Perbaiki Diri, Solusi Konkret Perbaikan Bangsa

Mungkin bagi sebagian orang, ia akan cenderung lebih mudah melihat jauh kesalahan di depan mata ketimbang melirik kesalahan yang ada pada dirinya. Seperti peribahasa, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, tetapi kuman di seberang lautan tampak.” Padahal, bisa jadi setiap akibat yang ia terima adalah buah dari perilakunya sendiri. Buah pahit yang diterima adalah investasi dari penanaman benih yang pahit. Sebaliknya, buah manis yang diterima adalah investasi dari penanaman benih yang baik. Hukum Kausalitas berlaku disini. Ada sebab ada akibat.

Berbicara tentang permasalahan bangsa, media massa seolah tidak pernah berhenti mengungkapnya. Seakan permasalahan itu lari dari masalah yang satu ke masalah yang lain. Seperti lari dari mulut harimau lalu masuk ke dalam mulut buaya. Sebuah transformasi yang tak berkesudahan. Transformasi yang berkutat pada masalah. Namun, akan semakin menjadi masalah jika kita terus mengeluhkan permasalahan tersebut tanpa dibarengi dengan keinginan dan tekad untuk mentransformsaikan diri ke arah perubahan yang lebih baik.

Pernahkah kita merenung sejenak? Mencoba mengenali diri kita sendiri? Mencoba mengenali setiap potensi yang ada pada diri kita? Merenungkan kembali hakikat keberadaan diri, untuk apakah kita diciptakan? Bahwa sebenarnya solusi-solusi yang mampu menjawab setiap permasalahan bangsa kita berada sangat dekat dengan diri kita. Ia bersemayam dalam diri kita sendiri. Ia mengendap dalam diri kita menunggu untuk diledakkan potensinya. Ia menunggu untuk dimanfaatkan. Ia adalah diri kita sendiri.

Sadarkah, kawan? Solusi itu sangat dekat, tapi perlu diperjuangkan dengan semangat yang ekstra. Tidak perlulah kita menghujat para petinggi negeri ini demi melepaskan hajat pribadi. Tidak perlulah kita menunjuk orang lain yang menjadi biang permasalahan. Tengoklah diri sendiri, apakah sudah merasa lebih baik dari orang lain sehingga kita lancang dalam berkata dan bertindak? Memang, kemungkaran itu harus dimusnahkan. Akan tetapi, tidak ada artinya jika menuntut orang lain menjadi baik, sedangkan kita tidak menuntut diri kita sendiri. Alangkah naifnya.

Permasalahan bangsa yang berseliweran di sekeliling kita sebenarnya berakar pada karakter dan mentalitas manusianya. Percuma saja mengadakan pembangunan fisik disana-sini, membangun fasilitas pendidikan dan kesehatan, membangun infrastruktur untuk kelancaran perekonomian, dan segenap pembangunan yang bersifat fisik lainnya jika tidak dibarengi dengan pembangunan mental dan pendidikan karakter manusianya. Memang, pembangunan fisik itu penting untuk menunjang penghidupan yang layak. Akan tetapi, ada hal mendasar yang kerap luput dari program pembangunan bangsa : membangun mentalitas dan karakter manusianya itu sendiri.

Jadi, melakukan pembangunan fisik yang gencar tanpa dibarengi dengan pendidikan karakter ibarat membangun fondasi di atas tanah berpasir. Suatu saat akan goyah dan akan merubuhkan bangunan itu sendiri. Namun, adakah fasilitas untuk membangun mentalitas dan karakter itu sendiri? Jawabnya ada : pendidikan yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman, makna pendidikan itu sendiri telah mengalami pergeseran nilai. Banyak campur tangan pihak tertentu sehingga mendangkalkan makna pendidikan itu sendiri. Maka, pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan jika kita tidak memaknai hakikat dari pendidikan itu sendiri; tentang hakikat meningkatkan kualitas diri.

Kembali ke benang merah maksud tulisan ini, sebelum terlalu jauh menuntut orang lain menjadi seperti yang kita harapkan, mari kita tuntut diri kita sendiri menjadi pribadi yang orang lain harapkan. Permasalahan bangsa yang kian berkecamuk adalah gambaran manusianya itu sendiri. Tak bijak rasanya, jika terus menuntut perubahan bangsa tanpa menuntut perbaikan diri. Seperti yang dikisahkan dalam sebuah cerita; ada seseorang yang berniat mengubah negaranya lalu ia menyerah karena ia menganggap itu terlalu berat. Maka, ia mengendurkan targetnya hingga mencapai kesimpulan bahwa untuk mengubah suatu hal yang besar harus diawali dengan perubahan-perubahan kecil. Perubahan itu dimulai dari diri sendiri. Perbaikan itu diawali dari diri sendiri, dari hal-hal yang kecil, dan mulai saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s