Insan Pembelajar (1) : Tentang Makna Belajar

Tugas pertama manusia dalam proses menjadi dirinya yang sebenarnya adalah menerima tanggung jawab untuk menjadi pembelajar bukan hanya di gedung sekolah dan perguruan tinggi, tetapi terlebih penting lagi dalam konteks kehidupan.”—Andreas Harefa

Tugas, tanggung jawab, dan panggilan pertama seorang manusia adalah menjadi manusia pembelajar. Sedangkan pelajaran pertama dan terutama yang perlu dipelajarinya adalah belajar menjadikan dirinya semanusiawi mungkin—memanusiakan manusia. Sesuai dengan isyarat yang terdapat dalam ayat Al-Quran yang pertama kali turun : iqro—bacalah—dan qolam—pena. Ayat 1-5 Surat Al-Alaq mengajarkan kepada manusia untuk tidak berhenti belajar—dalam arti luas. Tugas pertama manusia sebagai pembelajar memberikan kepada kita pemahaman bahwa itulah keunikan manusia dibandingkan dengan berbagai makhluk Allah lainnya, khususnya dengan binatang. Manusia dapat belajar tentang, belajar (melakukan), dan belajar menjadi dirinya sendiri. Sementara itu, binatang hanya dimungkinkan untuk belajar. Binatang tidak dapat belajar tentang, apalagi belajar menjadi.

Ignas Kleden pernah menjelaskan perbedaan antara belajar tentang dan belajar. Misalnya, belajar tentang bersepeda berarti mempelajari teori-teori yang terkait dengan sepeda dan itu dapat dilakukan di sebuah ruangan yang tak ada sepeda sama sekali (cukup dengan buku panduan atau video turorial). Lain halnya dengan belajar bersepeda. Belajar bersepeda berarti pergi membawa sepeda ke tanah lapang atau jalan dan langsung melakukan, jatuh, bangun, jatuh lagi, lalu bangun, luka dan sebagainya. Atau belajar tentang bahasa Indonesia berarti mempelajari imbuhan, kata depan, awalan-akhiran, peribahasa, ungkapan, dan sebagainya. Sementara belajar bahasa Indonseia berarti berlatih mengarang, menulis, berpidato, berpuisi, dsb.

Kleden kemudian menegaskan bahwa belajar pada dasarnya berarti mempraktikkan sesuatu, sedangkan belajar tentang hanya sebatas pada tahap mengetahui saja. Demikianlah belajar bahasa Inggris berarti mempraktikkan bahasa Inggris, vocabulary, conversation, dsb. Begitu juga dengan belajar menulis, belajar menulis berarti mempraktikkan teknik penulisan, memantik gagasan, belajar menuangkan kata, dsb. Selama pengetahuan belum diapropriasikan dan belum diambil sebagai bagian dari diri yang dapat digunakan seperti seseorang menggunakan kaki dan tangannya, maka pada dasarnya ia baru belajar tentang. Dia baru tahu tentang teori-teori bahasa Inggris dan kepenulisan, tapi belum tentu mampu mempraktikkannya dengan baik.

Tulisan Kleden berhasil menjelaskan perbedaan antara pengetahuan (knowledge)—yang dapat kita peroleh dari lembaga-lembaga pengajaran seperti sekolah dan universitas—dengan pelatihan skill. Sesuatu yang bersifat keterampilan tidak bisa diperoleh hanya dengan mengakumulasi pengetahuan, betapa pun banyaknya pengetahuan itu. Para penyandang gelar MBA, MM atau bahkan Doktor Manajemen, jelas tahu banyak soal ilmu manajemen dan ilmu administrasi, tapi belum tentu mampu melaksanakan, mempraktikkan ilmunya itu dalam situasi nyata. Begitu juga para pakar politik dan ekonomi yang mampu berpikir kritis, pandai berteori tentang cara mengatur pembagian kekusaan dan membangun sistem ekonomi Indonesia, tapi belum tentu mampu mengaplikasikan teori-teorinya ketika diberi kursi atau jabatan di pemerintahan.

