Ramadhan 6 : Ramadhan Edisi Kemerdekaan Atau Kemerdekaan Edisi Ramadhan?

6 Ramadhan 1431 H / 16 Agustus 2010

Bulan Ramadhan kali ini bertepatan dengan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. Sama halnya ketika Indonesia pertama kali memproklamirkan diri menjadi bangsa yang merdeka pada tahun 1945 silam. Tak dapat dibayangkan susah-payahnya para pejuang sembari menahan lapar dan dahaga untuk menyingkirkan campur tangan asing dalam negaranya sendiri. Namun, justru karena perjuangan para pejuang terdahulu lah kita bisa menikmati masa-masa Ramadhan kini dengan rasa aman.

Namun, walaupun secara kasat mata Ramadhan kali ini terasa lebih ringan ketimbang zaman perjuangan dulu, pada hakikatnya justru Ramadhan kali ini lebih berat. Kenapa? Karena kita menghadapi musuh yang tak kasat mata. Globalisasi, modernisasi, kapitalisme, begitulah orang-orang di negeri ini berbicara. Tidak cukup itu saja, bahkan Bung Karno pun pernah bertutur bahwa musuh zaman sekarang lebih berat ketimbang musuh pada zaman perjuangan dulu karena musuh kita─pada zaman sekarang─adalah bangsa kita sendiri. Lihat saja tawuran antar etnik dan para supporter di Indonesia.

Seiring berjalannya roda waktu, momen-momen kemerdekaan itu terus mendapat apresiasi dari masyarakat kita. Muncul budaya baru : perayaan hari kemerdekaan RI pada setiap tanggal 17 Agustus. Mendekati hari-H begitu banyak pedagang bendera bermunculan dan para panitia perayaan 17 Agustus sibuk membuat acara untuk turut meramaikan perayaan hari kemerdekaan.

Berbagai lomba andalan turut dipertandingkan, mulai dari balap karung, balap makan kerupuk, hingga panjat pinang yang menjadi tontonan hiburan bagi masyarakat. Riuhnya lomba mulai terasa ketika mendekati hari kemerdekaan. Itu pun jika tidak bertepatan dengan bulan Ramadhan. Namun, kini hari perayaan kemerdekaan tepat dengan bulan Ramadhan sehingga keriuhan itu harus “mengalah” pada agungnya Ramadhan.

Hari raya kemerdekaan mau tidak mau harus rela dilabeli “Edisi Ramadhan”. Namun, bukan berarti mengenyampingkan kita untuk bisa tetap menghargai dan merenungi napak tilas para pahlawan kemerdekaan. Mungkin, bagi sebagian masyarakat perayaan hari kemerdekaan itu tetap ada. Hanya saja waktunya yang dimajukan atau disesuaikan dengan waktu ibadah Ramadhan. Saya pernah membaca berita tentang perayaan hari kemerdekaan sebelum bulan Ramadhan ini. Walaupun hari-H dirasa masih jauh, tapi tidak menyurutkan mereka untuk tetap mengapresiasi hari kemerdekaan.

Namun, rasanya jika sebagian masyarakat kita yang lain tetap bersikukuh akan melaksanakan perayaan hari kemerdekaan pada bulan Ramadhan ini, maka muncullah fatwa─yang tidak begitu baru, juga tidak usang─yang saya yakin semua orang akan membenarkannya:

Diharamkan untuk mengadakan lomba makan kerupuk bagi orang yang sedang berpuasa di siang hari pada bulan Ramadhan

Saya yakin fatwa ini tidak akan melahirkan berbagai kontroversi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s