Ramadhan 15 : Bening

Rabu, 15 Ramadhan 1431 H / 25 Agustus 2010

Tentu kawan-kawan sudah pernah bermain dengan anak balita. Entah kenapa setiap melihatnya, ada rasa terhibur hati ini. Entah kenapa setiap kali mendengar suaranya, seakan ada kesejukan di hati ini. Ada sesuatu yang membedakan, pasti ada sesuatu yang membedakan. Mungkin karena hatinya masih bening sehingga terpancar auranya, mungkin karena jiwanya masih suci sehingga akan membuat teduh mata orang yang melihatnya. Tidak ada kepura-puraan, tampil apa adanya. Mungkin inilah yang dinamakan pancaran kebeningan hati.

Jika hati diibaratkan sebuah rumah dan cahaya matahari diibaratkan sebagai pancaran hikmah maka dosa-dosa kita lah yang akan menutup cahaya-cahaya itu untuk bisa masuk ke dalam jendela rumah kita. Dosa-dosa kita lah yang menyebabkan pintu-pintu hikmah itu tertutup sehingga lama-kelamaan hati akan mati (qolbun mayyit). Dosa-dosa kita yang membuat satu titik hitam yang kemudian akan menjadi noda legam jika terus dibiarkan. Hati yang mati diibaratkan sebagai rumah yang tidak ada cahaya yang masuk ke dalamnya, suasana di dalam rumah akan terasa lembab, banyak jamur, dan pengap. Bayangkan jika hati kita yang seperti itu, naudzubillah.

Kembali ke cerita tentang anak balita. Manusia mana yang tidak akan senang melihatnya, manusia mana yang tidak sejuk hatinya ketika melihatnya, ketika mendengar suaranya? Mungkin hanya orang-orang apatis yang tidak peduli. Lalu, keistimewaan apa yang ada pada balita itu sehingga membuat orang-orang yang melihatnya akan merasa sejuk hatinya?

Ibarat rumah tadi, setiap bayi yang terlahir dalam keadaan suci dari dosa. Orang-orang yang bersih dari dosa, ia akan membuka jendela-jendela hatinya untuk bisa menerima pancaran matahari hikmah sehingga hatinya akan selalu hidup dan memancarkan aura positif dan menyejukkan. Jika ada noda setitik pun, maka dengan cepat dan mudah sudah bisa terdeteksi.

Bayi yang suci akan memancarkan kesejukan karena hatinya masih bening, setiap orang yang melihatnya dan mendengar suaranya akan terhibur karena pancaran dari kebeningan hati. Hati yang bening akan memancarkan kebeningan juga. Sebaliknya, hati yang tertutup oleh dosa akan memancarkan kebusukan sehingga orang-orang kurang senang melihatnya. Aura negatif terpancar dari kebusukan hatinya.

Dengan keluguannya, tidak ada kepura-puraan yang dirahasiakan. Dengan kepolosannya, tidak ada kepalsuan yang disembunyikannya. Semua akan terpancar, semua terjadi apa adanya. Itulah yang membuat setiap orang akan menerimanya dengan apa adanya pula. Sekali lagi, hati yang bening akan memancarkan kebeningan pula. Hati yang bening tersingkap dari tabir kegelapan yang menutupi kejernihan pandangan kita menuju-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s