Offline… Offline…

siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line

jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku on line online
on line on line ̶  Saykoji

Pada zaman yang serba canggih ini, siapa yang tidak mengenal dunia internet? Terkecuali bagi kaum marginal yang masih belum tersentuh oleh desakan arus globalisasi. Kini, begitu mudahnya setiap orang mengakses internet. Entah itu di rumah, kampus, hingga café-cefe pun menyediakan akses internet. Bahkan, masjid pun tidak ketinggalan memasang fasilitas wireless. Ya, dunia seolah tak berbentuk bola lagi, tapi telah berubah menjadi datar. Jarak yang jauh kian semakin dekat, kerenggangan yang ada kian semakin merapat, dan dunia serasa berada dalam ujung jemari. Jika membutuhkan info tentang sesuatu, tinggal klik! Ketika haus informasi, tinggal connect! Begitulah internet telah membuat berbagai kemudahan.

Dunia online sedikit-banyak telah mengambil jatah waktu dunia offline manusia. Awalnya, aktivitas online hanya dibutuhkan untuk mencari informasi seperlunya. Namun, kini aktivitas online telah menjadi semacam candu bagi penggunanya. Ditambah lagi dengan berbagai fasilitas situs jejaring sosial, mulai dari Facebook, Twitter, My Space, Yahoo Messenger, dan situs jejaring sosial lain yang kini kian mudah diakses melalui smart phone. Maka, fenomena ini dikhawatirkan akan mengurangi esensi identitas manusia sebagai makhluk sosial, yaitu manusia yang saling membutuhkan manusia lainnya secara offline, bukan dalam dunia maya (online).

Dunia online adalah dunia yang dinamis, tidak berhenti lama di satu titik. Tak terasa dunia online telah mengurangi jatah waktu offline kita untuk membaca buku lebih banyak, berolahraga, bersosialisasi, menyalurkan hobi dan bakat; dan secara tidak sadar telah menutup mata kita dari kehidupan sebenarnya (offline). Ditambah lagi dengan teknologi yang semakin canggih. Rasanya, hampir setiap orang terbius oleh pikat smart phone , i-phone dan Blackberry. Tidak tanggung-tanggung, bahkan anak SMP pun kian marak yang menggunakan Blackberry. Entah apa kebutuhannya, tapi satu hal yang pasti, lingkungan telah mengombang-ambing pendiriannya.

Rasanya, ada yang kurang jika tidak mendapat informasi dan kabar terbaru dari dunia online. Terlebih lagi, banyak di antara kita yang tak menyadari perubahan cara kita hidup ini, dunia online telah mengambil jatah waktu offline kita. Sesuatu yang berlebihan tentu akan berdampak buruk dan sesuatu yang kurang pun tidak dianjurkan. Maka, gunakanlah sewajarnya. Gunakan secara proporsional sesuai kebutuhan. Jika pun sangat membutuhkan, atur-aturlah waktunya hingga dunia offline kita mendapat hak yang sama.

Dunia internet (online) memang memberikan banyak kemudahan, kita bisa dengan mudah mendapatkan berjuta-juta arus informasi tentang dunia dan kesemua itu berada dalam ujung jemari kita. Namun, dunia online jangan membuat kita lupa dengan dunia sesungguhnya (offline); panas terik di siang hari dan dingin yang menusuk di malam hari. Indahnya matahari menyingsing, segarnya semilir angin pagi, serunya bersepeda keliling kota, merasakan kehidupan kota di malam hari, ikut berjejal-jejal di super market, ikut berhimpit-himpitan di angkutan kota, dan nikmatnya makan di tenda kaki lima. Kesemua itu tak ada dalam dunia online. Maka, mari kita syukuri anugrah kehidupan kita, kehidupan di dunia offline.

One thought on “Offline… Offline…

  1. Pingback: Internet : Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat? « Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s