Bersafari Masjid

Bulan mana selain Ramadhan yang secara signifikan menghidupkan aktivitas masjid? Bulan mana selain Ramadhan yang secara nyata menggiring masyarakat untuk memakmurkan masjid? Barangkali ini merupakan salah satu sudut keberkahan bulan Ramadhan. Bulan yang akan (lebih) menghidupkan urat nadi umat untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang produktif. Terlebih lagi aktivitas itu dalam rangka memakmurkan masjid. Memakmurkan rumah-rumah Allah.

Ramadhan akan melatih diri kita untuk lebih mencintai masjid. Segala aspek pembinaan dan ibadah yang kita jalani selalu berdekatan dengan masjid. Baik itu pada saat sholat berjamaah, mengikuti kajian majelis taklim, berbuka puasa bersama, hingga sholat isya dan tarawih berjamaah. Secara tidak langsung, Ramadhan (seharusnya) membuat kita selalu berdekatan dengan masjid. Alangkah indahnya nuansa Ramadhan dengan memakmurkan masjid-masjid-Nya

Masjid tidak hanya sekedar melaksanakan ibadah ritual saja (ibadah vertikal), seperti sholat dan membaca Al-Quran, tapi juga merupakan sarana bagi kita untuk melakukan ibadah sosial (ibadah horizontal). Bagaimana tidak? Masjid merupakan tempat silaturahmi paling manjur. Bayangkan saja, puluhan bahkan ratusan orang berdatangan ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah, dari momen itulah kita bisa saling menyapa dengan salam, sapa, atau bahkan bertemu dengan teman lama. Sungguh indah ukhuwah yang terjalin karena sama-sama mencintai masjid.

Mungkin, bagi sebagian orang, Ramadhan merupakan ajang untuk melakukan safari masjid. Bersafari untuk mencari masjid-masjid terbaik. Berkeliling untuk merasakan indahnya silaturahmi di masjid-masjid yang bertebaran di muka bumi. Merasakan nuansa Ramadhan dari sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu, kita akan lebih merasakan indahnya Ramadhan. Kita akan lebih merasakan indahnya persaudaraan yang terjalin dari satu masjid ke masjid lainnya.

Dari safari masjid itu, kita juga dapat mengambil pelajaran dari masjid dan berbagai kearifan lokalnya. Seperti kata peribahasa, “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” yang artinya lain tempat akan berlainan juga budayanya. Tentu, kita dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kearifan lokal itu. Kita pun dapat belajar untuk saling menghargai dan memaklumi budaya dari masing-masing masjid. Ada yang men-dzahir-kan dzikir setelah sholat, ada yang men-sir-kan. Ada masjid yang memberikan waktu untuk sholat sunah sebelum sholat wajib, ada masjid yang langsung menegakkan sholat wajib setelah adzan dikumandangkan. Begitulah warna citarasa yang mengajarkan kita untuk saling menghargai.

Bersafari masjid pun dapat menambah pengalaman dan wawasan kita dalam mengenal manajemen masjid yang baik. Kita bisa membanding-bandingkan antara masjid yang satu dengan masjid yang lain. Mana diantara masjid-masjid yang telah kita singgahi itu yang merupakan masjid yang terbaik manajemennya. Manajemen masjid yang baik itu bisa kita lihat dari segi pelayanan jamaahnya, kebersihan masjidnya, tingkat kemakmuran masjidnya, kenyamanan para jamaah, kualitas bacaan imam, hingga kualitas penceramah di masjid yang bersangkutan.

Selain itu, kita akan lebih mengenal budaya-budaya masjid yang mengandung unsur bid’ah. Untuk kemudian bisa menjadi pelajaran bagi kita agar tidak turut melestarikannya. Adapun masjid yang menggunakan karpet berbentuk sajadah. Secara psikologis, menurut saya kurang baik. Mengapa? Karena jamaah akan terpaku pada karpet berbentuk sajadah itu sehingga akan melonggarkan barisan sholat. Bukankah Rasulullah menyuruh kita untuk merapatkan barisan? Sebaiknya lantai ataupun karpet untuk sholat tidak mengandung unsur pembatasan, cukup batas antar shaf saja, selebihnya polos saja. Jika setelah selesai sholat berjamaah dan kita ingin bersalaman, pastikan tidak mengganggu jamaah yang sedang zikir. Jangan sampai juga colekan tangan kita mengganggu jamaah yang sedang khusyu berdoa. Sebaiknya tahan hingga beres berzikir dan berdoa, baru silakan bersalaman.

Mungkin, itulah “sedikit” hikmah yang bisa kita dapatkan dari masjid-masjid Allah yang bertebaran di muka bumi. Selebihnya, masjid masih memiliki pesona dan fungsi yang powerful di tengah-tengah masyarakat. Jika merujuk pada masa Rasulullah, selain digunakan sebagai tempat ibadah, masjid juga dijadikan sebagai tempat untuk bersilaturahmi, tempat membuat strategi perang, tempat bermusyawarah, tempat menyampaikan ilmu, dan sebagai pusat dakwah. Begitu besar keutamaan masjid dan orang yang memperbanyak langkahnya menuju masjid, seperti sabda Rasulullah :

Barangsiapa yang hendak pergi ke masjid hendak sholat berjamaah, maka satu langkah menghapus kesalahan dan satu langkah lagi dituliskan baginya suatu kebaikan (diangkat derajatnya), baik dikala pergi maupun pulang.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

Masih banyak keutamaan-keutamaan lain tentang masjid, mari kita gali hikmahnya dan mudah-mudahan Allah mempermudah langkah dan niat kita untuk tetap memakmurkan masjid. Semoga Ramadhan ini menjadi semacam pelatuk yang akan memicu kita menjadi pemakmur masjid. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s