Ramadhan 25 : Ramadhan yang Mabrur

Sabtu, 25 Ramadhan 1431 H / 4 September 2010

Kawan, apa kabar Ramadhanmu hingga hari ini? Mudah-mudahan tidak sekedar baik, tapi luar biasa. Saya mendapatkan pelajaran berharga dari ceramah tadi pagi di masjid DT tentang ciri-ciri mabrurnya Ramadhan yang kita jalani. Hal ini juga menjadi bahan evaluasi bagi kita─khususnya saya─dalam menjalani Ramadhan tahun ini.

Ciri-ciri mabrurnya Ramadhan, disingkat dengan 5S :

  1. Salimul Aqidah (Akidah yang semakin baik)
  2. Ramadhan akan menempa diri kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Ditandai dengan semakin kuatnya ikatan hati kita kepada Allah. Semakin kuat ikatan itu, akan semakin rindu kita kepada Allah. Dalam praktiknya, kita akan merasa sedih jika melewatkan momen-momen ibadah. Merasa sedih jika tertinggal sholat berjamaah, merasa menyesal karena terlewat sholat dhuha, dan contoh lainnya yang membuat kita menyesal jika melewatkan momen kebaikan.

  3. Salimul Ibadah (Ibadah yang semakin baik)
  4. Bagaimana dengan kondisi ibadah kita? Apakah bertambah kualitas dan kuantitasnya? Hal ini juga yang menjadi parameter mabrur-tidaknya Ramadhan kita. Jika pada saat sebelum Ramadhan masih melewatkan ibadah-ibadah sunah, maka Ramadhan ini adalah momen yang tepat untuk meningkatkan amalan-amalan sunah. Entah itu sholat dhuha, membaca Al-Quran, sholat rawatib, ataupun amalan-amalan sunah lainnya.

  5. Salimul Akhlak (Akhlak yang semakin baik)
  6. Mabrur-tidaknya Ramadhan juga bisa dilihat dari parameter akhlak kita. Apakah semakin hari semakin baik, atau masih seperti dulu, sama saja? Memang, karakter seseorang itu sulit untuk diubah, karakter menjadi suatu barang yang unik dari setiap manusia. Namun, walaupun karakter cenderung “permanen” atau istilahnya dari sononya begitu”, tapi akhlak seseorang dapat diperbaiki. Melalui Ramadhan, akhlak kita akan dibina hingga melahirkan kesalehan sosial.

  7. Salimul Fikr (Pemikiran yang semakin baik)
  8. Kualitas pemikiran seseorang dipengaruhi oleh ilmu yang dia terima dan dari kondisi lingkungannya. Ilmu yang didapat bisa bersumber dari bahan bacaan, tontonan, majelis taklim, bangku formal hingga pergaulan. Ilmu yang didapat akan mengakar menjadi pemahaman yang melandasi pola pikirnya, lalu pola pikir itu akan melahirkan suatu tindakan yang berujung pada karakter seseorang. Semakin baik ilmu yang didapat, akan semakin baik pemikiran seseorang. Ramadhan menjadi ajang pembelajaran yang berharga untuk meningkatkan kapasitas pemikiran seseorang.

  9. Salimun Nafs (Jiwa yang semakin baik)
  10. Jika merujuk pada pepatah “mensana in corpore sano” : di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, maka Ramadhan adalah momen yang tepat untuk menyehatkan tubuh dan jiwa sekaligus. Bagaimana tidak? Para ahli kesehatan pun bersepakat bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan seseorang. Dari tubuh yang sehat itu, seseorang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya secara maksimal. Selain itu, puasa dapat menahan hawa nafsu seseorang sehingga jiwanya akan terlatih untuk menghindari kesia-siaan─yang merupakan tanda baiknya seorang muslim. Dari kombinasi dua kesehatan tubuh dan jiwa itu, kemudian akan melahirkan manusia yang paripurna.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah : adakah kelima tanda-tanda itu bersemayam pada sudut-sudut diri kita? Apakah Ramadhan ini telah membina diri kita─khususnya saya─menjadi pribadi yang mabrur? Tidak perlu dijawab dengan kata-kata. Mari kita sama-sama mengoptimalkan sisa-sisa Ramadhan yang kian menipis untuk mengejar tanda-tanda kemabruran itu. Semoga kita digolongkan ke dalam hamba-Nya yang bertakwa. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s