Parijs van Java : Refleksi 200 Tahun

Jika kita lontarkan sebuah pertanyaan tentang kesan dan citra kota Bandung pada seorang pendatang, mungkin ada beberapa jawaban yang membuat warga Bandung asli terheran-heran. Sebagian pendatang mungkin akan menjawab bahwa Bandung adalah kota yang sejuk. Sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa Bandung adalah surga belanja dan objek wisata kuliner. Ada juga yang menjawab : Bandung sebagai kota yang memiliki anak-anak muda kreatif. Memang, sebagian ada benarnya. Namun, sebagian lagi hanya tinggal kenangan masa lalu. Kini hanya tinggal jejak-jejak yang tak berbekas.

Bandung telah mengalami berbagai transformasi. Entah itu transformasi tata kota, transportasi massal, kependudukan, pendidikan, mode, gaya hidup, hingga trasformasi budaya. Semua itu tak lepas dari perjalanan sejarah kota Bandung itu sendiri. Jika dahulu orang-orang mengenal Bandung sebagai Parijs van Java, kota dengan berbagai macam mode dan kreativitas. Layaknya kota Paris yang dikenal dunia sebagai kota mode. Namun, kini citra itu telah mengalami pergeseran. Bandung telah dieksploitasi sebagai kota bisnis dan jasa. Persis seperti visi Walikota Bandung : Bandung sebagai kota jasa yang bermartabat.

Akibatnya, pertumbuhan industri─baik jasa maupu produk─semakin berkembang pesat. Maka, tak heran jika kini Bandung tak sealami dulu lagi. Keindahan alami kota Bandung harus mengalah pada roda globalisasi. Terlebih lagi setelah adanya jalan tol Cipularang yang membuat jarak dengan ibukota negara semakin dekat, rentetan pendatang semakin tak terbendung. Akhir pekan menjadi sangat hiruk-pikuk. Lalu-lintas padat, kenyamanan kota berkurang. Memang, pembangunan infrastruktur memperlancar perekonomian. Hanya saja, jika tak diiringi sikap yang bijak justru akan mendatangkan masalah-masalah baru. Pembangunan yang kian hari kian tumbuh akan mengurangi daya dukung lingkungan itu sendiri. Maka, udara sejuk kota Bandung yang menjadi citra bagi pendatang telah musnah ditelan zamannya.

Dari sisi transportasi pun kita tak mendapat suatu pencerahan yang berarti. Moda transportasi umum yang kian menjadi andalan perkotaan dan diharapkan bisa menjadi solusi kemacetan, malah menjadi salah satu biang kemacetan di kota Bandung. Menjamurnya angkutan kota justru menambah daftar panjang masalah transportasi massal dan kemacetan di kota Bandung. Selain itu, Bandung pun telah mendapat pencitraan sebagai kota yang banyak memiliki jalanan berlubang. Bagaimana tidak? Hampir di setiap ruas jalan dihiasi oleh lubang-lubang yang cukup menganga. Faktor jalan pun menambah daftar panjang masalah transportasi kota Bandung. Ada hal yang kadang terlupakan ketika memperbaiki jalan, yaitu membuat saluran drainase yang baik. Percuma saja memperbaiki jalan yang rusak jika tidak dibarengi dengan perbaikan saluran drainase. Lambat-laun, air hujan akan mengikis aspal yang membuat jalan menjadi mudah berlubang.

Ada juga yang mengatakan bahwa Bandung adalah gudang anak muda kreatif. Di satu sisi, pernayataan itu benar, tapi di sisi lain pernyataan itu bisa membuat malu sendiri bagi warga Bandung asli. Menjamurnya distro-distro, kelompok seni, sineas muda, hingga paguyuban atas dasar kesamaan hobi adalah cerminan kreativitas anak-anak muda Bandung. Bandung pernah menjadi icon-nya anak-anak muda kreatif. Namun, di sisi lain, ulah anak muda Bandung kian menjadi sorotan. Bukan karena prestasinya, tapi karena tindakan brutalnya. Maraknya aksi geng motor yang kerap meresahkan warga Bandung kian mencoreng citra anak muda Bandung. Pemuda yang (seharusnya) menjadi harapan kota Bandung justru mencoreng wajah kotanya sendiri. Citra anak muda Bandung telah berbalik secara drastis.

