Tempora Mutantur et nos Mutamur in Illis

Dahulu, ketika orang tua kita masih belia dan hidup pada zamannya, rasanya mereka tidak pernah neko-neko dalam bernegosiasi dengan hidup dan kehidupannya. Zaman yang berada dalam keterbatasan tidak pernah membatasi kemampuan mereka untuk selalu menjadi manusia yang prestatif. Entah itu prestasi dalam kehidupan akademiknya, kehidupan sosialnya, ataupun kehidupan keluarga pribadinya. Semua dijalani bak air mengalir, tanpa pernah banyak protes pada riaknya air. Namun, justru dari keterbatasan itulah mereka bisa menjadi manusia-manusia yang tahan uji dan memiliki kualitas mentalitas yang tangguh.

Mereka mungkin belum mengenal dunia internet seperti halnya anak-anak muda masa kini. Mereka belum mengenal lebih jauh tentang dunia pertelevisian, melainkan baru hanya satu stasiun televisi yang menjadi andalan : TVRI. Berbeda sekali halnya dengan masa kini, ketika wajah pertelevisian kita banyak diwarnai oleh berbagai stasiun televisi. Diantaranya ada yang menawarkan kualitas dan pendidikan; tapi ada juga yang menawarkan jasa penghilang penat sementara. Kesemua itu sedikit-banyak telah mewarnai kehidupan masyarakat dan secara tidak sadar pula telah mengenalkan budaya pop, yaitu budaya yang ringan, menyenangkan, trendi, dan cepat berganti.

Sejak dulu, Indonesia  dikenal sebagai bangsa yang gemar bergotong-royong, itu tercermin dari budaya masyarakatnya. Terlebih lagi di kawasan pedesaan yang masih kental dengan nilai-nilai kearifan lokal. Ketika sawah telah menguning dan siap untuk dipanen, para perempuan telah bersiap dengan hidangan untuk acara syukuran. Sedangkan para lelaki, bersiap membantu panen padi. Nuansa kekeluargaan dan gotong-royong masih sangat kental. Dan kesemua itu menjadi suatu bentuk nostalgia yang sulit dijumpai pada masa sekarang ini. Terlebih lagi di kawasan perkotaan yang semakin pesat berkembang.

Berkaca pada masa lalu­­—zaman orang tua kita, rasanya sangat jauh berbeda dengan yang kita rasakan kini. Terlebih lagi di era teknologi informasi (web 2.0) yang kian menjadikan dunia terasa datar (The World is Flat). Dunia internet telah kian menjangkau luas ke setiap pelosok daerah. Rasanya, internet telah menjadi semacam “cemilan” sehari-hari para masyarakat urban. Mau tidak mau, arus globalisasi pun kian terasa deras mendera. Diantara arus yang terus mendera itu, banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Namun, tidak sedikit pula ancaman yang bersembunyi, bahkan bisa menjadi semacam “senjata makan tuan”.

Sedikit-sedikit, pengaruh dunia informasi kian kentara. Pertahanan masyarakat kita pun kian terancam. Pengaruh-pengaruh luar kian deras mendera, terlebih lagi budaya Barat. Kearifan lokal khas Indonesia pun kian terkontaminasi. Dari awalnya hanya sebatas pemikiran, lama-kelamaan tumbuh menjadi sikap. Akhirnya, berujung pada tumbuhnya mentalitas yang tidak baik. Nilai-nilai ke-Indonesia-an mulai memudar. Semangat nasionalisme kian mengendur. Akibatnya, jati diri bangsa kian terancam karena ulah warga negaranya sendiri. Dan jika kesemua itu tidak disikapi dengan serius, maka tinggal menunggu waktu saja untuk menjadikan Indonesia kian terpuruk.

Kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari kualitas pemudanya. Generasi muda merupakan pewaris pelanjut yang akan membawa Indonesia ke depannya. Berawal dari mimpi dan imajinasi, berbuah menjadi karya dan amal nyata dengan didasari oleh semangat pemuda sebagai tangan-tangan bangsa yang menggelora. Namun, lihatlah kondisi pemuda Indonesia kini. Ketika tawuran antar sekolah dan supporter olahraga kian menjadi pemandangan terbuka. Ketika budaya pop merasuki sendi-sendi kehidupan pemuda; Blackberry, tontonan, semangat belajar kendur, merokok, gaya hidup Barat, dan budaya instan di kalangan pemuda yang menginginkan sesuatu tanpa usaha. Ke semua itu telah menjadi penyakit para pemuda yang melahirkan krisis identitas.

Terlebih lagi dengan kian akrabnya pemuda dengan dunia internet. Selain memberikan manfaat, internet pun kian mengundang ancaman. Internet telah menjadi semacam “candu” yang akan membuat penggunanya ketagihan untuk selalu mengaksesnya. Apalagi kini jejaring sosial mulai kian memasuki berbagai kalangan. Maka, dunia online telah mengambil jatah lebih ketimbang dunia offline. Akibatnya, secara tidak sadar telah membuat para pecandunya bersikap apatis terhadap lingkungannya; menjadi individualistis; bahkan menjadi anti sosial karena terlalu sibuk dengan layar komputernya. Semangat kekeluargaan dan gotong-rotong yang ditanamkan nenek moyang kita kian menjadi kendur. Nilai-nilai kearifan lokal Indonesia semakin tergerus oleh pengaruh budaya luar.

Memang, tidak semua yang bersikap seperti itu. Namun, itulah realitas dari mayoritas para pemuda Indonesia. Jika melihat kenyataannya, benarlah apa yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun tentang perilaku bangsa-bangsa yang kalah : “Yang kalah cenderung mengekor pada yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai; malah meniru dalam setiap cara hidup mereka; termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat-istiadat mereka.”

Mungkin jika merunut pada akar permasalahan, kita akan menemukan penyebab yang kompleks; tidak hanya bersumber pada satu sebab saja. Namun, pada tulisan ini, saya mengambil satu benang merah : media. Menurut Mc Luhan—pakar komunikasi, media adalah perpanjangan alat indera kita. Dengan media, kita memeroleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Oleh karena itu, media—televisi, pemberitaan, internet, insan media, dsb—memiliki tanggung jawab yang amat besar dalam membentuk opini publik karena pemikiran dan sikap seseorang ditentukan oleh opini publik yang sedang berkembang. Maka, jika ingin memperbaiki kualitas dan karakter suatu bangsa, terlepas dari faktor pendidikan—para pelaku atau insan media seyogianya melakukan pembenahan. Jangan lagi menayangkan program televisi yang tidak bermanfaat; perbanyak tayangan yang mendidik masyarakat; patuhi kaidah jurnalistik yang bertanggung jawab.

Begitulah sang waktu telah menggiring kehidupan manusia sesuai dengan zamannya masing-masing. Kehidupan manusia tidak akan pernah sama. Selalu berubah berdasarkan waktu dan selalu memberikan warna tersendiri. Waktu berubah, zaman berubah, kehidupan pun berubah.

Tempora Mutantur et nos Mutamur in Illis : Waktu berubah dan kita berubah di dalamnya.

One thought on “Tempora Mutantur et nos Mutamur in Illis

  1. Dida Sadariksa

    geus lila urang teu nonton tipi..hehe..

    media memang berperan dalam pembentukan opini dan karakter publik. adalah juga dosa orang media ketika ada orang yang melakukan kejahatan dengan terisnspirasi tayangan yang ditontonnya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s