Dalam hal apa yang dipelajari seseorang itu adalah suatu ilmu atau teori, maka penjelasan Kleden amat berguna untuk menyadarkan kita bahwa seringkali antara teori di satu sisi dan praktik di sisi lainnya, memang terdapat kesenjangan. Masalahnya bila yang kita pelajari itu bukan teori atau ilmu, tapi manusia, maka pembedaannya bukan belajar tentang dan belajar (melakukan) saja, tapi juga belajar menjadi.

Artinya, jika berbicara mengenai belajar tentang (learning how to think) dan belajar dalam arti praktik (learning how to do), maka yang perlu kita tambahkan dalam konteks manusia pembelajar yang berproses memanusiawikan dirinya adalah belajar menjadi (learning to be). Disini kita tidak membicarakan semata-mata soal pengajaran dan pelatihan, tapi juga proses pembelajaran, yakni pendidikan dalam arti yang sejati.

Dari segi pengajaran, belajar tentang manusia berarti mempelajari biologi, psikologi, fisiologi, sosiologi, antroplogi, filsafat, dan berbagai kajian ilmu yang meletakkan manusia sebagai objek dan teori. Lalu belajar memanusiawikan diri berarti praktik, mencoba menerapkan perilaku dan kebiasaan tertentu yang menurut teori hanya dapat dilakukan oleh manusia.

Diantara teori (knowledge) dan praktik (skill) terdapat semacam jembatan yang justru amat penting untuk dapat memanusiawikan diri seseorang, yakni ia harus belajar menjadi : yakni dengan merenungkan hakikat dirinya terlebih dahulu, mencari jati dirinya, menghayati keberadaannya sebagai “apa” dan “siapa”. Tidak semua teori tentang manusia perlu dipraktikkan. Teori-teori tentang kemampuan manusia berbuat sesuatu yang jahat—yang immoral, yang tidak etis—memang perlu dipelajari, tapi tentu tidak untuk dipraktikkan.

Dalam perbandingannya dengan binatang, kita dapat mengatakan bahwa binatang dimungkinkan untuk belajar atau juga—dalam batas tertentu—untuk belajar tentang, tapi mustahil untuk bisa belajar menjadi. Misalnya, kita dapat melatih monyet untuk membuka kulit kacang, menari, dan sebagainya. Akan tetapi, kita tidak dapat melatih dan mengajarkan monyet untuk belajar menjadi dirinya sendiri (memonyetkan dirinya). Kita dapat mengajar lumba-lumba untuk menerobos lingkaran api, menyudul bola, dsb—seperti yang ditampilkan pada sirkus—tetapi tidak dapat membuatnya belajar menjadi dirinya sendiri. Kita dapat melatih anjing, gajah, harimau, kuda, dan binatang lainnya untuk melakukan apapun—dalam sirkus, tapi tidak untuk menyadarkan keberadaannya atau merenungi hakikat dan berproses menjadi dirinya.

Jelaslah bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dibekali kemampuan untuk belajar tentang (pengajaran) agar ia dapat belajar menjadi (pembelajaran) dengan cara belajar melakukan (pelatihan). Ia adalah subjek sekaligus objek bagi dirinya sendiri. Ia dapat mengambil jarak dengan dirinya, mengamatinya, dan mencoba mendefinisikannya dalam hubungannya dengan hal-hal dan dunia di luar dirnya, yakni dengan ciptaan-ciptaan Allah lainnya (alam, binatang, tumbuhan, dsb), juga dengan sesama manusia. Akan tetapi, mungkin yang membuatnya unik dan tidak dapat dibandingkan dengan binatang adalah kemampuan manusia untuk menyadari keberadaannya serta menempatkan dirinya dalam suatu hubungan dengan Sang Pencipta.

Referensi :
Harefa, Andreas.2000.Menjadi Manusia Pembelajar.jakarta : Kompas
Kleden, Ignas : Belajar dan Belajar Tentang, Tempo, 9 April 1988

One thought on “Insan Pembelajar (1) : Tentang Makna Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s