Ramadhan 27 : Tentang Makna “Mudik ke Kampuang Nan Jauh di Mato”

Senin, 27 Ramadhan 1431 H / 6 September 2010

Rasanya, kita perlu berbangga kepada bangsa kita sendiri karena memiliki berbagai macam tradisi. Tradisi yang menjadi andalan di penghujung Ramadhan ini adalah mudik. Tradisi yang benar-benar hanya ada di Indonesia, saban tahun. Mudik telah menjadi kesibukan tersendiri yang menjadi fenomenan budaya yang menarik. Berbondong-bondong masyarakat bergerak serentak menuju kampung halamannya masing-masing, hanya demi satu maksud : merayakan hari sakral di tempat mereka berasal. Kampung halaman telah menjadi semacam ruang masa lalu.

Kampung halaman menjadi suatu teritorial eksotis yang dipertentangkan dengan kota. Dia─kampung halaman─diimajinasikan sebagai tempat berteduh untuk mendapatkan rasa aman eksistensial dan menemukan kembali inspirasi. Dia merupakan pelepasan dari cengkeraman kota yang penuh hiruk-pikuk dan segala aroma persaingannya. Kampung halaman adalah sebuah tempat perenungan manusia tentang hakikat darimana ia berasal, tentang hakikat awal kejadian manusia.

Kesadaran ini memiliki sangkut-pautnya dengan penafsiran ihwal kesakralan Idul Fitri, puncak dari proses pembersihan jiwa─melalui proses Ramadhan─saat manusia lahir kembali dan mencapai fitrahnya sebagaimana awal mulanya. Tempat bermula inilah yang dibaratkan pada kampung halaman dan keluarga. Maka, jangan heran jika budaya mudik ini terus berlangsung setiap tahun, entah sejak kapan dan siapa pencetusnya.

Jangan heran pula, jika sebagian (besar) orang yang mudik rela melakukan apapun demi mencapai kampung halamannya. Gerak serentak para pemudik membuat urat nadi perekonomian semakin berdenyut kencang. Segala hambatan tak pernah menyurutkan keinginan untuk hadir di kampung halaman karena mudik adalah upaya untuk menghadirkan tubuh di kampung halaman. Hadirnya tubuh di kampung halaman tak bisa diwakilkan oleh kecanggihan alat komunikasi atau kemajuan teknologi apapun. Kehadiran menjadi mutlak.

Mudik juga dapat dipandang sebagai ritual tahunan manusia urban untuk kembali bersilaturahmi dengan masa lampau─disimbolkan oleh kampung halaman tempat dia berasal. Masyarakat merantau ke berbagai penjuru daerah untuk mengadu nasib, “diceraikan” dari kampung halamannya oleh kewajiban mencari nafkah. Pada suatu saat, harus ada perayaan sebagai momen untuk kembali berkumpul. Perayaan apa yang lebih besar dari momen Idul Fitri? Di momen magnetis itulah, semua berkumpul untuk bernostalgia tentang kenangan-kenangan lama dan merencanakan pencapaian-pencapaian baru.

Dalam konteks masa kini, ketika teknologi menjadi sandaran, dikotomi kampung halaman dan kota adalah jarak yang semakin kabur, menjadikan dunia serasa datar dan tak berbatas. Keduanya hanya dipisahkan oleh jarak secara fisik, tapi tidak secara kultural. Teknologi informasi dan tontonan televisi telah menjadi sihir yang merasuki budaya masyarakat. Nuansa kampung halaman tidak lagi dihidupi oleh etos desa seperti dulu, ketika sawah-sawah masih hijau, ketika peralatan tradisional masih menjadi andalan. Namun, kini semua telah beralih, pelan tapi pasti. Tak sedikit masyarakat pedesaan yang memiliki mental dan orientasi budaya layaknya orang kota.

Pulang kampung kini tidak sekedar proses mekanis perpindahan secara fisik dari kota ke kampung halaman. Kini, pulang kampung telah dimuati dengan unsur status sosial, mengusung gaya hidup modern, bahkan mungkin ada yang bermuatan politis. Namun, yang menjadi masalah kini adalah bagaimana memaknai pulang kampung atau mudik bukan sekedar event tahunan, tapi justru makna di balik itu. Apakah kita masih menemukan makna kampung halaman seperti dulu? Tempat bagi kita berkontemplasi ke masa lalu.

Mudik benar-benar telah menjadi panggung drama kolosal yang mempertontonkan unsur budaya, sosial, hingga ekonomi─atau mungkin juga politis. Dengan mudik, jembatan nostalgia disambungkan kembali. Menghadirkan gambaran suasana desa yang hening di tengah perangai kota yang memabukkan. Mudik lebaran adalah gerak eksodus yang spontan dari warga keluarga jaringan yang tercerai oleh gerak pencarian nafkah dan tuntutan ilmu.

Dalam mudik, kehangatan kekeluargaan itu terbangun kembali. Silaturahmi terjalin erat, persaudaraan semakin merasakan buah manisnya. Semangat kekeluargaan yang dijangkarkan pada semangat sabilulungan. Akhirnya, selamat mudik bagi kawan-kawan yang mudik, semoga selamat sampai di tujuan dan semoga terus terjalin ikatan kekeluargaan di antara kita.

Kampuang den nan jauah di mato
Gunuang sansai bakuliliang
Takana jo kawan-kawan den lamo
Sangkek basuliang-suliang

Panduduaknyo nan elok
Nan suko bagotong-royong
Susah sanang samo samo diraso
Den takana.. jo kampuang

Reff. :

Takana….. Jo kampuang…..
Induak ayah adiek sadonyo

Raso maimbau-imbau den pulang
Den takana jo kampuang….

…Takana….. Jo kampuang…..
…Takana….. Jo kampuang…..

One thought on “Ramadhan 27 : Tentang Makna “Mudik ke Kampuang Nan Jauh di Mato”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s