi, melainkan hanya di teater terbukanya saja menonton Sendratari Ramayana. Yang membuat saya takjub, kemegahan Candi Prambanan lebih terasa di malam hari ketika disorot oleh lampu berkekuatan tinggi.

Candi Prambanan merupakan candi Hindu dengan candi terbesarnya bernama Candi Roro Jongrang. Candi terbesar itu mengisahkan tentang Bandung Bondowoso yang jatuh cinta terhadap Roro Jongrang, tapi Roro Jongrang mensyaratkan kepada Bandung Bondowoso─sebelum menerima cintanya─untuk membuat seribu candi sebelum ayam berkokok. Namun, dengan tipu muslihat Roro Jongrang, ayam sudah berkokok sebelum waktunya dan ini membuat Bandung Bondowoso murka. Kemudian, jika Sangkuriang menendang perahunya kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu, lain halnya dengan Bandung Bondowoso yang mengutuk Roro Jongrang menjadi candi yang keseribu. Sama seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan pun pernah direkonstruksi karena rusak akibat gempa.

Alhamdulillah, tiga objek sudah didatangi. Kini waktunya mencari tempat sholat dan beristirahat. Di depan komplek Prambanan terdapat Masjid Raya Al-Muttaquun yang berdiri dengan megah dengan cat putih bersih. Mencari tempat sholat sudah, tinggal memastikan tempat untuk beristirahat untuk malam ini. Setelah bertanya dan mengobrol dengan pengurus masjidnya, kami diijinkan untuk menginap di areal masjid. Kami disediakan karpet dan ruangan untuk tidur, jadi tidak ada hambatan lagi untuk mencari tempat beristirahat. Alhamdulillah, kami merasa selalu mendapat kemudahan dalam perjalanan kami ini.

Pengeluaran hari ketiga :

  1. Makan nasi soto di Kaliurang : Rp.   5.000,00
  2. Tiket masuk Taman Nasional Kaliurang : Rp.   2.000,00
  3. Angkot “ELF” Kaliurang – Kentungan : Rp. 10.000,00
  4. Trans Jogja Halte Kentungan – UGM : Rp.   3.000,00
  5. Makan nasi soto di KOPMA UGM : Rp.   5.000,00
  6. Belanja bekal di KOPMA UGM : Rp.   6.500,00
  7. Trans Jogja Halte KOPMA UGM – Prambanan: Rp.   3.000,00
  8. Bis kota DAMRI : Rp.   5.000,00
  9. Tiket masuk Candi Prambanan : Rp. 15.000,00

TOTAL  : Rp. 54.500,00

4 thoughts on “Backpacking to Jogja : Mengagumi Kemegahan Merapi, UGM, dan Prambanan

  1. Pingback: Jejak Inspirasi dari Tanah Rantau « Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

  2. Pingback: Menengok Mahakarya Kebudayaan Hindu abad-10 di Candi Prambanan, Yogyakarta « Wisatapedia Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s