Ramadhan 4 : Labelisasi “Edisi Ramadhan”

4 Ramadhan 1431 H / 14 Agustus 2010

Bulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Keberkahannya begitu terasa pada kehidupan kita sehari-hari. Malam-malam terasa hidup oleh ramainya sholat taraweh, paginya pun selalu hidup karena diisi dengan ibadah dan sahur. Ekonomi masyarakat terus tumbuh dan menggeliat. Ditemani dengan hangatnya nuansa Ramadhan, baik itu dari lingkungan tempat tinggal kita maupun dari media massa.

Namun, ada suatu hal yang menarik untuk dicermati. Begitu memasuki atau bahkan mendekati bulan Ramadhan, semua situasi dikondisikan demi melancarkan kegiatan ibadah di bulan Ramadhan ini. Kabarnya, Menkominfo akan menutup seluruh websites porno. Tempat hiburan malam pun ditutup (sementara) demi menghormati kegiatan ibadah Ramadhan. Semua elemen dikondisikan untuk siap dilabeli “ Edisi Ramadhan”

Maka, tak heran jika kita juga melihat tayangan-tayangan televisi yang sebelumnya tidak bernuansa religius menjadi tayangan “Edisi Ramadhan”. Semua dikemas begitu apik, tanpa menghilangkan karakter dari tayangannya sendiri. Namun, bedanya hanya sesekali dibumbui dengan sesi religi, entah itu ceramah─walaupun hanya secuil, kultum, ataupun doa bersama. Secara mendadak pula, para artis ibukota ajimumpung membuat album “Edisi Ramadhan”.

Namun, bagaimana jika label “Edisi Ramadhan” ini diterapkan juga pada masyarakat dan pejabat negara kita? Sehingga nantinya ada masyarakat muslim Indonesia “Edisi ramadhan”, Presiden “Edisi Ramadhan”, menteri “Edisi Ramadhan”, dan jika perlu koruptor pun dilabel “Edisi Ramadhan”. Semoga dengan pembiasaan “Edisi Ramadhan” ini akan melahirkan pribadi yang unggul ketika berhadapan dengan bulan-bulan selain Ramadhan.

Terlepas dari itu semua, kita pun dituntut untuk bisa melabeli diri sendiri menjadi pribadi “Edisi Ramadhan”. Apa yang kita kerjakan harus berbeda dari bulan-bulan selain Ramadhan, berusaha untuk menjadi lebih baik. Kita menjalani proses tarbiyah di bulan Ramadhan ini dan semoga label “Edisi Ramadhan” yang kita biasakan di bulan ini, akan menjadi pembiasaan di bulan-bulan berikutnya dan bisa membentuk kesalehan sosial masyarakatnya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s