Backpacking to Surabaya : Merasakan “Sekolah Besar” Kehidupan di Jalanan

Catatan perjalanan hari kelima, 4 Agustus 2010
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Pagi itu juga kami─saya, Dida, dan kawan-kawan mapala ITS─berjalan kembali menyusuri hutan pegunungan untuk kembali ke Desa Cemorolawang. Perjalanan itu memakan waktu sekitar dua setengah jam, sebenarnya bisa lebih cepat dari itu karena kami terlalu terpana akan panorama Bromo dan Semeru, jadi kami benar-benar berupaya untuk meresapi keindahan itu. Udara pegunungan yang sejuk telah membuat air minum saya terasa dingin secara alami. Hangatnya sinar matahari seolah ingin terus menemani kami pagi itu.

Inilah Desa Cemorolawang yang jauh itu,

Desa Cemorolawang dilihat dari puncak Pananjakan

Sambil menyelam minum air, mungkin itulah prinsip saya pagi itu. Tidak ada yang kebetulan, kami dipertemukan dengan kawan-kawan arek-arek Suroboyo, saya bisa bertanya tentang seluk-beluk kota Pahlawan itu, berhubung tujuan petualangan kami selanjutnya adalah Surabaya. Saya bertanya mulai dari angkutan transportasi, objek wisata yang menarik di Surabaya, hingga makanan khas Surabaya. Sekali lagi, saya benar-benar merasakan berbagai kemudahan di saat saya membutuhkan informasi dan bantuan. Bahkan, arek-arek Suroboyo itu mengajak janjian bertemu sesampainya di Surabaya. Namun,  saya tolak saja karena saya benar-benar ingin merasakan petualangan sejati.

Singkat cerita─setelah “dipaksa” puas dengan keindahan Bromo dan Semeru (sebenarnya tidak ada kata “puas” memandangi kebesaran Allah itu), hostel tempat kami─saya dan Dida─menginap tidak terasa telah berada dalam jangkauan mata, ternyata antara hostel kami─saya dan Dida─dan kawan-kawan mapala ITS berdekatan, memang kawan-kawan mapala ITS itu pandai mencari tempat penginapan yang murah. Sebagai ujung kebersamaan, salam hangat perpisahan pagi itu terasa sangat berkesan karena memiliki makna yang dalam─telah merasakan kebersamaan dalam pendakian.

Sesampainya di hostel, kawan-kawan baru kami dari Universitas Negeri Solo telah sampai duluan. Padahal, tadi subuh kami dulu yang berangkat─jelaslah karena mereka menyewa mobil hardtop. Badan ini benar-benar lelah, ingin sekali saya merebahkan badan. Namun, juklak backpacking-an seolah memberi alarm untuk segera bergegas karena masih ada tujuan berikutnya dan kami tidak ingin sampai di Surabaya terlalu malam. Maklum, kami benar-benar awan tentang Surabaya ini. Langsung saja kami bersih-bersih dan packing ulang. Persiapan sudah mantap! Kami lanjutkan petualangan selanjutnya.

Nuansa Desa Cemorolawang

Nuansa Desa Cemorolawang

Hostel tempat kami menginap

Setelah berpamitan dengan kawan-kawan wong Solo, kami menuju pangkalan angkot ELF yang sudah siap menunggu. Tepat jam 12 siang, angkot ELF yang kami tumpangi meluncur menuju Probolinggo. Perjalanan menuju Probolinggo memakan waktu sekitar satu jam, lebih cepat dari perjalanan naik karena tanpa digas pun, mobil sudah meluncur kencang. Akhirnya, sampailah kami di terminal Bayuangga Probolinggo. Kali ini, kami membayar harga normal, tidak seperti waktu perjalanan menuju Bromo yang harus membayar dua kali lipat─karena kami masih awam dan kurang informasi.

