Ramadhan 13 : Ramadhan Melatih Diri Menjadi “Orang Sibuk”

Senin, 13 Ramadhan 1431 H / 23 Agustus 2010

Ramadhan seolah telah menjadi “sihir” bagi masyarakat. Seketika bisa mengubah pola kebiasaan dan siklus hidup masyarakatnya. Jarang sekali kita jumpai kekosongan kegiatan di bulan Ramadhan ini. Sejak subuh sudah mulai terasa kehangatannya, hingga malam yang terus terasa denyut kehidupan masyarakatnya. Seolah mesin bandul yang tak henti-hentinya bergerak. Tak berkesudahan.

Jamuan Allah pada bulan Ramadhan ini begitu istimewa. Setiap kebaikan dilipatgandakan, setiap satu huruf dari ayat Al-Quran dihitung sebagai sepuluh kebaikan, dan tentu yang ditunggu-tunggu adalah jamuan di sepuluh malam terakhir : lailatul qodar. Namun, sekali lagi, jamuan itu hanya disuguhkan kepada orang-orang yang beriman. Bersyukurlah kita mendapat jamuan istimewa itu.

Saking istimewanya jamuan Ramadhan, sebagai tamu, tentu kita tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Setiap tamu benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Setiap tamu benar-benar menjadi sangat sibuk menjemput keberkahan itu. Setiap tamu telah terlarut dalam nuansa kesibukan dalam kebaikan. Kita akan merasa memiliki waktu justru saat kita berikan untuk kebaikan. Namun, akan hilang bila diisi keburukan.

Barangsiapa tidak menyibukkan diri dengan kebaikan,
niscaya ia akan disibukkan dengan keburukan

Apabila kita pasif─tidak menyibukkan diri dengan kebaikan─maka kita akan terus dibombardir oleh para pegiat maksiat dengan serangan dosa dan tipuan. Ramadhan inilah yang merupakan momen bagi kita untuk menggerakkan seluruh potensi dan energi sehingga membuat kita menjadi orang yang sibuk. Tidak sekedar sibuk, tapi sibuk dalam berbuat kebaikan. Dengan begitu celah keburukan─mudah-mudahan─tidak ada tempat lagi dalam diri kita. Seakan kita tidak punya waktu lagi untuk melakukan keburukan.

Mari kita ubah paradigma. Yakinlah, apabila kita tidak melakukan kebaikan, niscaya celah itu akan diisi oleh orang lain dengan keburukan. Kekosongan hati akan diisi oleh apa pun atau siapa pun yang mendominasi. Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa, maaf, pengangguran adalah kejahatan terselubung.

Nah, Ramadhan inilah momen yang pas bagi kita untuk menjadi orang sibuk, tentu sibuk dalam kebaikan. Sehingga pada nantinya kita akan terbiasa dengan kesibukan─dalam kebaikan─dan bukan hal yang tidak mungkin pada nantinya kesibukan─dalam kebaikan─membuat kita tidak punya waktu lagi untuk melakukan keburukan. Ibarat gelas yang diisi dengan air dan minyak, jika kita terus-menerus mengisi gelas tersebut dengan air─simbol kebaikan─maka lama-kelamaan minyak akan tumpah dari gelas dan hanya air lah yang ada di dalam gelas itu. Begitulah hati, jika terus-menerus kita isi dengan kebaikan, maka keburukan akan sirna layaknya minyak yang tumpah tak berbekas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s