Backpacking to Jogja : Menjamah Borobudur dan Kaliurang

Catatan perjalanan hari kedua, 1 Agustus 2010
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Sisa-sisa keramaian Malioboro tadi malam benar-benar terasa pagi ini. Jalanan sangat lengang, mungkin karena orang-orang kecapekan setelah menikmati sajian malam tadi ditambah lagi dengan hari Minggu yang begitu memanjakan. Jika saja, pada pagi itu terjadi agresi militer mendadak, mungkin Jogja sudah diambil alih oleh musuh. Namun, yang membuat saya kagum, sisa-sisa keramaian tadi malam tidak begitu banyak menyisakan sampah. Jalanan Malioboro tetap bersih, udaranya tetap segar, ditambah lagi dengan kehangatan sapaan mentari. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang senior─jika tidak ingin disebut tua─sudah sibuk dengan gerakan senam Tai Chi nya. Mbok-mbok pedagang makanan sudah siap dengan bakulnya. Dan sebagian orang lainnya sudah siap menjemput keberkahan pagi hari.

Pagi itu kami nikmati dengan berjalan-jalan di sekitar Malioboro yang lengang sambil mencari sarapan. Kami menyusuri lekuk-lekuk Malioboro dan tidak ketinggalan mengabadikan gambarnya. Segar sekali pagi itu. Saya membayangkan bisa bersepeda di Jogja pada lain waktu, mudah-mudahan saja terwujud. Akhirnya, kami menemukan tempat makan yang pas, baik bagi lidah maupun bagi Rencana Anggaran Belanja Backpacking-an (RABB). Ke Jogja tanpa makan Gudeg asli buatan orang Jogja masih kurang rasanya─walaupun di Bandung juga banyak gudeg. Puaslah rasanya menukar 7.000 rupiah dengan nasi gudeg dan teh hangat pagi itu. Setelah puas menikmati sajian pagi, kami lanjutkan dengan berkemas untuk melanjutkan “petualangan”.

Sosrowijayan : pusatnya para backpacker di Jogja

Jogja adalah Malioboro dan Malioboro adalah Jogja

Pukul 08.00 kami sudah nongkrong di halte Trans Jogja Malioboro untuk bergegas ke terminal Jombor. Trans Jogja ini merupakan transportasi andalan masyarakat Jogja karena selain aman, nyaman, juga yang pasti harganya terjangkau─jauh dekat 3.000 rupiah. Saya jadi membayangkan lagi suatu ketika Bandung mengadopsi sistem manajemen transportasi dari Jogja. Suasana lalu lintas di Jogja begitu tertib, tidak ada angkot, untuk angkutan dalam kota sudah cukup dengan menggunakan Trans Jogja.

Di Trans Jogja, kami bertemu dengan bule yang sepertinya berasal dari Asia Timur. Saya tahu dari buku petunjuk wisatanya yang berbahasa Mandarin (huruf kanji), dia menanyakan Borobudur pada kami. Yah, dengan bahasa Inggris yang ngepas, saya jawab saja sekenanya. “You wanna go to Borobudur?” Setelah ia mengangguk, lalu saya susul dengan, “Ok, you can join with with us”, tak apalah, sekalian berlatih bahasa Inggris. Akhirnya, kami sampai juga di terminal Jombor untuk berganti bis dengan tujuan Borobudur. Sepertinya, para kernet di Indonesia ini sudah memiliki kamus tersendiri tentang rute tujuan angkutan mereka. Bayangkan saja, yang seharusnya diucapkan “Borobudur” berubah kata menjadi “Budur”, hal ini mengingatkan saya pada kernet di gerbang belakang kampus ITB yang mengucapkan “Cisitu” menjadi “Citu”. “Budur..budur…budur…”, “Citu…citu….citu..”. Hadoh.

Perjalanan ke Borobudur memakan waktu kurang lebih satu jam. Setelah sampai di terminal, lagi-lagi kami ditawari becak, andong, maupun ojek. Lagi-lagi harus kami tolak secara halus karena mereka─becak, andong, dan ojek─tidak ada dalam Rencana Anggaran Belanja Backpacking-an (RABB) kami. Berjalan adalah hal yang menyenangkan sekaligus gratis. Kemudian, setelah berjalan sekitar 10 menit, kami sampai di gerbang tiket. Untuk bisa masuk, melihat-lihat, dan berfoto di dalam komplek Borobudur harus kami tukar dengan uang seharga 17.500 rupiah. Jujur saja, saya baru pertama kali ini melihat Candi Borobudur. Setelah sekian lama penasaran dengan apa yang dikisahkan pada buku-buku sejarah dan diceritakan oleh guru-guru sejarah, akhirnya saya bisa melihat kemegahan Candi Borobudur dengan mata kepala saya sendiri. Sungguh suatu mahakarya anak manusia!

Mempelajari sejarah membuat kita bisa merenungkan kembali hakikat dari nilai-nilai perjuangan. Membuat kita makin menyadari bahwa Indonesia itu merupakan negeri yang benar-benar kaya akan budaya dan keragamannya. Maka, teramat bodoh jika kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, apalagi kita tidak mengetahuinya. Banyak sekali kisah yang diceritakan di Candi terbesar Umat Budha itu. Mulai dari cerita zaman kerajaan, makna pembuatan stupa, cerita di setiap reliefnya, hingga rekonstruksi Candi Borobudur yang pernah terkubur akibat amukan gunung merapi sekitar tahun 1000-an.

