Menertawakan Masa Lalu

Sebaik apapun sosok seorang manusia di hadapan manusia lainnya takkan pernah mengubah dirinya menjadi malaikat yang tanpa cela. Sebaik apapun sosok seorang manusia takkan pernah menghilangkan identitas dirinya sebagai makhluk lemah tempatnya khilaf dan salah. Sudah menjadi kodrat bagi manusia, di dalam hatinya berkecamuk antara nafsu buruk dan dorongan kebaikan. Telah menjadi ketetapan bagi manusia, diilhamkan ke dalam hatinya jalan kefasikan dan jalan takwa. Itulah manusia, takkan pernah menjadi sempurna dalam artian sosok yang tanpa cela. Dan begitulah adanya, dengan akalnya itulah sang manusia pembelajar takkan henti-hentinya berupaya untuk mendekati kesempurnaan itu, walaupun tak pernah menjamahnya.

Dalam senyap kesendirian, kadang dalam pikiran kita melintas bayang-bayang masa lalu yang pernah kita lalui; tak jarang memori kita berkelana ke masa silam ketika melihat album foto kita saat-saat dulu. Dalam momen itulah, kadang kita terlarut dalam samudra perenungan yang dalam dan sejenak merenungi hakikat keberadaan diri. Adakah diri ini menjadi lebih baik? Tak jarang pula perenungan yang dalam itu membuat diri kita tertawa sendiri atau hanya tersenyum kecut mengingat jejak-jejak langkah yang telah kita lalui. Kala itu, kita malu pada diri kita sendiri, malu pada sang waktu, malu pada manusia, terlebih lagi malu pada Allah, karena dahulu kita pernah keliru; kita dahulu pernah salah melangkah; dan yang lebih menyedihkan lagi : kita dahulu tidak tahu bahwa kita tidak tahu. Tawa kecut mengingat masa lalu kemudian disusul dengan rasa sesal yang mendalam. Kemudian ada yang berbisik menggelitik : Mengapa saya dulu seperti itu? Tidak malukah kamu dengan kebodohanmu?

Lantas, apakah penyesalan akan mengobati kesalahan kita di masa lalu? Apakah tetes air mata akan menjadi penebus? Tidak cukup. Kesalahan tetaplah kesalahan sebelum diperbaiki; kekhilafan masih mewujud kekhilafan sebelum disadari; dan dosa tetaplah dosa sebelum meminta pengampunan. Setiap manusia tentu memiliki masa lalu dan lengkap dengan cerita yang membingkainya. Setiap manusia pun tak luput dari jerat kemaksiatan yang mengisi hidupnya. Namun, setiap manusia pun memiliki masa depan yang terang oleh harapan, meskipun harapan itu tak menjanjikan keinginannya.

Mungkin kita pernah menemui seseorang yang memiliki masa lalu yang suram. Masa lalu yang diisi dengan kemaksiatan; kesia-siaan; menghabiskan waktu hidupnya hanya untuk kesenangan duniawi. Namun, kini bisa saja ia berubah menjadi seseorang yang tercerahkan. Setiap kata-katanya menjadi penyejuk hati dikala gundah; menjadi penerang ketika dalam kegelapan; seolah menjadi sang pencerah. Di saat kita merasakan kegelisahan hati, ia datang dengan untaian kata-katanya yang menyejukkan. Ketika kita putus asa, ia datang membawa sejumput harapan. Awalnya, mungkin kita menolak karena telah mengetahui napak tilasnya. Namun, kita lupa bahwa kita jarang berinstrospeksi sehingga menutup diri dari masukan, kita enggan menerima kesalahan sebagai pelajaran. Hingga saatnya nanti ketika kita telah menyadari kekeliruan ini, kita akan menertawakan tingkah konyol saat ini.

Sang manusia pembelajar tak akan henti-hentinya membuka pikiran dan dirinya untuk mengintrospeksi kesalahannya. Manusia pembelajar sejati  tak pernah ingin melewatkan sekecil apa pun kesalahan dalam hidupnya di masa lalu untuk kemudian dijadikan sebagai guru di sekolah kehidupannya. Tentu ada titik balik dalam hidupnya yang membuatnya menyadari kesalahannya dan menjadikannya begitu berbeda kini. Mungkin saja ada suatu peristiwa besar yang menjadikannya terhenyak; mungkin juga ada orang-orang terdekatnya yang telah mengenalkannya pada pintu hidayah; atau mungkin juga karena “ketidaksengajaannya” membaca sebuah tulisan yang membuatnya tergugah lalu membuatnya bangkit dari keterpurukan. Intinya, setiap orang memiliki jalan dan cerita masing-masing dalam menyongsong hidayah dalam hidupnya. Inilah rencana Allah yang indah, yang tak dapat dijangkau oleh logika manusia. Dan manusia teramat bodoh untuk menerka-nerka.

Akhirnya, saya ingin menyimpulkan secara sederhana bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan dan terjerumus dalam kubangan dosa. Setiap orang memiliki masa lalu, tapi jangan lupakan setiap orang pun memiliki masa depan. Maka, bukan hal yang tidak mungkin seseorang itu berubah. Bukan hal yang mustahil perjalanan hidup seseorang itu bisa berbelok arah. Namun yang terpenting dalam perspektif Islam adalah sejauh mana seorang itu memiliki semangat untuk berintrospeksi dan bertaubat secara konstan. Sebab, taubat hakikatnya adalah proses perbaikan diri secara berkelanjutan. Dengan taubat itulah, seseorang dapat mengubah setiap kesalahan menjadi pelajaran mahal sebagai bekal untuk melanjutkan kehidupannya ke arah yang lebih baik dan kemudian menertawakan kebodohannya sendiri di masa lalu.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Q.S Al-Imran[3] : 8)

One thought on “Menertawakan Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s