Backpacking to Surabaya : Menjemput Inspirasi Sepanjang Jalan

Catatan perjalanan hari keenam, 5 Agustus 2010
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Pagi ini kami terbangun untuk melanjutkan petualangan berikutnya di Surabaya. Lagi-lagi, kami mendapat kemudahan. Semalam, kami mendapat ijin dari petugas di komplek kantor Gubernur Jawa Timur untuk bermalam di masjid Baitul Hamdi─masjid di dalam komplek kantor Gubernur Jatim. Nuansa keramahan ala Jawa Timur kentara benar disana. Gaya bicara ala Jawa Timur-an khas sekali dengan bahasanya yang medok, terasa sekali penekanan di setiap kalimatnya. Sedangkan gaya bicara ala Jawa Barat, khas dengan bahasa yang mendayu-dayu, terasa sekali ayunan dalam setiap tutur katanya.

Masjid Baitul Hamdi di komplek kantor Gubernur Jatim

Kantor Gubernur Jatim

Kami beranjak dari komplek kantor Gubernur-an untuk berkeliling menjemput inspirasi di kota yang kental nuansa perjuangannya itu. Begitu keluar, kami melewati areal Tugu Pahlawan yang berada persis di depan kantor Gubernur─Jalan Pahlawan. Terasa sekali nuansa arsitektur Belanda pada bangunannya─arsitektur kantor Gubernur. Jalanan masih sepi pagi itu. Kantor Gubernur pun masih sepi saat itu. Namun, sebentar lagi, mungkin setiap orang keluar dari sarangnya untuk menjemput rezeki.

Tugu Pahlawan di depan kantor Gubernur Jatim (Jalan Pahlawan)

Setelah bertanya pada arek-arek Suroboyo perihal letak Hotel Majapahit─dulu bernama Hotel Yamato, kami pun langsung meluncur ke lokasi. Bukan untuk mencari penginapan, tapi ingin merenungkan kembali perjuangan para pahlawan kita dalam merebut kemerdekaan. Yang kami tuju adalah saksi bisu ketika terjadi insiden penyobekan bendera Belanda─merah putih biru─menjadi bendera Indonesia. Ketimbang menggunakan angkutan umum, kami putuskan untuk berjalan kaki saja, hitung-hitung sambil menikmati sajian pagi kota Metropolitan itu. Perjalanan memang jauh, tapi rasanya lelah ini terbayarkan oleh inspirasi yang didapat.

Puas rasanya ketika mata ini melihat secara langsung saksi bisu perjuangan kemerdekaan yang diceritakan di buku-buku sejarah. Hotel Majapahit─dulu Hotel Yamato─tepat berada di depan saya, tepat berada di Jalan Tunjungan. Mata kamera kubidikkan dengan saksama untuk mengabadikan nilai-nilai sejarah. Tanpa terasa, perut mulai menunjukkan tabiatnya, ia─perut─menuntut haknya lagi pagi itu. Berdasarkan informasi, kami penasaran dengan makanan yang direkomendasikan : nasi rawon setan. Namun, sepertinya kami ditantang untuk berkunjung lagi ke Surabaya lain waktu karena warung nasi rawon setan─makanan khas Surabaya─hanya buka pada malam hari, sedangkan kami harus pulang sore itu juga. Ah, tak apalah.

Hotel Majapahit (Yamato) sebagai saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia

Akhirnya, kami menemukan tempat makan yang masih merupakan menu andalan Surabaya : nasi soto ayam. Warung nasi soto ayam ini tidak jauh dari Hotel Majapahit dan berada persis di depan Plaza Tunjungan─konon merupakan mal terbesar se-Asia Tenggara. Nikmat sekali makan dengan nuansa kesederhanaan di depan keramaian kota dan kemegahan tempat perbelanjaan. Setelah melakukan hipotesis kecil-kecilan, saya menyimpulkan bahwa warung nasi soto Cak Pardi merupakan warung favorit sebagian masyarakat Surabaya. Walaupun tempatnya tidak luas, tapi pengunjungnya banyak. Malah rela sampai memarkirkan mobil mewahnya di pinggir jalan Embong Malang─nama jalan warung Cak Pardi.

Nasi soto ayam Cak Pardi di depan Plaza Tunjungan Surabaya

Setelah mereguk es teh manis sebagai minuman penutup, kami angkat kaki menuju objek selanjutnya. Matahari mulai terangkat naik setinggi waktu dhuha. Kami mulai terasa kepanasan. Namun, sekali lagi, rasa kepanasan itu terbayarkan oleh inspirasi yang saya dapat. Kami terus menyusuri trotoar di pinggir jalanan kota Metropolitan. Kesibukan kota besar mulai terasa. Setiap orang sibuk dengan urusan dan amanahnya masing-masing. Namun, kami tetap saja berjalan sampai jauh.

