Ramadhan 20 : Mematahkan Sugesti Sesat Produktivitas Ramadhan

Senin, 20 Ramadhan 1431 H / 30 Agustus 2010

Ada sugesti yang menyeruak ke permukaan masyarakat bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan akan sangat melelahkan sehingga bisa mengurangi produktivitas kerja. Rasanya, sugesti sesat itu perlu kita renungkan kembali jika kita melihat sejarah, khususnya peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Ramadhan. Dalam perjalanan sejarah umat Muslim, sejarah mencatat prestasi-prestasi gemilang yang menunjukkan tingginya produktivitas umat.

Bulan Ramadhan dianggap sebagai bulan kelesuan fisik karena tidak terpenuhinya kebutuhan jasmani─makan dan minum─pada siang hari. Sejarah mencatat dengan tinta emas peristiwa-peristiwa gemilang itu : Perang Badar; Perang Tabuk; Penaklukan Spanyol di bawah kepemimpinan Thariq bin Ziyad yang berani membakar kapal armadanya; Fathu Makkah; hingga proklamasi kemerdekaan RI yang terjadi pada 9 Ramadhan. Kesemua peristiwa itu merupakan bukti tingginya produktivitas saat Ramadhan.

Peristiwa-peristiwa itu juga telah mematahkan sugesti tentang bulan Ramadhan sebagai penyebab turunnya tingkat produktivitas meskipun masih menjadi fenomena yang unik di kalangan masyarakat. Sugesti sesat itu secara tidak langsung dan tidak sadar telah ditularkan melalui sistem pendidikan kita. Misalnya, sekolah-sekolah─mulai dari SD hingga SMA─memberlakukan jam belajar yang lebih pendek dari biasanya, ditambah lagi dengan libur saat menjelang Ramadhan dan akhir Ramadhan.

Hal ini secara tidak langsung telah menjadi pencitraan bagi masyarakat─khususnya anak sekolah─bahwa Ramadhan adalah bulan yang melelahkan sehingga perlu dikurangi jam produktifnya. Padahal, justru Ramadhan bisa menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas kerja karena jam produktif kita tidak “diganggu” oleh waktu makan─khususnya makan siang. Waktu makan siang bisa digantikan dengan membaca─buku, Al-Quran─sembari beristirahat.

Namun, dengan tidak adanya waktu makan siang justru sebagian orang menggantinya dengan waktu tidur. Bisa kita lihat ketika setelah sholat dzuhur, masjid-masjid justru dipenuhi oleh orang-orang yang menggelepar. Mungkin orang itu menganut prinsip “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” yang diragukan keshohihannya. Jika tidurnya saja dikatakan ibadah, lalu bagaimana dengan aktivitasnya? Rasa kantuk itu datang karena kita tidak mengisinya dengan kegiatan. Sebenarnya, jika tubuh kita terus dibiasakan aktif bergerak, tubuh akan membuat siklus baru yang dari asalnya malas-malasan menjadi ingin terus beraktivitas. Memang, harus melalui pembiasaan dan perlu tekad yang kuat.

Turunnya produktivitas juga disebabkan oleh pelemahan atau kekalahan mental. Kondisi inilah yang sangat berkontribusi pada tingkat aktivitas kita. Ketika kita berolahraga, sebenarnya tidak hanya melatih fisik, tapi juga melatih mental agar tidak lembek oleh keterbasan fisik. Begitulah Ramadhan, melalui ibadah puasa akan melatih mental kita untuk tetap tangguh ketika merasa kelelahan. Mental dan tekad yang kuat akan mengalahkan keterbatasan fisik. Ramadhan merupakan bulan ketika mental setiap Muslim dibangun dan ditata sehingga mencapai derajat terbaik─agar kamu bertaqwa.

Disamping itu, Ramadhan juga merupakan ajang perlombaan, berlomba-lomba dalam kebaikan. Setiap kebaikan yang dilakukan akan diganjar dengan balasan yang berlipat-lipat. Selain itu, Ramadhan pun merupakan bulan obral pahala. Jika ganjarannya sudah semewah ini, manusia mana yang tidak ingin mendapatkannya? Ramadhan pun merupakan bulan untuk me-tune up tubuh kita dari toksin-toksin sehingga akan membuat tubuh kita lebih sehat. Justru inilah yang (seharusnya) menjadi motivasi bagi kita untuk meningkatkan produktivitas saat Ramadhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s