Siang itu memang terasa sangat terik sekali, tidak heran banyak yang menyewakan payung di dalam komplek Borobudur. Jika pepatah mengatakan, “Sedia payung sebelum hujan” maka saya berpendapat lain, “Sedia payung sebelum kepanasan di Borobudur.” Backpack (kantong) saya memang bak kantong milik Doraemon yang segalanya ada, tapi sepertinya hanya pintu kemana saja yang tidak ada dalam kantong saya, jadi anggaran untuk transportasi menjadi sangat penting.

Setelah puas─lebih tepatnya berpanas-panas─di Candi Borobudur, kami melewati pintu keluar yang sepertinya memang sengaja dirancang untuk mempertemukan antara pengunjung dan pedagang. Kami akhirnya luluh juga oleh tawaran manis seorang pedagang yang menawari nasi rames seharga 5.000 rupiah saja, mengingat perut juga sudah protes menuntut haknya. Es kelapa muda dingin menjadi penutup makan siang yang sekaligus kami paksa menjadi makan terakhir kami hari itu─karena makan pada siang itu di luar jadwal dan anggaran. Lalu, kami lanjutkan dengan sholat Dzuhur dan Ashar sekaligus─jamak qoshor.

Perut sudah terisi, energi sudah terpulihkan, sholat sudah, dan dahaga sudah terobati. Kini saatnya menuju objek selanjutnya : Kaliurang. Dari Borobudur kami kembali ke terminal Jombor, kemudian kami lanjutkan dengan Trans Jogja menuju halte Kentungan. Dari halte Kentungan, kami berjalan sedikit untuk menunggu angkot ELF─sebenarnya ELF ini merek truk, hanya saja sudah baku menjadi nama angkot─tujuan Kaliurang. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar satu jam, kami sampai juga di Kaliurang. Kali ini, kami benar-benar harus evaluasi karena kami sampai bertepatan dengan tutupnya objek wisata (pukul 16.00) ditambah lagi angkot ELF yang kami tumpangi tadi adalah angkot ELF terakhir. Prinsip backpacker : Harus siap dengan ketidakpastian kondisi. Dari prinsip itulah, kami mengubah rencana. Pada rencana awal, hari kedua ini akan diakhiri dengan kunjungan ke daerah Prambanan, tapi rencana kami ubah dengan mencari hostel. Tentunya hostel yang termurah.

Namun, “insiden” kecil di hari kedua ini tidak mengubah rencana besar backpacking-an kami, hanya sedikit menggeser waktunya saja. Artinya, rencana ke Prambanan harus dialihkan ke hari ketiga dan mau tidak mau, kami harus bergerak (lebih) gesit. Akhirnya, sisa waktu di hari kedua itu, kami putuskan untuk mencari hostel murah saja. Alhamdulillah, dapat! Malahan lebih murah dari hostel sewaktu kami menginap di daerah Malioboro. Cukup membayar 30.000 rupiah per kamar per malam. Dengan prinsip sepiring berdua, jadi 15.000 rupiah per orang. Sisa waktu yang ada saya pergunakan untuk membaca, menuliskan inspirasi, mengevaluasi hasil perjalanan hari kemarin, dan merencanakan segala sesuatunya untuk hari esok dan hari-hari selanjutnya sambil ditemani dengan teh manis hangat. Daerah Kaliurang ini seolah telah menghilangkan ingatan saya bahwa saya pernah merasakan kepanasan di komplek Candi Borobudur tadi siang. Oh, sejuknya.

Pengeluaran hari kedua :

  1. Makan nasi gudeg Malioboro : Rp.   7.000,00
  2. Trans Jogja Halte Malioboro – Halte Jombor : Rp.   3.000,00
  3. Bis jurusan Jombor – Borobudur : Rp.   8.000,00
  4. Air mineral (2) : Rp.   2.000,00
  5. Tiket masuk Borobudur : Rp. 17.500,00
  6. Makan nasi gudeg + es kelapa di Borobudur : Rp.   7.000,00
  7. Bis Jurusan Borobudur – Jombor : Rp.   7.000,00
  8. Trans Jogja Halte Jombor – Kentungan : Rp.   3.000,00
  9. Angkot “ELF” Kentungan – Kaliurang : Rp.   9.000,00
  10. Tempat penginapan (hostel)  : Rp. 15.000,00

TOTAL  : Rp. 78.500,00

5 thoughts on “Backpacking to Jogja : Menjamah Borobudur dan Kaliurang

  1. Pingback: Jejak Inspirasi dari Tanah Rantau « Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

  2. pai

    top markotop dah info nya, bisa diceritakan lagi pengalaman lain di yogya nya? mungkin cerita dari malioboro menuju kota gede pake kendaraan umum apaa? trus tempat makan yang murah tapi enak dimana saja tempatnyaa, nama tempatnya, dan di sebelah mananyaa… thx, balas yaaaa

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      cerita di Jogjanya sy buat menjadi 5 tulisan, baca sj tulisan yg diawali dgn Backpacking to Jogja. Sy tdk ke kota gede mas, jd sy tdk bs bercerita banyak. Mengenai tempat makan yg murah, sebenarnya Jogja merupakan kota yg murah biaya hidupnya. Cari saja di angkringan di sekitar Malioboro, atau dekat dgn stasiun Tugu ada Kopi Jos Pak Man yg melegenda.

      Smoga bermanfaat,

      salam.

      Reply
  3. Dyahsulis@gmail.com

    mas, Hostelnya alamatnya dimana, kok murah sekali, mau donk alamatnya yg di candi Prambanan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s