Seolah seperti kawanan demonstran, perut saya pun berdemo menuntut haknya. Akhirnya saya baru menyadari bahwa saya hanya mengisi perut dengan 2 lembar roti semenjak tadi pagi. Nasi Rawon─makanan khas Jawa Timur─menjadi santapan kami siang itu. Setelah beres mengisi perut, kami lalu menjamak sholat. Lalu, kami menuju terminal Bayuangga yang berada di seberang jalan tempat kami makan siang tadi. Tidak perlu bingung terlalu lama, seorang calo kondektur menunjukkan bis jurusan Surabaya dengan bahasa medoknya.

Yang kami tumpangi kali ini adalah bis patas ber-AC. Maklumlah, membayar lebih mahal─mahal untuk seorang backpacker, mungkin tergolong murah untuk kalangan menegah ke atas─untuk membeli kenyamanan karena kami belum istirahat dengan puas semenjak turun dari pegunungan Bromo tadi. Sambil menunggu─daripada bengong─saya melanjutkan dengan sisa bacaan novel dwilogi Padang Bulan yang telah masuk novel kedua─Cinta di Dalam Gelas.

Pukul 14.50 kami berangkat dari terminal Bayuangga Probolinggo menuju Surabaya. Nyaman sekali suasana bis kami itu. Selain ber-AC, saya pun duduk sendiri karena suasana bis kosong, ditambah lagi dengan julukan bis PATAS (Cepat dan Terbatas) sehingga kami langsung menuju terminal Bungurasih Surabaya tanpa harus transit seperti angkutan kelas ekonomi. Nyaman sekali suasana di dalam bis─serasa kursi milik sendiri─sambil menikmati perjalanan menuju Surabaya. Saya pun terlelap. Memenuhi hak tubuh.

Rasanya saya tidak terlalu lama terlelap. Saya terbangun dan rasanya tidak ingin tidur lagi karena senang sekali rasanya menikmati perjalanan saat itu. Saya bisa melihat kota-kota kawasan Jawa Timur yang terasa sekali nuansa tradisionalnya. Melihat becak-becak Jawa yang khas tanpa tutup membuat saya teringat masa kecil ketika saya diajak ke Kudus oleh orang tua. Mengitari kota Kudus dengan becak seolah memberikan angin segar bagi jiwa dan pikiran saya. Namun, sekarang sudah lain. Angkutan tradisional dipaksa mengalah oleh sombongnya zaman, dipaksa menyingkir atas nama globalisasi. Sayang sekali.

Sampailah kami di kawasan Sidoarjo. Lalu, saya pandangi sekeliling karena teringat dengan kawasan daerah lumpur panas yang terus mengeluarkan lumpur panas sejak silam. Namun, kawasan lumpur panas itu tidak bisa saya lihat dari jalan raya karena tanggul sudah semakin tinggi. Inikah akibat dari keserakahan umat manusia? Yang ingin terus menggali kekayaan alam tanpa memikirkan dampaknya. Akibat ulah segelintir orang, masyarakat luas yang terkena dampaknya. Apa karena telah ditetapkan sebagai bencana nasional, orang-orang tak bertanggungjawab itu seolah melepas tangan setelah melempar batu. Ah, wallahu’alam.

Tanggul lumpur Lapindo

Akhirnya, tanpa terasa kami telah sampai di terminal Bungurasih Surabaya pukul 17 lebih sedikit. Suasana terminal begitu ramai oleh penumpang, penjemput, pengantar, pramuantar (porter), calo, preman, pengamen, bahkan mungkin koruptor juga ada disitu. Kami merasa seperti orang asing di kota asing. Berbekal pengetahuan dari google earth sewaktu menyiapkan perencanaan, kami tahu sekarang berada di daerah selatan Surabaya. Maka, jika kami ingin menuju patung Suro-Buoyo dan Tugu Pahlawan, kami harus menggunakan angkutan ke arah utara.

