Kemiskinan Struktural

Berbicara mengenai musuh utama bangsa, satu hal yang selalu ada dalam daftar adalah kemiskinan. Memberantas kemiskinan tidak hanya membenahi sektor perekonomian masyarakat  saja, tapi juga erat kaitannya dengan peningkatan kualitas SDM manusianya. Oleh karena itu, kemiskinan dan kebodohan adalah dua musuh utama bangsa yang saling berkaitan. Maka, suatu bangsa yang mampu menangani—meskipun tidak sepenuhnya—dua musuh utama ini, bisa dikatakan sebagai bangsa yang maju.

Wajah perekonomian Indonesia mungkin tidak se-menggeliat Cina yang sudah bisa berekspansi secara luas, tidak juga se-raksasa Jepang yang menjadi pionir perkembangan kemajuan teknologi. Namun, bolehlah kita patut berbangga pada pertumbuhan sektor perekonomian bangsa kita yang telah mencapai 6,2% pada tahun 2010 ini. Dan yang menjadi pertanyaan, sudahkah pemerataan pertumbuhan ekonomi itu dirasakan di berbagai daerah? Ataukah masih sebatas kalangan pemilik modal dan bisnis?

Jika kita melihat pada relita sehari-hari, nampaknya pertumbuhan perekonomian Indonesia belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat. Terlebih lagi para pedagang asongan. Tentu kita sering melihat pedagang asongan yang menjajakan air mineral, rokok, permen, dan minuman suplemen dalam satu kotak gendong. Di samping itu, ada juga yang menjajakan buah-buahan potong, kacang, dan tahu yang dikemas dalam plastik. Mungkin sudah bertahun-tahun pedagang itu berjualan, tapi jika melihat keuntungan yang didapat, amat sulit logika ini menjamahnya. Di tengah himpitan ekonomi global, para pedagang itu masih mengandalkan keuntungan dagangannya yang mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan kebutuhan hidupnya.

Pemandangan serupa juga bisa kita amati dalam kehidupan di sekeliling kita. Rakyat kecil yang bekerja keras membanting tulang dan memeras keringat untuk menghidupi diri dan keluarganya. Pedagang asongan, pedagang kaki lima, pedagang keliling, buruh-buruh pabrik, hingga petani dan nelayan. Di depan rumah saya, masih saja ada orang yang berlalu-lalang menawarkan jasa reparasi payung; tentu tidak setiap hari orang membutuhkan reparasi payung. Jikapun payungnya telah rusak, mungkin mereka berpikir lebih baik membeli baru. Selain lebih praktis, kualitas pun terjamin—karena masih baru.

Adapun saya sering melihat para pedagang cilik di perempatan jalan yang menjajakan coet atau ulekan yang dibuat dari batu. Tidak terbayang beratnya pundak mereka memanggul dagangannya, tapi hasil keuntungan yang didapat mungkin tidak seberapa. Lagipula, rasanya sulit sekali menemukan orang yang benar-benar membutuhkan coet atau ulekan. Mayoritas orang kota telah berpindah ke blender yang lebih praktis. Terlebih lagi, kini semakin mudah mendapatkan bumbu masakan yang telah diolah sesuai kebutuhan.

Mereka—para pedagang—telah mencucurkan keringat demi menghidupi diri dan keluarganya. Tahun demi tahun dilewati begitu saja tanpa ada perubahan yang signifikan. Keuntungan dan pendapatan yang mereka terima tidak pernah mencukupi. Hasil yang mereka terima tidak bertambah secara signifikan. Terlebih lagi harga kebutuhan pokok semakin meningkat, tapi pendapatan masih saja stagnan. Sekeras apapun mereka berusaha, pendapatan yang mereka terima masih saja kurang. Mereka sulit keluar dari jebakan kemiskinan. Inilah yang dinamakan kemiskinan struktural. Terlepas dari sikap minimalis, mereka miskin bukan karena mereka malas, tetapi mereka tidak berdaya untuk mengubah nasib. Peluang tidak ada, kesempatan tidak punya. Mereka terjerat oleh sistem.

Sistemlah yang membuat mereka tetap miskin. Sistem yang tidak adil, yang tak berpihak pada rakyat kecil. Sistem ditunggangi oleh kalangan elit. Sistem yang salah menjadikan ekonomi biaya tinggi. Banyak pengeluaran pada tempat yang tidak seharusnya. Para nelayan seharusnya bisa hidup sejahtera karena potensi laut bangsa kita amat kaya. Namun, mereka ditunggangi oleh para tengkulak yang membeli hasil laut mereka dengan murah. Belum lagi para nelayan dijerat oleh jebakan rentenir sehingga membuat mereka terus berada dalam lingkaran kemiskinan.

Para petani di negeri kita pun seharusnya bisa hidup makmur karena Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Namun, lagi-lagi mereka dijebak oleh sistem yang tidak berpihak kepada petani. Ditambah lagi dengan semakin gencarnya pembangunan, membuat lahan pertanian mereka tergusur dan kehilangan mata pencaharian. Adanya pungutan liar di lapangan akan semakin membuat ekonomi biaya tinggi. Maka, jika parasitnya belum diberantas, lingkaran kemiskinan itu akan terus berputar.

Kemiskinan tampaknya terus dipelihara karena isu kemiskinan dapat dijadikan komoditas politik untuk meraih simpati massa yang akhirnya menjadi modal untuk meraih kekuasaan. Ekonomi kerakyatan terus dijargonkan, tapi pada implikasinya tidak sesuai harapan. Selama belum dilakukan pembenahan pada sistem yang ada, kemiskinan itu akan terus menjadi momok bagi bangsa ini. Perbaikan sistem harus diiringi dengan peningkatan kualitas SDM nya, yakni dengan meratakan program pendidikan bagi setiap warga negara. Agaknya, perlu dibuat semacam grand design sehingga sistem yang ada tidak berubah-ubah seiring dengan bergantinya pemimpin.

2 thoughts on “Kemiskinan Struktural

    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Memang sih normatif, itu kan idealnya..
      Mungkin solusi yg paling sederhana, ya menggagas kemandirian Indonesia (ga sederhana jg kali ya, heu).

      Khusus utk tulisan ini dr sektor ekonomi. Memang utk mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan agak sulit, krn Indonesia sendiri msh belum mandiri, msh bergantung pihak asing. Ditambah lg dgn SDM Indonesia yg blum emua mengenyam pendidikan.

      Agaknya, memang hrs kembali pd sistem ekonomi Islam (memang itu idealnya) yg berprinsip “janganlah harta melingkar di tengah-tengah orang kaya saja..”.

      Yah, mungkin pembahasan sy terlalu dangkal dan bukan kapasitas sy utk ngejawab lbh rinci.. hehe.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s