Ramadhan 29 : Menuju Fitrah Sesungguhnya

Rabu, 29 Ramadhan 1431 H / 8 September 2010

Hampir genap satu bulan kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hampir genap pula kita melewati masa-masa pembinaan di bulan Ramadhan. Ramadhan telah menjadi semacam kawah candradimuka bagi setiap umat muslim, bulan yang menjadi sarana pelatihan jiwa. Tidak hanya melatih mental empati saja─dengan ibadah puasa, tapi juga melatih diri kita untuk mencapai tingakatan tertinggi dalam Islam : Ihsan. Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, yakinlah, Ia melihatmu.

Puasa melatih diri untuk bersikap jujur pada diri sendiri. Hanya diri kita sendiri dan Allah saja yang tahu. Maka, ibadah puasa seyogianya melatih diri untuk selalu menghadirkan Allah dalam setiap sendi kehidupan kita. Dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita, maka tujuan akhir dari ibadah puasa yaitu ketakwaan akan tercapai. Oleh karena itu, puasa menjadi barometer dan garis demarkasi yang jelas antara yang mengaku dirinya muslim dan mukmin. Ia juga sebagai wadah penguji antara yang orisinil dan imitasi. Inilah pesan moral puasa. Kristalisasi ketakwaan seorang muslim adalah pada saat memasuki Idul Fitri.

Hari Raya Idul Fitri adalah gerbang menuju fitrah manusia sesungguhnya. Setelah melakukan pembersihan diri dari segala keburukan di bulan Ramadhan, maka muncullah manusia-manusia paripurna yang telah menggapai kembali fitrahnya. Lantunan takbir, tahlil, tahmid di malam satu Syawal telah mengikis segala ego kita. Begitu dilantunkan Allahu akbar, rontoklah segala keangkuhan diri kita. Ketika ditegaskan laa ilaha illallâhu, robohlah segala belenggu-belenggu selain Allah. Begitu dikumandangkan alhamdulillah, terketuklah jiwa ini akan segala nikmat dari-Nya.

Menurut Quraish Shihab, makna  Idul fitri adalah kembali pada kesucian. Id berarti  kembali, sementara fitri berasal dari kata kerja fatara-yafturu yatg berarti  suci. Kesucian  (fitrah) ini  merupakan gabungan dari tiga unsur yaitu: benar, baik, dan indah. Sehingga seorang yang ber-idul fitri  dalam arti “kembali ke kesuciannya” akan selalu berbuat yang baik, benar, dan indah. Bahkan, lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya melalui kacamata positif. Ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan, dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat, ia selalu mencari sisi positifnya  dalam  sikap   negatif tersebut. Dan kalaupun tidak diketemukannya, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat  baik kepada yang melakukan kesalahan.

Maka, Idul Fitri bermakna “kembali kepada kesucian (fitrah)”. Fitrah itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu  fitrah asal (fitrah primordial) dan fitrah persamaan (fitrah egalitarian).

  1. Fitrah asal (fitrah primordial)
  2. Fitrah ini berarti kesucian yang bersemayam di dalam diri kita sejak kita diciptakan, saat awal mula kejadian manusia. Fitrah yang mengikat manusia dengan perjanjian asalnya dengan Allah, seperti yang terdapat pada Q.S Al-Araf : 172, “ … Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi …”. Manusia akan tetap berada pada kesuciannya itu selama tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk. Kesucian (fitrah) itu akan selalu mendorong manusia untuk berbuat baik dan benar. Pada saat Idul Fitri, fitrah kita lahir kembali setelah bergulat dengan hiruk-pikuk kehidupan.

  3. Fitrah persamaan (fitrah egalitarian)
  4. Fitrah ini berarti kembalinya manusia kepada fitrah persamaan. Pada hakikatnya, manusia diciptakan sama antara satu dan yang lainnya. Namun, yang menjadi pembeda adalah kadar ketakwaannya. Fitrah ini mengandung nilai persamaan yang menegaskan ajaran menghormati sesama manusia dalam semangat persamaan (egaliter), keadaban (civility), dan keadilan (justice). Faktor ini yang menjadi cikal-bakal pembentukan masyarakat madani (civil society). Warisan masyarakat madani yang berharga adalah nilai persamaan (egaliterianisme). Rasa persamaan itu dapat  terhimpun kembali pada hari  idul fitri.

Berdasarkan pemaknaan “kembali kepada kesucian (fitrah)” ini, perlu kita tegaskan kembali hakikat makna kebersamaan untuk mewujudkan cita-cita bersama dan untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Umumnya, dalam rangka membangun bangsa. Semoga dalam hari yang fitri, kita semua benar-benar menjadi manusia yang kembali kepada kesucian (fitrah) yang sesungguhnya.

Ja’alanallahu  wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin :

Semoga  Allah menjadikan kita dan kamu semua dari golongan orang-orang yang kembali kepada fithrah, dan memperoleh kemenangan berupa pengampunan dan ridho dariNya, serta meraih nikmat surga.

Taqobbalallahu minnaa wa minkum, shiyamana wa shiyamakum..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s