Objek berikutnya yang kami tuju adalah Toko Buku Gramedia Surabaya yang terkenal dengan arsitekturnya yang bergaya ala Eropa. Namun, bukan karena itu kami kesana, tentunya sebagai pecinta buku dan membaca rasanya kurang lengkap jika seharipun tidak diisi dengan kegiatan membaca. Membaca dimanapun, membaca kapanpun, membaca untuk menumbuhkan intelektualitas, yang menjadikan kita manusia pembelajar.

Tanpa terasa, palang besar bertuliskan Gramedia telah Nampak di depan mata. Hanya beberapa langkah lagi. Sesampainya disana, kami beristirahat sejenak sambil menunggu dibukanya pintu masuk secara resmi. Maklum, kedatangan kami terlalu cepat setengah jam dari jam bukanya. Tak apalah, hitung-hitung mengumpulkan kembali tenaga yang sempat tercecer.

Gramedia Surabaya : Petualangan intelektual

Akhirnya, pintu resmi dibuka. Kami masuk lalu disambut ramah seolah hanya kamilah yang mereka tunggu-tunggu, tapi kenyataannya tidak. Setelah menitipkan ransel super berat. Petualangan intelektual pun dimulai. Kami sengaja membunuh waktu disini sambil menunggu jadwal kereta tujuan Bandung yang berangkat pukul 16.30 sore itu. Tanpa terasa, berpuluh-puluh halaman buku telah kami resapi, telah beberapa judul buku kami bulak-balik, dan entah berapa buku yang menyedot perhatian kami. Lalu, kami harus angkat kaki dari Gramedia karena juklak backpacking-an telah memberikan alarm-nya. Kini waktunya menuju Stasiun Gubeng.

Berdasarkan peta kota Surabaya yang saya lihat di Gramedia tadi, arah menuju Stasiun Gubeng tidak terlalu jauh. Kami putuskan untuk berjalan kaki lagi. Dari arah Gramedia, kami berbelok ke kanan menuju jalan Embong dan beristirahat sejenak di warung es campur untuk menyejukkan kerongkongan. Setelah membayar 3.500 perak, kami berjalan lagi menyusuri Jalan Embong kemudian belok kiri di Jalan Pangeran Soedirman. Suasana jalanan begitu bersih, saya tidak melihat PKL-PKL di trotoar. Trotoarnya pun tertata dengan apik. Lalu-lintasnya terasa tidak semrawut. Memang, Surabaya si Kota metropolitan.

Sampailah kami di Jalan Pemuda setelah berbelok dari Jalan Pangeran Soedirman. Kami menyusuri Plaza Surabaya, proyek bangunan bertingkat yang belum rampung, Museum Kapal Selam, hingga Kalimas. Di pojokan jalan, Stasiun Gubeng sudah terlihat. Tinggal beberapa langkah lagi tepat di belakang Hotel Sahid Surabaya. Kupandangi becak-becak berjajar rapi dengan warna-warnanya yang harmonis. Terdengar gerungan lokomotif dari dalam stasiun. Sekali lagi, panasnya siang itu terbayarkan oleh inspirasi yang saya dapat.

Kami memutuskan untuk menggunakan kereta api kelas Bisnis untuk menuju kampung halaman kami. Selain memperhitungkan kenyamanan, kami pun memburu waktu. Tak apalah mahal─mahal bagi seorang backpacker, hitung-hitung sebagai perayaan di ujung petualangan kami. Sebelum benar-benar meninggalkan Surabaya, nasi pecel madiun menjadi salam penutup untuk saya.

Selesai menjamak sholat dan makan, waktu menunjukkan pukul 15.30 di handphone saya. Kami menunggu sambil membaca buku yang tadi Dida beli─untuk kemudian saya pinjam. Tak terasa, kereta api Mutiara Selatan kelas bisnis telah tiba 15 menit dari jadwal yang seharusnya. On timeI perpisahan dengan Surabaya semakin dekat. Perpisahan itu makin dekat lagi setelah lokomotif mengaum keras tanda kereta akan berangkat. Farewell Surabaya and welcome Bandung! Thanks for the inspiration!

Pengeluaran hari keenam :

  1. Nasi soto ayam Cak Pardi + es teh manis  : Rp.  10.500,00
  2. Es campur : Rp.     3.500,00
  3. Air mineral : Rp.     5.000,00
  4. Nasi pecel madiun  : Rp.     8.000,00
  5. Tiket kereta api Surabaya – Bandung : Rp. 130.000,00

TOTAL  : Rp. 157.000,00

6 thoughts on “Backpacking to Surabaya : Menjemput Inspirasi Sepanjang Jalan

  1. Pingback: Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      iyah kang, mumpung blon S2 atau sibuk dgn kerjaan, makanya selagi punya waktu aja ini jg.. Lagian kalo ntar mah selain susah nyari waktu, susah jg nyari temen yg se-kahoyong.

      Reply
      1. machmoedsantoso

        eta pisan, saat-saat indah jadi mahasiswa..
        sekarang mah susaaaah nyari waktunya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s