Ramadhan 11 : Ramadhan, Berdasarkan Cara Orang Memanfaatkan Waktu

Sabtu, 11 Ramadhan 1431 H / 21 Agustus 2010

Jika dihadapkan pada dua pilihan : Mana yang Anda pilih? Tidak terasa Ramadhan sudah 11 hari terlewat atau Ramadhan akan berakhir 18 hari lagi? Dari jawaban kita terhadap pilihan di atas dapat menyiratkan sesuatu yang menggambarkan bagaimana sikap kita dalam menyikapi bulan Ramadhan. Jika kita memilih opsi yang pertama, itu menunjukkan sikap kita yang begitu menikmati masa-masa Ramadhan. Saking menikmatinya, tanpa kita sadar waktu terus berputar. Jika memilih opsi kedua, itu menunjukkan sikap kita yang tidak menikmati masa-masa Ramadhan, rasanya ingin cepat-cepat lebaran.

Sekilas pertanyaan di atas mirip dengan : setengah isi atau setengah kosong? Memang, secara kebahasaan kedua pilihan di atas tidak berbeda, hanya saja mengandung makna filosofi yang mendalam. Pertanyaan di atas merefleksikan diri kita─khususnya diri saya sendiri─tentang bagaimana memanfaatkan masa-masa Ramadhan. Sungguh ajaibnya bulan Ramadhan ini, bisa mengubah kebiasaan dan siklus hidup masyarakat.

Malam-malam Ramadhan menjadi hidup. Orang-orang berduyun-duyun mendatangi masjid untuk mendirikan sholat isya dan tarawih. Mereka itu yang berkemauan kuat ingin menghidupkan malam-malam Ramadhan. Mereka juga yang bekemauan kuat ingin mengalihkan kehidupan malam dari diskotik menuju masjid. Adapun yang masih larut dalam cerita sinetron kesayangannya, seolah tidak ingin melewatkan satu episode pun. Dua waktu yang sama, tapi berbeda maknanya.

Ketika fajar belum menyingsing, orang-orang sibuk menyiapkan makanan untuk sahur. Mereka memanfaatkan waktu sahur untuk menyongsong keberkahan makan sahur. Ada pula yang malam harinya begadang sampai larut sehingga terlambat bangun untuk makan sahur. Mungkin orang itu tidak meresapi makna lagu Rhoma Irama─begadang jangan begadang, kalau tiada artinya.

Ada juga mereka yang bergegas untuk mengambil wudhu setelah waktu imsak, kemudian menunggu untuk sholat berjamaah di masjid─khusus laki-laki. Mereka itulah yang selalu merindukan kebersamaan. Selalu merindukan kehangatan berjamaah. Beda halnya dengan yang sholat sendiri di rumah, mungkin ia berprinsip ingin menikmati pagi itu sendiri saja. Tanpa ingin merasakan kehangatan kebersamaan. Ia alihkan kehangatan itu ke selembar selimut tebal. Sendiri saja.

Memasuki waktu dhuha, ada juga orang yang bergegas ingin segera menunaikan setiap persendian tubuhnya. Melaksanakan sholat dhuha di tengah hangatnya sinar matahari pagi. Adapun yang terlalu sibuk dengan kemalasan, mereka beralasan bahwa ibadah wajib saja sudah cukup. Padahal, ibadah sunah bisa menambal kekurangan pada ibadah wajib. Mereka itu yang menganut prinsip ekonomi : menggunakan modal sekecil-kecilnya dan berharap mendapat keuntungan sebesar-besarnya.

Waktu sholat-sholat wajib merupakan momen yang paling ditunggu dan mereka segera bergegas menuju masjid─jika kondisi memungkinkan. Lagi-lagi, mereka itu yang merindukan kehangatan kebersamaan. Setelah sholat wajib ditunaikan, mereka ambil mushaf dari kantongnya, lalu mereka baca perlahan-lahan dengan irama yang syahdu. Adapun orang yang setelah mendirikan sholat, lalu ia celingak-celinguk ke sekelilingnya. Setelah dirasa aman, lalu ia merebahkan tubuhnya begitu saja di dalam masjid. Mungkin orang itu terlalu lelah setelah tahajud semalam suntuk─positive thinking.

Mendekati waktu berbuka, ada mereka yang sibuk menyiapkan takjil untuk para jamaah membantu membagikan takjil kepada teman-temannya. Mereka itu yang berprinsip bahwa pemimpin adalah pelayan umat. Rasanya, belum puas jika belum melayani jamaah sore itu. Adapun yang menyiapkan wadah besar untuk menampung makanan dan takjil gratisan dari masjid. Mereka itu yang berprinsip bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali. Maka, kesempatan emas itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Adapun yang memanfaatkan waktu ngabuburit sambil ngemil kuaci. Itu menandakan bahwa mereka sedang tidak berpuasa atau mungkin terlarut dalam nuansa “kelupaan yang indah”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s