Pelajaran Malam Bersama si Bleqi

Suasana malam itu masih terasa hangat oleh kebersamaan meskipun cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan deras kian mereda seiring dengan malam yang beranjak larut. Jamaah mulai beranjak meninggalkan komplek pesantren Daarut Tauhid malam itu. Jamaah hilir-mudik menuju kediamannya masing-masing. Sementara saya, masih duduk menikmati sekoteng yang hangat. Sekoteng yang menjadi teman saya dalam dinginnya malam itu. Ya, selepas Ramadhan, saya mencoba untuk menambah agenda baru sebagai bagian dari proses pembinaan diri saya. Saya isi daftar kosong pada Kamis malam dengan mengikuti kajian Aa Gym. Agenda baru ini adalah bagian ikhtiar saya untuk men­-charge kembali nutrisi jiwa.

Saya pun pulang menembus dinginnya malam itu. Waktu menunjukkan pukul 21.30 di jam tangan saya. Menurut perkiraan, saya bisa tiba di rumah pukul 22.10. Itu pun jika jalanan lancar dan tidak diguyur hujan. Tanpa merasa firasat apa-apa, dengan tenangnya saya pulang sambil menikmati sajian panorama Bandung di malam hari. Pikiran dan jiwa ini terasa lebih fresh, suasana malam yang tenang ditambah lagi dengan udara yang segar─karena telah diguyur hujan─membuat inspirasi saya timbul. Beda halnya ketika siang hari, suasana yang panas ditambah dengan kemacetan telah menutup aliran inspirasi.

Panorama jalan Setiabudi hingga Cihampelas memberikan saya sebuah penyegaran. Jika Bandung setenang ini mungkin akan semakin banyak pendatang yang betah. Seperti halnya Jogja yang membuat saya terpikat untuk pindah ke sana. Namun, imajinasi itu mulai terganggu oleh si bleqisapaan akrab motor saya─yang mulai rewel. Rantainya berdecit-decit, jalannya mulai oleng, roda belakangnya mulai menunjukkan penolakan untuk terus melaju kencang. Sesampainya di jembatan Pasopati, si bleqi benar-benar menunjukkan rasa rewelnya. Si bleqi memutuskan sendiri rantainya, si bleqi pun tak bisa melaju lagi karena elemen penggeraknya telah putus. Dan drama pun dimulai.

Si bleqi memutuskan rantainya tepat di atas jembatan Pasopati. Suasana malam yang dingin ditambah dengan keadaan yang sepi membuat saya sedikit panik. Terlebih lagi dengan suasana jembatan Pasopati yang telah menjadi “daerah operasi” anggota geng motor. Alhamdulillah, kepanikan saya langsung dijawab melalui pertolongan seorang Bapak berseragam tentara yang baik hati, beliau bernama Pak Jejen. Saya bersama si bleqi didorong─sambil merapat ke motor Pak Jejen─ke bengkel terdekat. Awalnya, saya berniat menuju rumah nenek saya yang berada di Cihampelas, tapi justru akan menambah pekerjaan pada keesokan harinya. Saya putuskan untuk membawa si bleqi pulang walaupun harus mendorongnya.

Tepat di samping masjid PUSDAI si bleqi dioperasi di bawah tenda bertuliskan “TAMBAL BAN”. Sambil menunggu, Pak Jejen membuka percakapan. Beliau bercerita tentang anak ITB yang suka mengadakan pelatihan kepemimpinan di Cikole. Beliau memang bertugas disana. Setiap hari beliau pulang-pergi dari rumahnya di Ujung Berung menuju Cikole dan sebaliknya. Pergi pagi dan pulang ketika malam telah larut. Bagi beliau, jarak tidak menjadi masalah karena telah terbiasa dan ini merupakan konsekuensi profesi.

Beliau sempat menemani saya sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Setelah mendapat jaminan dari tukang bengkel bahwa rantai si bleqi bisa dipasang lagi, beliau pun pamit. Sebagai ucapan terimakasih, saya berniat mengganti uang bensinnya. Namun, beliau menolak. Saya belajar dari beliau tentang makna ketulusan dalam menolong. Dan tahukah sahabat, apa yang paling membuat saya sedih saat itu? Saya tidak bisa membalas kebaikan yang sepadan baginya. Namun, rasanya doa merupakan balasan yang saya anggap sepadan saat itu.