Namun, sebelum itu, berbekal rekomendasi dari kawan-kawan mapala ITS, kami penasaran dengan makanan khas yang mereka rekomendasikan─soto lamongan. Tidak beberapa lama, kami melihat tukang soto lamongan khas dengan gerobaknya. Memang, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Soto lamongan yang dibuat oleh tangan wong Jowo asli memang beda. Soto lamongan asli terasa mantap, kuahnya kental, bumbunya maknyus, ditambah nuansa Suroboyo, terasa klop ditutup dengan es teh manis. Apalagi harganya juga cocok bagi seorang backpacker.

Nasi Soto Lamongan

Tujuan selanjutnya adalah landmark-nya Surabaya : Patung Suro-Buoyo di Jalan Diponegoro. Kami harus menggunakan bis kota ke arah Joyoboyo dan kami diberitahu bahwa ongkos bis kota hanya 2.500 rupiah untuk jarak jauh-dekat. Saya benar-benar merasakan “sekolah besar” kehidupan di Surabaya ini. Selain karena awam tentang Surabaya, kami juga bermodal jiwa petualang ingin mencari inspirasi─jika tidak ingin dikatakan nekad. Dari sinilah saya mengambil filosofi bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut.

Saya memiliki cerita yang menarik dan sekaligus merupakan pengalaman berharga yang saya dapatkan di jalanan Surabaya. Saya tahu bahwa ongkos bis kota jarak jauh-dekat seharga 2.500 perak saja, tapi ketika itu mungkin karena kondektur bis melihat ransel besar saya dan menganggap saya sebagai pendatang─padahal memang pendatang, dengan semena-mena kondektur itu mengatakan ongkos saya kurang. Setelah berdebat sedikit, secara tidak jelas uang saya tidak dikembalikan, jadi saya membayar 3.500 perak. Hal yang sama saya alami juga di angkot─wong Surabaya menyebutnya bemo. Lagi-lagi karena melihat ransel besar saya dan menganggap saya sebagai pendatang, dengan semena-mena kondektur mengatakan bahwa ongkos saya kurang. Namun, dengan bekal informasi yang akurat dan pengalaman di bis kota tadi, kali ini muslihat kondektur tak mempan bagi saya. Kondektur pun rasanya tersipu malu dan enggan melirik lagi.

Patung Suro-Buoyo di Jalan Diponegoro

Akhirnya, kami sampai di landmark-nya kota Surabaya. Patung Suro-Buoyo terletak persis di depan kebun binatang di Jalan Diponegoro. Setelah merasa puas, kami lanjutkan perjalanan menuju Tugu Pahlawan di Jalan Pahlawan. Lagi-lagi, kami merasakan kemudahan dalam perjalanan, Bapak petugas keamanan di Tugu Pahlawan berbaik hati membolehkan kami masuk ke areal Tugu yang sudah tutup sejak sore, mungkin karena menganggap kami sebagai pendatang─tentunya terlihat dari ransel besar yang kami bawa. Kali ini, ransel besar di punggung kami mengundang simpati. Semua yang ada dalam cerita, kini benar-benar ada di depan mata saya. Saya takjub. Saya terpana. Tak menyangka saya telah merantu sejauh ini. Panorama Surabaya di malam hari memang tak terlupakan. Surabaya si kota Metropolitan.

Monumen Tugu Pahlawan

Tugu Pahlawan

Pengeluaran hari kelima :

  1. Angkot “ELF” Bromo – Probolinggo : Rp. 25.000,00
  2. Makan nasi rawon : Rp. 10.000,00
  3. Bis PATAS Probolinggo – Surabaya  : Rp. 23.000,00
  4. Makan soto lamongan  : Rp.   8.000,00
  5. Bis kota Jurusan Joyoboyo  : Rp.   3.500,00
  6. Angkot bemo letter O : Rp.   3.000,00

TOTAL  : Rp. 72.500,00

One thought on “Backpacking to Surabaya : Merasakan “Sekolah Besar” Kehidupan di Jalanan

  1. Pingback: Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s