Ramadhan 30 : Sebuah Epilog

Kamis, 30 Ramadhan 1431 H / 9 September 2010

Sungguh setiap perpisahan yang akan dijelang selalu menyesakkan dada. Ramadhan akan beranjak dari putaran waktu kita. Hanya beberapa saat lagi. Tinggal menunggu waktunya tiba. Sang waktu lagi-lagi tak mau berkompromi, terus saja berjalan tanpa mau disogok. Perpisahan dengan Ramadhan kian dekat, gerbang penghabisan telah menanti di pelupuk mata. Perpisahan itu kian nyata, tak lagi menjadi fatamorgana. Maka, terhenyaklah hati ini mengingat waktu-waktu yang telah dilalui. Adakah diri ini menjadi lebih baik? Ataukah hanya sekedar mengikuti arus waktu?

Kita pun tak tahu dengan nasib amalan-amalan kita, apakah diterima ataukah ditolak-Nya? Sungguh hati ini berharap-harap cemas akan rahmat dan ampunan-Nya. Mengharap keadaan diri kita yang jauh lebih baik dari sebelumnya dan sangat mengharap janji Allah dalam ayat-Nya yang mulia, “ … agar kamu bertakwa”. Sebuah pengharapan yang teramat besar bagi kita untuk meraih predikat takwa. Predikat yang akan menjadikan kita mulia di hadapan-Nya. Namun, hanya Allah yang Maha Tahu kepada siapa saja predikat itu akan disematkan.

Waktu tak dapat diputar dan Ramadhan akan terus memaksa pergi. Pergi dengan menyisakan kerinduan dan meninggalkan romantika. Masih terbenam kerinduan itu di diri ini. Rindu menikmati jamuan sholat tarawih, rindu untuk bersafari ke masjid-masjid-Nya, rindu akan lantunan syahdu Imam Syuhud al-Hafidz di masjid DT, rindu akan tausyiah yang selalu memberikan pencerahan, rindu pada proses pembelajaran Ramadhan yang selalu menghadirkan inspirasi-inspirasi baru untuk menulis, rindu pada kebahagiaan tegukan pertama saat berbuka puasa, dan rindu pada kerinduan Ramadhan itu sendiri.

Sungguh kerinduan itu tak dapat tertahankan. Rindu pada kebersamaan makan sahur dan berbuka, rindu pada perjuangan menegakkan sholat yang khusyu, dan rindu pada setiap momen-momen doa yang diijabah. Perpisahan Ramadhan itu kian dekat. Melintaskan kembali kerinduan pada momen-momen sepuluh malam terakhir. Rindu pada safari itikafnya, mencari masjid-masjid terbaik, menahan kantuk saat berdiri sholat malam, rindu pada munajat saat waktu mustajabnya doa, menikmati makan sahur sederhana, dan rindu pada perjuangan menahan kantuk setelah subuh. Sungguh, kerinduan itu tak ada di bulan-bulan yang lain. Hanya Ramadhan, sekali lagi hanya Ramadhan.

Namun, bukan hal yang patut dipuji pula jika kita terus berorientai pada kenangan tanpa melakukan aksi ke depannya. Maka, di penghujung Ramadhan ini menjadi momen bagi kita untuk bermuhasabah. Apa saja yang telah kita dapatkan di bulan Ramadhan ini? Adakah nilai-nilai Ramadhan yang menyusup pada diri kita? Adakah perubahan-perubahan yang signifikan pada diri kita? Apakah indikator-indikator ketakwaan itu melekat pada diri kita? Sebuah pertanyaan besar yang menggedor lamunan kita─khususnya saya─dan tentu melahirkan harapan-harapan baru menuju perubahan yang lebih baik.

Lalu, mau apa kita setelah Ramadhan pergi berlalu? Membiarkan ia berlalu begitu saja? Tentu kita berharap nilai-nilai kebaikan Ramadhan terus melekat pada diri kita. Bulan-bulan berikutnya merupakan ujian sesungguhnya, apakah kita masih istiqomah ataukah sudah menyerah? Memang, istiqomah adalah suatu hal yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Oleh karena itu, Allah lebih suka kepada hamba-hamba-Nya yang beramal secara istiqomah walaupun sedikit.

Oleh karena itu, perjuangan di bulan-bulan berikutnya merupakan perjuangan yang berat. Perjuangan yang akan melelahkan jika dilalui seorang diri. Itulah gunanya persaudaraan, itulah manfaatnya semangat kebersamaan. Perjuangan yang berat itu akan terasa ringan jika kita saling mengingatkan, saling memberi nasihat dalam kebaikan, dan saling membantu dalam urusan takwa. Maka, dengan semangat kebaikan itu mudah-mudahan kita bisa meneruskan kebiasaan-kebiasaan baik─sewaktu masa Ramadhan─di bulan-bulan berikutnya. Semangat kebaikan itu akan melahirkan pribadi yang terbaik akhlaknya dan kukuh imannya. Keyakinannya menghujam kuat dan menghasilkan buah pekerti yang baik.

Kuteringat akan syahdunya lantunan ayat-ayat Al-Quran di heningnya malam
Wajah mereka bercahaya oleh bekas guratan air wudhunya
Dahi mereka kehitam-hitaman, saksi bisu ahli sujud…

Mulut-mulut mereka tak lepas dari zikir
Rongga mulutnya kerontang, nafasnya seharum minyak kesturi
Rumah-rumah Allah pun ramai, orang-orang berlomba untuk sujud di dalamnya
Lantai masjid basah oleh air tetesan wudhu…

Tangan kanan sibuk memberi, tangan kiri dibenamkan
Tangan kiri menggenggam buku, tangan kanan memegang pena
Saksi bisu sang pembelajar…

Tangan-tangan mereka menengadah di penghujung malam
Lisan mereka basah oleh pengharapan
air mata menetes dari sudut kerling matanya
Ingin sekali dosa-dosa mereka diampuni
Ingin sekali mereka dipertemukan dengan Ramadhan yang akan datang…

Sejenak ku terhenyak
Adakah itu semua membekas setelah Ramadhan berlalu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s