Pasar Seni ITB 10.10.10

Hari Minggu kemarin, 10 Oktober 2010, kembali digelar perhelatan akbar yang melibatkan hampir sebagian besar seniman yang ada di Bandung―bahkan di seluruh nusantara―dalam sebuah acara yang bertajuk Pasar Seni. Acara yang digagas oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain ini memang merupakan acara yang ditunggu-tunggu setiap selang 4 tahun. Pasar Seni kali ini digelar pada tanggal yang cantik : 101010. Ya, hal itu juga merupakan upaya untuk memudahkan setiap elemen yang berkontribusi di dalamnya untuk mengingat momen mereka.

Menyinggug sedikit mengenai nomor cantik 101010 ini, tidak hanya Pasar Seni saja yang menganutnya. Jika kita lihat fenomena masyarakat kita, pada tanggal yang sama juga banyak digelar acara pernikahan hingga membuat para penghulu kelimpungan bahkan gedung-gedung pun telah habis disewa sejak saban hari. Tidak itu saja, para ibu yang hamil pun rela melakukan operasi Caesar untuk mengantarkan jabang bayi ke muka dunia pada tanggal yang cantik itu. Memang, hal itu tidak salah. Hal tersebut juga dapat membantu mengingatkan pada momen-momen tertentu.

Namun, dari fenomena itu, justru dikhawatirkan akan melahirkan kemusyrikan gaya baru. Masyarakat akan lebih memercayai khurofat. Masyarakat lebih memercayai pada ramalan angka-angka kemudian menjadikannya sebuah pedoman untuk berperilaku. Lebih dikhawatirkan lagi masyarakat akan mengkultuskan satu hari dan tanggal tertentu. Padahal, semua hari adalah baik, semua tanggal juga baik. Sebab, hari dan tanggal pun adalah makhluk Allah yang telah didesain secara sempurna. Tinggal kembali kepada manusianya untuk memilih.

Kembali ke acara Pasar Seni. Saya datang ke TKP sekitar jam 10.00 setelah bersepeda kurang-lebih 12 kilometer dari rumah. Jika lalu-lintas tidak sibuk, waktu efektif perjalanan saya―dengan sepeda―sekitar 45 menit. Rasanya, selain menyehatkan badan; mengurangi stress; bersepeda pun bisa mengurangi angka kemacetan lalu-lintas. Jika pun macet, tidak begitu berpengaruh pada pengendara sepeda. Beruntungnya lagi, pengendara sepeda tidak perlu repot mencari tempat parkir, cukup mencari tempat yang memungkinkan dan membawa kunci gembok, urusan menyimpan sepeda sudah beres.

Dilihat dari jumlah pengunjungnya, memang kata “pasar” tepat disematkan pada acara ini. Pengunjungnya membludak, dari berbagai kalangan usia dan mungkin juga profesi, dari pagi hingga sore bahkan rasanya tidak ada pengurangan jumlah pengunjung yang signifikan. Lalu-lintas manusia terlihat agak kacau, kurang teratur. Saya jadi memikirkan tentang konsep traffic flow yang sedikit-banyak menyerempet Tugas Akhir saya. Jika ingin lancar, sebaiknya dibuat alur yang jelas; perlu dibuat dua arus untuk arah yang berbeda (seperti arus lalu lintas). Dan setiap arah dibagi lagi menjadi dua lajur; satu lajur cepat, satu lagi lajur lambat. Jadi, orang-orang yang berjalan lambat tidak menghambat orang yang ingin cepat-cepat. Perlu diperhatikan juga, ketika kita sedang berjalan bergerombol dan sedang berjalan lambat; pastikan gerombolan kita tidak menghambat jalan bagi orang di belakang kita. Sebaiknya tidak berjalan dalam baris melebar, tapi memanjang. Jika begitu, mungkin saja secara tidak sadar kita telah merampas hak orang lain.

Rasanya, ada yang kurang jika tak mengabadikan setiap momen di acara akbar ini. Kamera, memory card, dan baterai telah saya siapkan dengan matang. Hitung-hitung untuk melatih ketajaman insting saya dalam menangkap momen yang memang layak diabadikan, tidak sekedar jeprat-jepret tidak beralasan. Jika merujuk pada prinsip Daniel Coyle, latihan yang mendalam dikali dengan 10.000 jam akan menghasilkan kualitas yang baik. Momen ini juga saya gunakan untuk melatih saya dalam memotret, walaupun belajar secara autodidak.

Berbicara tentang seni, memang pandangan setiap orang relatif, tergantung kepekaan dan kepribadian seseorang. Jujur saja, saya awam terhadap karya seni; baik itu lukisan, patung, maupun karya ekspresif lainnya. Namun, sedikit-banyak saya mengerti tentang fotografi. Terkadang saya heran dengan gaya seseorang dalam mengekspresikan dirinya, mungkin baginya itu adalah seni, tapi mungkin juga bagi saya itu adalah suatu perilaku yang konyol. Ya, memang sudut pandang setiap orang itu berbeda dan relatif. Tinggal bagaimana menjadikannya suatu keharmonisan.

Dalam suasana crowded seperti itu, tahukah apa ujian keimanan yang paling berat? Menjaga pandangan. Pada awalnya, mungkin mata ini berselancar kemana-mana untuk mencari teman, siapa tahu ada yang kenal dan bisa menyapanya. Namun, disitulah justru setan merasuki pikiran manusia. Pandangan pun bisa saja tidak terjaga, mata melihat sesuatu yang bukan haknya untuk dilihat. Mata yang tidak bisa menjagai lirikan kedua bisa menjadi sumber bencana. Mata menjalar kemana-mana dan bisa jadi bertabrakan pandangan dengan seseorang yang belum halal baginya, lalu hati mulai mendesir, justru disitulah harus banyak-banyak istighfar. Jika tidak, hati akan terkotori.

Masalah lainnya adalah kurangnya kenyamanan dalam melakukan mobilitas. Ingin kesana-kemari harus memikirkan beberapa pertimbangan. Tidak dalam arena Pasar Seni saja yang membludak, tapi juga di masjid Salman saat waktu-waktu sholat. Antrean jamaah pun penuh, barisan-barisan sholat telah penuh terisi, bahkan jamaah yang ingin sholat terbagi menjadi beberapa “kloter “, suasana masjid terasa lebih makmur. Memang banyak yang ingin masuk surga. Namun, surga itu mahal, harus diupayakan dengan ikhtiar yang serius dan mengharap rahmat-Nya.

Singkat cerita, setelah berkeliling hampir 5 jam, badan ini sudah mulai terasa lelah. Saya harus menyiapkan cadangan tenaga untuk pulang dengan sepeda malam itu. Rasanya, jumlah pengunjung belum juga mengalami penurunan yang signifikan, bahkan mungkin sore itu mencapai puncak klimaksnya. Rasanya, masyarakat memang membutuhkan acara-acara hiburan seperti ini agar tidak mengalami frustasi sosial yang berujung pada tindakan anarkis. Penyaluran ekspresi masyarakat harus diarahkan ke kegiatan yang positif dan masyarkat butuh media penyalurannya. Acara Pasar Seni merupakan salah satu media untuk menyalurkan ekspresi itu. Selamat untuk Pasar Seni. Jangan berhenti berkarya! Terus inspirasi dunia dengan karyamu masing-masing.

Berikut saya sertakan hasil jepretan amatiran😀

This slideshow requires JavaScript.

2 thoughts on “Pasar Seni ITB 10.10.10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s