Ramadhan 22 : Berharap-harap Cemas Pada Malam Seribu Bulan

Ramadhan 22 : Berharap-harap Cemas Pada Malam Seribu Bulan
Rabu, 22 Ramadhan 1431 H / 1 September 2010

Purnama menggantung di langit kotaku
Temani aku menyusuri jalan pulang
Tiba-tiba aku rindu purnama di sudut-sudut jiwaku
Masihkah ia bersemayam disana?
yang akan temaniku pulang selama-lamanya.

Apa kabar kondisi Ramadhan Anda hari ini? Semoga selalu diberi kekonsistenan dalam menjalankannya. Ibarat perlombaan marathon, Ramadhan telah memasuki fase-fase terakhir yang akan menentukan manusia-manusia pilihan yang akan menjadi juara sejati. Hukum alam pun berbicara, seleksi alam berlaku disini. Stamina keimanan seseorang diuji di akhir-akhir Ramadhan ini. Jika Ramadhan ini perlombaan marathon, orang yang memiliki stamina (keimanan) prima lah yang akan terus melesat hingga garis finish.

Seleksi alam itu pun bisa kita lihat dari fenomena masyarakat kita. Di awal-awal bulan Ramadhan, masjid-masjid hampir selalu penuh oleh jamaah, masjid menjadi “pelampiasan” euphoria Ramadhan. Namun, semakin bergesernya waktu, maka semakin bergeser pula shaf-shaf jamaah. Konsentrasi masyarakat telah berpindah ke pasar, tempat-tempat perbelanjaan, hingga terminal. Padahal di sepuluh hari terakhir ini, Allah menjanjikan bahwa di sana ada lailatul qadar, malam yang lebih utama dari seribu bulan.

Kekonsistenan seseorang dalam beribadah bisa terlihat di akhir-akhir Ramadhan ini. Akan terlihat mana yang memiliki stamina prima. Maka dari itu, sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi momen yang amat dirindukan bagi para pengembara spiritual sejati. Mereka menanti dengan harap-harap cemas akan malam seribu bulan yang dijanjikan Allah. Malam yang akan menggetarkan hati sanubari.

Malam yang sangat dinantikan oleh mereka-mereka yang rindu akan kesucian jiwa. Malam yang diinginkan oleh jiwa-jiwa para pencari Tuhan. Malam yang menjadi primadona. Malam yang lebih baik dan lebih utama dari seribu bulan, seperti dalam penggalan ayat-Nya yang mulia, “Lailatul Qodar itu lebih baik daripada seribu bulan (Al-Qodr : 3)”. Curahan segala kebaikan dan keutamaan akan diturunkan pada malam itu.

Ramadhan akan bergegas menuju akhir hitungan. Allah pun tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan. Entah apakah kita masih disertakan oleh Nya atau tidak. Menangislah untuk Ramadhan yang akan hilang. Biar butir bening itu menjadi saksi di hari akhir kelak. Biar ratapan pilu itu menjadi saksi di hari pembalasan. Bersedihlah untuk dosa-dosa yang belum diampuni, sedangkan kita─khususnya saya─masih menambahnya dengan stok dosa baru.

Mari kita tuntaskan fase terakhir ini dengan gemilang karena besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhan semakin jauh berlari. Secara tidak sadar, gerbang akhir Ramadhan tiba-tiba harus kita masuki juga. Sebelum semuanya terlambat dan sebelum semuanya berujung pada penyesalan. Mari kita sama-sama berjuang dan saling mengingatkan untuk totalitas dalam memanfaatkan sepuluh malam terakhir ini. Mudah-mudahan derajat taqwa yang dijanjikan Allah itu bisa kita raih sehingga menjadikan kita manusia yang paripurna. Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu membaca doa indah ini :

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni…

Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun lagi mencintai ampunan. Maka, ampunilah aku..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s