Backpacking to Jogja : Menilik Manajemen Transportasi Jogja

Catatan pelajaran
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Kehidupan kota besar hampir selalu diidentikkan dengan kemacetan, transportasi massal, dan tata kelola lalu lintasnya. Tidak heran jika kita merasa paranoid untuk berkunjung ke kota-kota besar. Selain karena faktor pemborosan di jalan raya, juga karena polusi yang diakibatkannya. Namun, saya merasa Jogjakarta berbeda dari kota-kota besar lainnya yang pernah saya kunjungi. Saya tidak merasakan kemacetan ketika berkeliling kota menggunakan moda transportasi umum.

Moda transportasi umum kian menjadi buah bibir untuk menjadi solusi kemacetan di kota-kota besar. Namun, tidak sembarang transportasi umum. Transportasi umum yang dimaksud adalah transportasi yang memenuhi syarat kelayakan : aman, nyaman, pelayanan baik, dan─tentunya─murah. Adalah Trans Jogja yang saya rasa memenuhi keempat syarat tadi. Trans Jogja kian menjadi moda transportasi favorit masyarakat Jogja.

Trans Jogja

Sebenarnya, moda transportasi Trans Jogja ini mengadopsi moda transportasi yang ada di Jakarta─busway. Namun, Indonesia sendiri mengadopsi moda transportasi umum yang ada di Bogota, Kolombia. Busway yang digagas oleh Sutiyoso dan Fauzi Bowo─Gubernur dan Wakil Gubernur pada saat itu─diharapkan mampu mengatasi masalah transportasi perkotaan. Namun, hingga tulisan ini dibuat, busway belum bisa menjadi solusi yang mencerahkan.

Bandung pun sempat menggagas moda transportasi umum ini, hanya saja namanya yang agak berbeda─Trans Metro Bandung. Namun, belum sempat dirasakan oleh sebagian masyarakat, keberadaan Trans Metro Bandung ini mendapat keluhan dan protes dari para sopir angkutan kota (angkot) karena alasan akan mengurangi jumlah penumpang pada angkutan umum biasa.

Ketika digagas moda transportasi baru─yang diharapkan akan menjadi solusi kemacetan, bukannya mendapat respon yang positif dari masyarakat, tapi malah menimbulkan gempuran kritik dan penolakan yang terus datang dari masyarakat. Bangsa kita berciri paternalis : jika sudah ada contoh, baru bisa menerima. Ketika itu masyarakat belum melihat pencerahan ketika busway diterapkan di Jakarta. Masalah manajemen transportasi ini menjadi begitu ruwet sehingga masyarakat kadang menjadi apatis dan mengalami krisis kepercayaan.

Susahnya lagi, (sebagian) masyarakat kita memiliki mental seorang loser. Tidak suka dengan perubahan. Enggan melakukan inovasi. Tidak ingin keluar dari zona nyamannya. Lihat saja para sopir angkot yang protes itu. Harusnya, ketika digagas moda transportasi umum baru─khususnya Trans Metro Bandung, mau tidak mau para sopir angkot harus meningkatkan daya saing dan pelayanannya, bukan malah memprotes. Memandang perubahan sebagai ancaman bukan tantangan, itu masalah besar. Digagasnya Trans Metro Bandung harusnya menjadi semacam alarm agar para sopir dan perusahaan angkutan kota bisa lebih bergegas meningkatkan pelayanannya masing-masing.

Jika saya merunut pada manajemen transportasi Jogja, saya bisa menarik satu benang merah mengapa masalah transportasi dan kemacetan terus mengalami jalan buntu. Benang merah itu adalah kemauan kita (masyarakat) untuk “sedikit” berkorban demi kemajuan dan menggapai solusi bersama. Lalu, dimana letak pengorbanan yang “sedikit” itu? Saya akan memaparkan sedikit contoh. Begini.

Trans Jogja itu memiliki halte di tempat-tempat yang telah ditentukan dan tempat-tempat itu berada di daerah yang strategis. Bagi masyarakat yang akan menggunakan Trans Jogja, harus menuju halte terdekat baik dengan berjalan maupun dengan cara lain. Di sinilah letak kemauan “sedikit” berkorban itu. Mau berjalan─atau dengan cara lain─menuju halte. Masyarakat tidak bisa sekehendak hatinya memberhentikan Trans Jogja selain di haltenya, Trans Jogja hanya berhenti di halte. Oleh karena itu, kemacetan akibat angkutan umum yang berhenti di sembarang tempat dapat dihindari. Kuncinya : mau “sedikit” berkorban. Bukankah untuk mencapai cita-cita memang harus ada yang dikorbankan? Yang menjadi pertanyaan besar adalah adakah kemauan dari setiap masyarakat (dan pemerintah) untuk mau “sedikit” berkorban untuk memecahkan masalah transportasi umum dan kemacetan?

Halte Trans Jogja

Selain itu, moda transportasi umum yang memenuhi syarat kelayakan─aman, nyaman, pelayanan baik, murah─ akan menarik minat masyarakat. Masyarakat akan beralih ke moda transportasi umum. Dengan begitu, volume kendaraan di jalanan bisa terus ditekan. Sekali lagi, kuncinya adalah adakah kemauan dari setiap masyarakat dan pemerintah untuk mau “sedikit” berkorban untuk memecahkan masalah transportasi umum dan kemacetan?

2 thoughts on “Backpacking to Jogja : Menilik Manajemen Transportasi Jogja

  1. Pingback: Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s