Malas Menulis = Malas Berpikir?

Hampir seminggu lamanya saya tidak menggulirkan buah kata ke dalam tulisan. Saya pun mulai bosan sendiri dengan halaman depan blog saya yang masih berhiaskan tulisan lama seminggu yang lalu. Nampaknya, inspirasi dan ide itu sedang buntu. Ide tidak mengalir, mungkin karena intensitas membaca saya berkurang. Inspirasi sedang mandeg mungkin karena pikiran sedang terbagi-bagi menjadi beberapa fokus. Mungkin juga, saya sedang malas berpikir. Namun, alasan-alasan itu kadang menjadi sebuah pledoi yang membenarkan alasan saya. Alhasil, saya tidak menulis selama kurang lebih satu minggu. Bagi saya, ini merupakan suatu perilaku yang tidak produktif dan kontributif.

Pada dasarnya, ide atau inspirasi menulis itu akan selalu ada tergantung bagaimana usaha kita. Selain dari referensi, bisa juga inspirasi itu datang dari kehidupan kita sehari-hari. Hanya saja, semua itu tergantung kepekaan kita untuk melihat hikmah di balik setiap fenomena yang terjadi di sekeliling kita. Kadang pula, inspirasi itu telah membuncah di kepala dan mendesak untuk dikeluarkan. Namun, kadang waktu tidak mau diajak bekerja sama. Inspirasi itu datang, justru ketika kita sedang dalam keadaan sibuk dan masih banyak pekerjaan yang harus diprioritaskan. Sehingga, inspirasi untuk menulis itu harus ditunda dulu demi menyelesaikan sesuatu yang lebih penting.

Dalam masa penundaan itu, justru inspirasi menulis itu telah pergi dan semangat telah mengendur sehingga mau tidak mau harus menjemput inspirasi baru. Memang, menulis bukanlah perkara mudah, tapi juga bukan perkara sulit. Menulis adalah kegiatan intelektual yang mengharuskan kita berpikir kritis, objektif, dan harus dapat dipertanggungjawabkan. Itulah mengapa menulis itu bukan perkara mudah. Namun, jika inspirasi sudah membuncah, dengan mudah buah kata itu akan mengalir dari ujung jemari kita. Itulah mengapa menulis juga bukan perkara sulit.

Menurut Hernowo, menulis adalah sejenis keterampilan. Untuk dapat menguasai keterampilan menulis, seseorang perlu berproses menulis atau membiasakan diri menulis dalam rentang waktu yang panjang─jika merujuk pada prinsip Daniel Coyle : 10.000 hours. Alangkah indah hasil akhirnya apabila ketika selama menjalani latihan-latihan marathon menulis itu, si pelaku juga senantiasa mempraktikkan sikap-sikap ilmiah dalam menulis. Alhasil, bukan keterampilan menulis saja yang diperoleh, melainkan juga watak ilmiah─yang dibangun dari pembiasaan─akan berkembang di dalam dirinya.

Maka, kegiatan menulis erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Tentu belajar membutuhkan proses berpikir dan konsentrasi yang mendalam agar proses kreatif yang dijalankan bisa menghasilkan karya yang baik. Menulis memerlukan membaca dan membaca memerlukan menulis. Ketika kita menulis, pikiran kita mengembara, menjalar kemana-mana, dan kemudian mengumpulkan sebuah pemahaman akan sesuatu yang akan kita tulis. Maka, menulis juga erat kaitannya dengan proses berpikir. Oleh karena itu, malas menulis sama saja halnya dengan malas berpikir. Bukan begitu?



4 thoughts on “Malas Menulis = Malas Berpikir?

  1. Asop

    Nggak juga, malas menulis ya hanya malas menuliskannya aja, belum tentu malas berpikir.😀 Siapa tahu seseorang berpikir terus, tapi disimpen di otaknya doang, dia males menuangkannya di media.😆
    Ide itu sebenarnya ada di sekitar kita. Tinggal kitanya aja yang musti peka dan sensitif terhadap lingkungan sekitar.😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s