Quo Vadis Dunia Pendidikan Indonesia?

Pendidikan adalah eskalator untuk menaikkan posisi rakyat jelata dari ketertinggalan dan ketergantungan menjadi kemajuan dan kemandirian

Jika kita ditanya orang tentang “apa kekayaan Indonesia?”, maka umumnya akan menjawab bahwa kekayaan kita adalah tambang, minyak, gas, hutan. Kesadaran itu harus dirubah, seharusnya dijawab bahwa kekayaan kita adalah “manusia Indonesia”. Manusia Indonesia adalah aset utama bangsa, kekayaan terbesar kita ada pada manusianya. Itu hanya bisa tercapai bila manusia Indonesia telah terdidik. Itulah pentingnya pendidikan.” ─Anies Baswedan.

Ketika kita berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa, tidak mungkin bisa dilepaskan dari aspek pendidikan. Pendidikan erat kaitannya dengan pembangunan manusia seutuhnya. Pendidikan merupakan suatu jalan untuk membentuk karakter individu dalam suatu masyarakat sehingga nantinya individu-individu tadi akan bertaransformasi menjadi manusia yang produktif, kontributif, dan prestatif di kalangan masyarakatnya. Dengan potensi yang dimiliki, besar harapan untuk melahirkan manusia yang mandiri, baik secara ekonomi maupun secara mentalitas.

Musuh terbesar bangsa kita, semenjak bangsa kita merdeka hingga kini adalah kemiskinan dan kebodohan. Dua mata rantai yang tampaknya sulit untuk diputus sehingga membentuk suatu lingkaran setan yang tak putus-putusnya menyengsarakan masyarakat Indonesia. Pada dasarnya, dua mata rantai ini bersumber pada satu hal : pendidikan. Potret pendidikan bangsa kita yang masih didominasi oleh kalangan-kalangan menengah ke atas telah memburamkan harapan anak-anak bangsa yang kurang berkecukupan. Konsep pendidikan untuk semua kalangan belum bisa diimplementasikan. Akibatnya, muncullah citra bahwa pendidikan hanya bagi orang kaya dan menjadi simbol status sosial. Jika sudah begini, bagaimana mungkin memutus dua mata rantai tadi─kemiskinan dan kebodohan.

Pendidikan seharusnya menjadi dataran bersama yang menempatkan seluruh anggota masyarakat mewujudkan cita-cita bersama. Pendidikan menciptakan pengetahuan bersama yang menjadi dasar seluruh tindakan bernegara sehingga kesatuan bangsa dapat diwujudkan berdasar prinsip kesetaraan untuk mencapai kemajuan bersama. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya menduduki ruang utama dalam rangka pembangunan bangsa dan negara.

Suatu problema yang lebih memprihatinkan lagi adalah timbulnya gejala-gejala yang mencederai hakikat pendidikan itu sendiri. Kalangan yang mampu mengenyam pendidikan justru kurang (belum) mensyukuri nikmat pendidikan itu sendiri. Bisa  dikatakan,  dunia  pendidikan  di  Indonesia  kini  sedang memasuki masa-masa  yang  sangat  pelik.  Kucuran  anggaran  pendidikan  yang  sangat  besar disertai  berbagai  program  terobosan  sepertinya  belum  mampu  memecahkan  persoalan mendasar  dalam  dunia  pendidikan,  yakni  bagaimana  mencetak  alumni  pendidikan  yang unggul, beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter, sebagaimana tujuan pendidikan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional.

Jika berkaca pada dunia pendidikan negara-negata maju, mungkin dunia pendidikan kita akan tertunduk malu. Sebab, adakalanya sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia kurang dapat terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem pendidikan kita masih hanya berkutat pada tujuan untuk “memberi tahu” (kognitif), bukan untuk menjadi landasan dalam keyakinan dan beramal (afektif dan psikomotorik). Ketiga aspek dalam pendidikan belum sepenuhnya diterapkan secara sinergis, yakni : aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Maka, output dari sistem pendidikan itu sendiri masih belum mampu menjadi solusi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Demokratisasi dalam pendidikan pun digembor-gemborkan, bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan gelar, entah jenius, pintar, sedang, bahkan bagi yang tidak pintar sekalipun. Maka, semua pendidikan tinggi dari strata 1 sampai 3 harus dibuat massal agar kesempatan tersedia bagi siapa saja yang ingin mendapatkan gelar. Bukan itu saja, gelar guru besar pun sekarang sudah terjadi “massalisasi”. Dan yang menjadi masalah baru, jika sudah berbicara massal, maka tentunya ada satu hal penting yang harus dikorbankan : kualitas. Padahal, jika merujuk pada hakikat fungsi pendidikan universitas : tempat untuk mendidik manusia untuk dapat berpikir abstrak dan komprehensif.

