Ramadhan 28 : Mengantar Kepergian Ramadhan

Selasa, 28 Ramadhan 1431 H / 7 September 2010

Ramadhan telah memberi isyarat pada kita melalui gerbang penghabisannya bahwa ia akan berlalu meninggalkan kita. Ada semacam perasaan haru sekaligus bahagia di hati ini. Haru karena akan ditinggalkan oleh bulan teristimewa sekaligus dibalut oleh perasaan bahagia karena akan menyambut kembali fitrah seorang manusia. Ada pula perasaan harap-harap cemas yang menyusup halus dalam relung hati ini. Masihkah saya dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang? Saya tak tahu.

Terasa cepat sekali waktu berlalu. Seakan baru kemarin merasakan euphoria dalam persiapan menyambut bulan Ramadhan, tapi kini harus bersiap-siap lagi dengan perpisahan. Begitulah tabiatnya, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Namun, jika saya boleh berharap, ijinkan Ya Allah untuk bisa bertemu lagi dengan Ramadhan, rasanya dahaga keimanan ini belum terpuaskan. Ijinkan Ya Rabb untuk meneguk kembali jamuan-Mu yang teramat istimewa ini. Itu pun jika saya boleh berharap.

Namun, jika Engkau mengijinkan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan yang akan datang, ijinkan saya untuk bisa mereguk semaksimal mungkin kesempatan yang Kau hadirkan. Putuskanlah hubungan cintaku dengan kemaksiatan, hancur-leburkan kesenanganku pada dunia yang menipu, dan porak-porandakanlah nafsuku yang mengarah pada kejahiliyahan. Itu pun jika saya boleh berharap Ya Rabb, sebab dosa saya terlalu banyak, tak pantas saya meminta yang macam-macam dari-Mu Ya Rabb. Namun, saya tahu Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maaf, Kawan, bukan maksud saya untuk mengajak pada sebuah ratapan kosong. Namun, saya ingin mengajak pada sebuah pengharapan, pengharapan untuk selalu mendapat yang terbaik dalam hidup ini. Pengharapan yang dilandasi kesadaran bahwa kita memiliki keterbatasan. Keterbatasan akan usia. Pengharapan yang dilandasi oleh kesadaran terhadap realita bahwa Ramadhan akan berlalu dan pada suatu saat nanti kita tidak dapat lagi menjumpai Ramadhan. Maka, bolehkah jika saya berharap? Bukankah harapan tidak akan pernah mati?

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, atas segala upaya yang telah dilakukan, kita telah melakukan ibadah di bulan Ramadhan dengan segala romantikanya. Namun, romantika itu pasti akan menyeruak ke permukaan jika akan menghadapi perpisahan. Dengan lembut Allah mengarahkan, ketika kita sudah menyelesaikan suatu urusan maka kita harus segera mengerjakan urusan yang lain. Cukup sudah kita dibina di bulan Ramadhan, maka nilai-nilai Ramadhan di bulan-bulan berikutnya itulah yang lebih penting.

Sebuah renungan besar yang datang pada kita adalah apakah ibadah-ibadah di bulan Ramadhan itu berhasil menjadikan kita lebih baik? Apakah puasa yang kita lakukan ada pengaruhnya dalam kehidupan kita setelah Ramadhan? Apakah shalat tarawih yang kita laksanakan ada dampaknya? Bacaan Al-Qur’an yang kita lantunkan di bulan Ramadhan apakah membekas? Atau semuanya itu pergi bersamaan dengan perginya bulan Ramadhan? Jika semua itu pergi bersamaan dengan perginya bulan Ramadhan, maka sia-sia lah Ramadhan kita, hanya menahan lapar dan haus saja. Na’udzubillah.

Masih terngiang keindahan Ramadhan itu di pelupuk mata saya. Sebagian besar umat muslim berlomba-lomba memakmurkan masjid-masjid-Nya, suasana subuh yang lebih ramai dari biasanya, suasana berbuka yang begitu romantis, setiap orang saling menawarkan makanan. Mereka tahu bahwa memberi makan orang yang berpuasa akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa berkurang sedikitpun. Indah nian Ramadhan ini. Ketika orang menyadari bahwa puasa adalah ibadah antara dia dan Allah semata, tidak ada orang lain yang tahu. Maka, sedapat mungkin ia menahan dirinya dari perbuatan yang sia-sia. Sungguh indah Ramadhan ini. Kebaikan begitu terasa dimana-mana, aura positif menyebar secara cepat. Nuansanya begitu kentara.

Kawan, terasakah oleh kalian bahwa Ramadhan telah mendidik manusia menjadi insan bercahaya? terasakah puasa mengajarkan kita untuk menahan diri dari kesia-siaan? Terasakah Ramadhan pun telah memfasilitasi kebersamaan diantara kita? Namun, segala fasilitas itu akan segera beranjak pergi. Maka, tak pantas jika kita terus bergantung pada Ramadhan. Kita lah yang harus mengubah diri. Jika pun Ramadhan pergi, mudah-mudahan semangat itu masih melekat di dada ini.

Maka, mari kita berharap semoga Allah berkenan menerima ibadah-ibadah yang telah kita lakukan. Marilah kita mohon ampun atas segala kekurangannya. Saya pun memohon maaf kepada kawan-kawan sekalian atas segala tindak-tanduk diri saya. Maka marilah kita terus bekerjasama dalam kebaikan dan saling mengingatkan dalam dekapan kebersamaan. Mari kita sambut bulan-bulan berikutnya dengan optimisme ke arah perubahan yang lebih baik.

Selamat jalan Ramadhan, semoga kita dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s