Ramadhan 10 : Spirit of Giving

Jumat, 10 Ramadhan 1431 H / 20 Agustus 2010

Hanya memberi… tak harap kembali…
Bagai sang surya… menyinari dunia…

Saya merasa kedudukan pepatah “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” telah naik tingkat menjadi “tangan yang lebih atas lebih baik daripada tangan yang telah berada di atas” setelah mendengar nasihat dari Aa Gym tadi malam. Ceramah dari Aa Gym itu telah memberikan pencerahan baru bagi saya. Memang, inspirasi baru selalu kita dapatkan jika kita melakukan perjalanan. Malam tadi, saya melakukan backpacking kecil-kecilan ke masjid DT bersama UHH─sebuah komunitas independen.

Aa Gym menjelaskan bahwa begitu tingginya derajat orang yang memberi ketimbang orang yang menerima. Pada bulan Ramadhan ini tentu kita biasa melihat acara buka bersama, apalagi di masjid-masjid yang banyak menyediakan fasilitas berbuka, seperti takjil dan makanan berat. Namun, yang menjadi kebiasaan masyarakat kita adalah benar-benar─tidak malu─memanfaatkan fasilitas itu secara maksimal─ajimumpung. Seolah makanan itu disediakan hanya bagi dirinya.

Jika melihat pada tradisi di masjid Madinah, bulan Ramadhan merupakan bulan yang menjadi momentum untuk bisa memberi sebanyak-banyaknya. Para dermawan sengaja membuat kavling untuk menjamu para jamaah. Mereka berlomba-lomba untuk menarik jamaah. Saat-saat berbuka puasa merupakan momen yang ditunggu-tunggu untuk mengumpulkan pahala dengan menjamu para jamaah. Mereka larut dalam kesibukan melayani jamaah.

Namun, masyarakat kita terkenal dengan budaya “ajimumpung” dan “kukumpul”─dalam bahasa Sunda yang artinya sibuk mengumpulkan. Entah itu karena mumpung ada yang gratisan, mumpung bulan Ramadhan─kapan lagi ada makanan gratisan, atau momen untuk menghemat pengeluaran. Memang, budaya itu tidak salah, hanya saja masyarakat tidak larut dalam kesibukan memberi, malah sibuk menerima. Tentu, derajat orang yang memberi lebih tinggi daripada yang menerima.

Perilaku gemar menerima kemudian berkembang menjadi kebiasaan dan karakter. Itu sama saja halnya berlatih menjadi miskin. Pantas saja kemiskinan di Indonesia ini sulit diberantas karena pelakunya senang menjadi miskin─karena gemar menerima. Memberi─pada hakikatnya─melatih diri kita menjadi kaya, semacam latihan menjadi orang kaya. Benarlah prinsip bahwa seberapa besar yang kita terima adalah seberapa besar yang kita berikan. What you get is what you give.

Memberi pun tidak perlu menuntut kembali berupa ucapan terimakasih. Pada hakikatnya, jika ada orang yang membutuhkan bantuan justru kita lah yang harus berterimakasih karena telah dibukakan ladang amal. Tangan kanan memberi, tidak perlu tangan kiri ini diberitahu. Sesudah memberi, lalu lupakan. Jangan mengumumkan pemberian karena akan membuat malu si penerima, membuat riya si pemberi, dan akan mengundang komentar negatif bagi yang melihat.

Bulan Ramadhan ini merupakan bulan yang paling afdhol untuk memberi (sedekah). Mari kita sama-sama meningkatkan derajat diri kita sendiri dengan mengedepankan mental memberi ketimbang menerima. Memberi karena memang itulah yang disukai Allah. Memberi untuk menggandakan kebermanfaatan. Memberi sebagai perwujudan manusia yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Semoga kita bisa terus istiqomah mewujudkan apa yang kita katakan dengan perbuatan. Amin.

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” Q.S Al-Insan : 9

3 thoughts on “Ramadhan 10 : Spirit of Giving

  1. subhan basri

    Yaa Allah! Liputilah Aku Dengan Rahmat Dan Berikanlah Kepadaku Taufiq Dan Penjagaan.
    Sucikanlah Hatiku Dan Noda-Noda Fitnah Wahai Pengasih Terhadap Hamba- HambaNya Yang Mu’min.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s