Insan Pembelajar (2) : Kedewasaan

“Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.” —Anonim

Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S Yusuf [12] : 22)

Proses pembelajaran atau pendidikan memungkinkan seeorang menjadi lebih manusiawi (being humanize) sehingga disebut dewasa dan mandiri. Itulah visi atau tujuan dari proses pembelajaran. Kita tahu bahwa perbedaan antara fase kanak-kanak (child) dengan orang dewasa (adult) dapat diringkas dalam satu kata : kemampuan (ability). Kemampuan ini umumnya dikaitkan dengan sedikitnya tiga hal berikut : pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan keterampilan (skill).

Fase kanak-kanak memiliki pengetahuan yang amat terbatas hampir dalam segala hal, baik tentang dirinya, orang lain, alam semesta, apalagi tentang Penciptanya. Fase Kanak-kanak juga belum mampu menentukan sikap, apakah harus positif atau negatif, kritis atau bersikap menerima apa adanya terhadap hampir semua hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dalam hal keterampilan pun sama saja, entah itu yang bersifat teknis maupun non-teknis. Jadi, pertumbuhan seorang kanak-kanak menjadi manusia dewasa sesungguhnya ditandai dengan perkembangan kemampuannya. Ia menjadi semakin mampu, semakin berdaya, dan semakin merdeka dari hal-hal yang di luar dirinya.

Kita pun tahu bahwa kemampuan (ability) bukan bakat, bukan pula bawaan sejak lahir. Setiap orang dilahirkan sebagai manusia yang belum mampu, belum berdaya, belum mandiri, dan karenanya belum dikenai pertanggungjawaban atas pilihan-pilihannya. Untuk memenuhi kebutuhan fisiknya saja, ia masih sangat bergantung pada hal-hal di luar dirinya. Demikianlah kita—semua manusia—dilahirkan dalam keadaan sangat bergantung sepenuhnya kepada orang lain karena memang belum mampu, belum berdaya, belum merdeka, belum aktual, tetapi masih dalam keadaan potensial. Ia belum menjadi seseorang, tetapi sedang berproses menjadi seseorang, sedang dalam “perjalanan” dan belum “sampai”.

Akan tetapi, seseorang mengalami masa pertumbuhan dan berkembang menjadi manusia dewasa. Ia dapat berkembang karena memiliki potensi dalam dirinya. Potensi itu diberikan untuk diaktualisasikan dalam kehidupan dan pada gilirannya kelak dipertanggungjawabkan kepada Allah, Sang Pemilik Karunia. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri pada esensinya adalah mengalami pertumbuhan untuk memainkan keempat aspek : fisik-biologis; mental-psikologis; sosial-emosional; dan rohani-spiritual. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti belajar tentang, belajar menjadi, dan belajar memainkan keempat aspek tersebut dan dengan demikian menjadi mampu.

Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mengenal diri, semakin jujur dengan diri sendiri, semakin otentik, dan semakin unik tak terbandingkan.

Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mampu bertanggung jawab atas diri sendiri dan menolak pendiktean atau pemaksaan kehendak dari apa pun yang berada di luar diri. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti menjadi semakin mampu menyatakan, mengaktualisasikan, mengeluarkan potensi-potensi yang dititipkan padanya (given). Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti menjadi semakin berdaya, semakin merdeka dan berdaulat; semakin lebih manusiawi. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin menjadi diri sendiri dan menjauhkan kecenderungan suka meniru dan sekadar ikut-ikutan—seperti halnya pada fase kanak-kanak. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mengenal diri, semakin jujur dengan diri sendiri, semakin otentik, dan semakin unik tak terbandingkan.

Lalu, darimana kedewasaan dan kemandirian itu diperoleh? Tidak lain melalui proses pembelajaran (belajar menjadi). Pembelajaranlah yang membuat manusia bertumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan; menjadi dewasa; dan mandiri. Pada titik ini, kita melihat hasil-hasil dari suatu proses pembelajaran seorang anak manusia. Ia mengalami proses transformasi diri; dari belum mampu menjadi mampu; atau dari ketergantungan menjadi mandiri. Proses transformasi itu terus berlangsung sepanjang hayat, asalkan ia tidak berhenti belajar, asal ia tetap menyadari keberadaannya yang bersifat present continuous, on going process.

Persoalan berikutnya adalah sebagian besar manusia tidak mendisiplinkan dirinya untuk tetap belajar—dalam arti luas—tanpa henti. Sebagian besar manusia berhenti belajar setelah “merasa dewasa”. Dengan sikap “merasa dewasa” seperti itu, maka proses pembodohan dan bahkan dehumanisasi dimulai. Padahal, tidak belajar satu hari berarti mundur satu hari. Apa pun alasannya—baik bersifat personal, kultural, maupun struktural—proses pembodohan dan dehumanisasi itu agaknya berhasil membuat manusia melupakan panggilan kemanusiaannya yang pertama : menerima tanggung jawab untuk menjadi manusia pembelajar yang terus-menerus belajar di “sekolah” kehidupan sampai akhir hayat. Tak heran jika kemudian bangsa kita marak oleh para koruptor, pelajar yang “gemar” tawuran, pemuda yang kehilangan semangat juangnya, dan berbagai penyakit bangsa lainnya. Inilah akibat dari ketidakdewasaan diri—atau merasa dewasa—dan membiarkan diri kita mundur dalam arti menjadi tidak memanusiakan dirinya sendiri.

Referensi :

Harefa, Andrias. 2000. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta : Kompas

Sumardjo, Jakob. Hidup Itu Belajar. Harian Kompas, 24 April 1996.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s