“ … Barangsiapa selalu menolong saudaranya maka Allah akan menolongnya. Dan barangsiapa meringankan penderitaan saudaranya maka Allah akan meringankan penderitaannya pada hari Kiamat … “ (HR. Bukhari)

Setelah rantai si bleqi dirasa aman, saya pun melanjutkan perjalanan pulang. Tak dinyana, si bleqi memutuskan lagi rantainya di daerah Ahmad Yani-Cicadas. Daripada bengong dan mengutuk keadaan, saya memutuskan untuk mendorong si bleqi sampai rumah. Ya, sampai rumah! Tekad saya tidak main-main malam itu. Ketika sebagian orang telah terlelap di tempat peraduannya, saya dan si bleqi masih menyusuri jalanan Kiaracondong. Waktu menunjukkan pukul 23.00 di jam tangan saya.

Suasana malam kota Bandung memang tenang, tapi kabar tentang aksi kebrutalan geng motor belakangan ini membuat saya bergidik. Sepanjang jalan saya memohon perlindungan Allah dengan doa, “Bismillahilladzi laayadhurru maa ‘ashmihii syaiun fil ardhi walaa fiissamaai wahuwal sami’ul ‘alim.” Doa itu yang diajarkan Rasulullah saw untuk meminta perlindungan Allah dari kemudharatan. Hati saya agak sedikit tenang karena suasana malam itu tidak terlalu sepi.

Setelah berjalan kurang lebih 4 km, ternyata tubuh ini tak mendukung tekad awal saya tadi, dan saya baru menemukan tukang bengkel lagi setelah berjalan sejauh 4 km. Si bleqi dioperasi lagi di tukang tambal ban. Alhamdulillah, rantainya kini telah terpasang. Waktu menunjukkan pukul 23.40. Malam telah semakin larut, dinginnya hembusan udara malam kian menusuk dada. Saya melanjutkan perjalanan pulang dan tiba pukul 00.15. Alhamdulillah. Unforgettable moment!

Pelajaran malam bersama si bleqi :

  1. Saya mengenal seseorang (Pak Jejen) yang tulus dalam menolong. Ketulusan itu tak dapat disembunyikan, ia terpancar apa adanya. Orang yang menolong dengan tulus akan selalu didoakan oleh orang yang menolong. Tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan pula. Saat paling sedih bagi orang yang ditolong adalah ketika tidak bisa membalas kebaikan yang sepadan.
  2. Saya bisa lebih mengenal kehidupan malam orang-orang yang “terpinggirkan”. Bisa turut merasakan keadaan mereka. Bahkan saya melihat seorang gelandangan yang tertidur amat pulas walaupun beralaskan kardus dan tidur di pinggir jalan. Saya jadi membayangkan, apakah para koruptor yang berada di tengah kemewahan itu bisa tertidur pulas? Sedangkan ia berada dalam kegelisahan hatinya sendiri.
  3. Bisa ikut merasakan betapa lelahnya pedagang yang mendorong gerobaknya setiap hari. Meskipun belum seberapa jauh, tapi mendorong motor adalah suatu hal yang melelahkan bagi saya.
  4. Periksa dan rawat si bleqi secara berkala. Rawatlah sepeda motor Anda secara rutin dan berkala, mencegah lebih baik daripada mengobati. Jangan lupa lumasi rantai sepeda motor Anda dengan oli yang seharusnya, bukan oli bekas mesin. Jangan pakai oli bekas mesin karena justru akan mengotori rantai Anda.

Si bleqi, sang teman setia yang telah menemani selama 6 tahun

2 thoughts on “Pelajaran Malam Bersama si Bleqi

  1. Kiyoshi

    perjalanan malam memang selalu mengasyikkan..

    coba night ride pake sepeda geura jal,, lebih seru😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s