Berbicara masalah lingkungan, citra udara Bandung yang sejuk telah memudar. Sarana transportasi kian tumbuh subur. Maka, tak heran jika kini sulit sekali menghirup udara segar. Ditambah lagi dengan efek pemanasan global, cuaca kota Bandung pun kadang tak menentu. Siang hari terasa sangat terik, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Sulit diprediksi dengan mata telanjang. Jika saja kita mencoba untuk melihat wajah Bandung dari dataran yang lebih tinggi, kita akan melihat asap polusi yang menggelayut di atas langit kota. Polusi itu benar-benar nyata. Udara sudah kian terkontaminasi.

Rasanya, Bandung kini tidak seperti dulu lagi. Kota yang menjadi idaman bagi para pelancong yang mendambakan udara segar perkotaan. Bandung telah tereksploitasi oleh zamannya. Terus tergerus oleh arus yang menamakan dirinya modernisasi. Jejak-jejak sejarah kian tersingkir, heritage terus terdesak oleh tuntutan lahan ekonomi. Bandung sudah kian memudar pesonanya, telah semakin luntur daya tariknya. Namun, adakah menjadi bahan refleksi di hari jadi yang ke-200 ini? Perilaku warga kota sangat memengaruhi kondisi kotanya. Warga kota yang tidak peduli akan lingkungan kotanya tentu akan mengakibatkan kota menjadi tidak nyaman. Sebaliknya kota menjadi sangat nyaman bila warganya peduli dan berwawasan lingkungan.

Upaya Pencarian Solusi

Kondisi Bandung kini tidak terlepas dari “saham” para masyarakatnya dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Kondisi kota Bandung saat ini adalah akumulasi dari kebijakan-kebijakan pemerintah di masa lalu yang tidak berorientasi jangka panjang, tapi hanya berorientasi jangka pendek dan lebih mementingkan faktor ekonomis sesaat. Akibatnya, pembangunan yang ada tidak dapat berjalan secara berkesinambungan. Masyarakat kini hanya menikmati sisa-sisa sepah masa lalu. Perlu dibuat kebijakan-kebijakan yang bersumber dari pemerintahan yang bersih dan berasal dari budaya good governance.

Tidak cukup dari kalangan pemerintah saja, tapi juga dibutuhkan andil dari kalangan masyarakat dan pengusaha untuk sama-sama bergerak ke arah perubahan bagi kota Bandung. Harus ada keterbukaan dari pihak pemerintah kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak terus berpandangan sinis terhadap kebijakan yang diputuskan pemerintah. Sikap saling percaya inilah yang kian memudar. Maka, jika ingin menumbuhkan masyarakat madani yang sinergis antara pemerintah dan masyarakatnya, perlu dilakukan pembenahan di segala aspek. Kesemuanya itu dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi asas keterbukaan (transparansi).

Masyarakat Bandung sebagian besar berasal dari suku Sunda yang kental dengan citra : “Soleh, nyunda, dan santun”. Maka, seyogianya citra suku Sunda tersebut tidak dicoreng dengan perilaku yang jauh menyimpang. Urang Sunda terbiasa dengan kesantunan dan sifat kekeluargaan dalam ikatan sabilulungan. Tolong-menolong sudah menjadi budaya turun-temurun. Maka, sifat-sifat itulah yang (seharusnya) kian merekatkan satu sama lainnya. Permasalahan kota Bandung kini memang seyogianya menjadi tanggung jawab bersama. Dan kesemua permasalahan itu (Insya Allah) bisa teratasi jika kita semua (baca : warga kota Bandung) saling bahu-membahu membenahi kota kita tercinta ini. Kota yang (benar-benar) menjadi sister city atas dasar sabilulungan.



One thought on “Parijs van Java : Refleksi 200 Tahun

  1. Asop

    Ah, Bandung menurut saya ruwet…😦

    Banyak lampu stopan yang mati, bahkan yang mati itu di jalan protokol dan jalan utama yang pasti dilalui pertama kali oleh pendatang (pelancong dari luar kota). Mau ditaruh mana muka Pemkot Bandung ini??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s