Pemahaman dan penguasaan hal-hal yang teknis dan kongkret memang diperlukan, tapi bukan tujuan utama melainkan by products. Artinya, fungsi pendidikan tinggi bukan semata-mata untuk menciptakan manusia-manusia pekerja yang ahli dalam bidang teknis dan kongkret, tapi jauh lebih dari itu. jika semata-mata hanya mengejar itu, tidak perlu dilakukan oleh universitas, tapi bisa dilakukan oleh sekolah kejuruan, kursus, atau program diploma.

Semakin tinggi strata pendidikan di universitas, maka akan semakin tinggi tingkat abstraksi yang harus dikuasai sehingga dapat mengerti segala sesuatu yang melandasi sebuah teori, bahkan filosofi yang melatarbelakangi tumbuhnya sebuah cabang keilmuan. Semakin tinggi ilmu yang didapat seseorang─terlebih lagi yang mendapat gelar Ph.D atau Profesor─seharusnya akan semakin komprehensif dalam memandang sesuatu dari berbagai sudut sehingga mengerti terhadap kompleksitas dari suatu permasalahan dan akan semakin hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan; hingga pada akhirnya akan semakin bijak dalam berkata dan bertindak.

Menurut Socrates, hakikat seorang pemikir adalah seseorang yang mencintai dan mencari kebenaran. Pendidikan tinggi seharusnya menghasilkan orang-orang yang prudence, yaitu seseorang yang berhati-hati dalam berpikir, berkata, dan bertindak sehingga segala sesuatunya akan diselesaikan dengan cara yang baik dan benar. Yang memprihatinkan, pendidikan tinggi yang seharusnya pada masyarakat modern menjadi tempat bertanya tentang kebenaran melalui proses akademik, di Indonesia belum memujud. Yang ditiru dari Barat hanya prosedurnya. Oleh karena itu, gelar dan target kelulusan menjadi tujuan, tetapi lupa pada esensi mencari kebenaran tentang isi alam semesta berdasarkan pengalaman bersama yang beragam. Di sisi lain, masyarakat Indoensia juga masih sangat memuja gelar. Suatu bentuk feodalisme gaya baru dalam masyarakat, universitas, dan birokrasi.

Di situlah, pendidikan berubah menjadi habitus kekuasaan karena gelar menjadi lebih berkuasa ketimbang pemikiran. Universitas berubah menjadi kerajaan ketimbang komunitas berpikir dan pembibitan manusia pembelajar. Orang-orang tidak berargumentasi karena kekuatan pikiran, tapi karena kekuasaan gelar. Namun, di lain pihak, perolehan gelar menjadi suatu hal yang dilematis. Gelar memengaruhi strata seseorang yang berimbas pada kenaikan gaji. Gelar juga diperlukan ketika melamar pekerjaan atau untuk melanjutkan pendidikan. Bahkan, gelar menjadi suatu “nilai tambah” pada kancah politik. Maka, tak heran jika di negeri kita marak dengan jual-beli gelar, jual-beli karya ilmiah (skripsi, tesis, disertasi), hanya untuk mendapat atribut tambahan berupa gelar di belakang nama. Tentu, perilaku ini mencederai hakikat pendidikan itu sendiri.

Maka, tak perlu heran jika pendidikan tidak (belum) bisa menjawab masalah nyata dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus tidak menumbuhkan ruang kesetaraan dan kebersamaan yang menjadi dasar seluruh pengetahuan berbangsa dan bernegara. Seluruh upaya menahan praktik yang mencederai moral dan etika akademis tak akan pernah cukup apabila pendidikan tidak diletakkan dalam kerangka bergerak masyarakat dalam membangun bangsa dan negara. Dibutuhkan perombakan total cara berpikir tentang pendidikan agar gagasan pendidikan mewujud sebagai pengetahuan identitas kenegaraan dan kebangsaan.

One thought on “Quo Vadis Dunia Pendidikan Indonesia?

  1. guru bahasa inggris bandung

    Saya setuju sekali dengan pendapat Pak Anies tersebut. Seharusnya memanglah kekayaan Indonesia adalah manusia Indonesia itu sendiri, dengan memiliki sdm yang berkualitas, tentunya semua dapat dikelola dengan lebih baik lagi tanpa perlu risau kekayaan alam kita habis, karena dengan sdm yang berkualitas akan mampu mengelola kekayaan2 yang lain dengan lebih bijak dan pintar.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s