Ramadhan 17 : Refleksi Nuzulul Quran

Jumat, 17 Ramadhan 1431 H / 27 Agustus 2010

Saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa jika kita memiliki niat yang belum lurus karena Allah, maka kita akan kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Awalnya, saya mengira Aa Gym yang akan mengisi ceramah tadi malam, tapi kenyataannya lain. Namun, “insiden” kecil itu justru menjadi refleksi bagi saya untuk selalu meluruskan niat dalam menuntut ilmu, bahwa dengan siapa pun kita belajar, pada hakikatnya ilmu itu datang dari Allah.

Berhubung malam tadi adalah malam ke-17 Ramadhan, maka isi ceramahnya pun tidak terlepas dari Al-Quran─sebagai peringatan Nuzulul Quran. Merujuk pada surat Al-Insyirah─surat ke 94, Ustadz Dudi Muttaqien menyampaikan materi yang ringan untuk dicerna dan terasa mengalir untuk dipahami. Beliau mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu yang sulit jika kita berpedoman pada Al-Quran, justru manusia sendiri lah yang membuat kesulitan bagi dirinya sendiri.

Permasalahan bangsa yang sering berlalu-lalang di hadapan kita adalah bukti bahwa kita sudah jauh dari Al-Quran. Pedoman hidup yang ada di dalam Al-Quran dianggap tidak sesuai dengan zaman, maka maraklah penghinaan terhadap Islam akibat ulah umat Islam itu sendiri. Merasa bisa menyelesaikan masalah sendiri, padahal Al-Quran telah menyajikan solusi yang begitu indah. Al-Quran adalah solusi. Islam juga solusi.

Maraknya perjudian, perzinahan, pembunuhan dan kriminalitas lainnya di masa kini merupakan fenomena yang mirip dengan masa jahiliyah. Pada masa itu Muhammad bin Abdullah─sebelum menjadi Rasul─pergi ke Gua Hiro untuk menyendiri. Kemudian datanglah Malaikat Jibril membekap badan beliau dan mulai memasukkan wahyu pertama ke dalam dadanya. Rasulullah terperanjat, Malaikat Jibril terus mendesak, “iqro, iqro, iqro.” Namun, Rasulullah yang tidak bisa baca tulis kelimpungan, tapi kemudian Allah memudahkan Rasulullah untuk menerima wahyu tersebut, walaupun momen itu merupakan momen yang sangat berat bagi Rasulullah.

Dalam proses pengajaran wahyu kepada umat manusia, Rasulullah sering mendapatkan rintangan, dianggap tidak waras, bahkan dianggap tukang sihir. Namun, Allah lagi-lagi memberi kesejukan bagi Rasulullah dan umatnya di ayat 1, 2, dan 3 pada surat Al-Insyirah.

Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
Dan kami telah menurunkan beban darimu
Yang memberatkan punggungmu.

Pada hakikatnya, ujian adalah tangga. Entah itu tangga turun atau naik, tergantung bagaimana kita memilih. Apakah akan turun dengan ujian itu ataukah akan naik tingkat? Lagi-lagi, Allah memberi kesejukan bagi Rasulullah dan umatnya dalam lanjutan surat Al-Insyirah.

Dan kami tinggikan sebutan namamu bagimu.

Dalam tafsirnya, meninggikan nama nabi Muhammad saw di sini maksudnya adalah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan taat kepada nabi termasuk taat kepada Allah. Sungguh begitu mulianya Rasulullah. Hal ini juga mengajarkan kita bahwa untuk menjadi manusia yang mulia di hadapan Allah, maka kita harus memiliki kapasitas diri. Kapasitas diri yang baik tidak didapat secara mudah, tapi harus melalui berbagai ujian. Ujian itu lah yang membangun kapasitas dan karakter diri kita.

Memang, semakin tinggi pohon akan semakin kencang angin yang menerpa. Namun, Allah menenangkan hati kita melalui lanjutan surat Al-Insyirah. Tidak hanya sekali Allah menyebutkannya, tapi dua kali secara berurutan. Seolah menjadi penegasan bagi kita yang masih belum merasa yakin akan kemudahan dari-Nya.

Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan
sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan

Namun, berhati-hati lah dengan kehidupan kita yang dirasa serba mudah karena kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan lambat-laun akan mengikis karakter kita. Setiap kemudahan akan mengikis daya juang dan melemahkan mentalitas kita. Cara untuk mensyukuri kemudahan adalah terus-menerus berupaya dengan meningkatkan kapasitas diri dan menyerahkan hasilnya kepada Allah, sesuai dengan dua ayat terakhir dari surat Al-Insyirah.

Maka apabila kamu selah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Begitulah Allah telah menjaga Al-Quran hingga sampai kepada kita. Allah pun mengisyaratkan kepada kita melalui ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah bahwa perintah pertama adalah iqro─bacalah─dan makhluk pertama adalah kalam─pena. Ini mengisyaratkan kepada kita untuk tidak berhenti belajar dan menuntut ilmu yang pada hakikatnya mengantarkan kita kepada kemudahan hidup di dunia dan selamat di akhirat.

Dan yang menjadi pertanyaan bagi kita, pertanyaan ini saya todongkan untuk diri saya sendiri dan saya refleksikan bagi yang membaca tulisan ini (terus terang saya merasa berat bertanya seperti ini) : Sudahkah kita membaca Al-Quran hari ini? Mari kita sama-sama berjuang untuk tidak membiarkan Al-Quran kita teronggok di sudut meja dan berdebu karena tidak pernah kita sentuh. Biarkanlah debu itu menempel di jari-jari kita dan kita berharap kandungan Al-Quran akan menempel di hati kita. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s