“Kejahatan” Kaum Terpelajar

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” —Pramoedya Ananta Toer

Sebuah buku menyebutkan bahwa ada tiga “kejahatan” utama yang tidak layak dilakukan oleh kalangan mahasiswa, atau siapa pun yang mengaku dirinya makhluk terpelajar bernama mahasiswa. Mengingat fungsi, peran, dan posisinya sebagai agen perubahan sosial (agent of change), tak layak jika mahasiswa melakukan tiga kejahatan itu. Tigak kejahatan yang tak layak dilakukan mahasiswa adalah : tidak suka membaca, tidak senang berdiskusi, dan tidak hobi menulis.

Pertanyaan pertama, mengapa tidak suka membaca merupakan kejahatan intelektual? Karena membaca adalah kunci pembuka tabir rahasia semesta. Membaca dalam konteks ini memiliki arti yang luas, sesuai dengan perintah Allah pada ayat yang pertama kali turun : iqro—bacalah. Membaca bisa berarti membaca surat kabar, tabloid, majalah, buletin, dan referensi lainnya. Bisa juga membaca dalam arti membaca fenomena sosial, isu-isu kemasyarakatan, hingga ayat-ayat kauniyah yang tak tersurat secara langsung. Tidak suka membaca berarti membunuh intelektualitas diri secara perlahan-lahan. Tidak akrab dengan kegiatan membaca berarti tidak akrab dengan ilmu pengetahuan. Kalau Anda tidak membaca, maka Anda tidak bisa menulis.

Sesuatu yang lebih indah dari istana dan rumah mewah adalah buku, yang bisa menjernihkan pemahaman, yang membuat hati menjadi gembira, yang membuat jiwa menjadi teduh, yang membuat hati menjadi lapang, dan yang membuat pikiran berkembang. Buku adalah teman yang paling baik. Bercakap-cakaplah dengan buku, bersahabatlah dengan ilmu, dan bertemanlah dengan pengetahuan. Dengan ilmu akan membuat hati menjadi lapang, meluaskan cara pandang, membukakan cakrawala sehingga jiwa dapat keluar dari berbagai keresahan, kegundahan, dan kesedihan.

Pertanyaan kedua, mengapa tidak senang berdiskusi termasuk kejahatan intelektual yang tidak layak dilakukan oleh kalangan mahasiswa? Tentu dalam dunia kemahasiswaan dan kuliah di perguruan tinggi, saya jamin kita berada dalam lingkungan yang heterogen. Kita berada dalam lingkungan yang anggota komunitasnya berasal dari berbagai daerah. Bahkan, bisa dari Sabang sampai Merauke, persis miniatur Indonesia. Lingkungan yang heterogen dan teman-teman dengan berbagai karakter tentu akan memperkaya wawasan kita. Dengan berdiskusi. Kita akan semakin paham dengan karakteristik dan tabiat orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Termasuk berbeda dengan diri kita. Berbeda dalam segala hal.

Maka, berdiskusi akan memperkaya wawasan kita sehingga mampu bersikap cerdas dalam menyikapi persoalan. Siapa tahu, kita akan mendengar ide-ide baru atas persoalan yang sedang terjadi, atau mungkin juga berupa gagasan baru yang diambil dari buku yang belum pernah kita baca sebelumna, tapi sudah dilahap habis oleh teman diskusi kita. Dalam berdiskusi, tentu dituntut juga budaya cerdas dalam memberikan kritik dan argumen. Siap dikritik dan bersedia mengkritik, tentu dalam konteks yang konstruktif. Semakin intens dalam berdiskusi, maka akan kian bertambah wawasan kita.

Pertanyaan ketiga, mengapa mahasiswa yang tidak hobi menulis dianggap telah melakukan tindakan kejahatan intelektual? Akan banyak sekali alasan yang mengemuka. Sebagai insan pembelajar dan terpelajar, kegiatan menulis seyogianya telah menjadi tanggung jawab. Menulis tidak sekedar tugas individu, tapi juga merupakan amanat kemanusiaan. Menulis adalah sarana aktualisasi diri. Sebagai mahasiswa, tentu kita memiliki amanah lebih untuk bisa menyampaikan ilmu pengetahuan kepada khalayak umum yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan lebih jauh.

Menulis adalah pilihan hidup. Suatu panggilan kemanusiaan. Seorang pembaca belum tentu menulis, tapi seorang yang menulis pasti membaca. Tidak juga sekedar hobi menuangkan gagasan atau buah kata di atas tuts keyboard atau kertas, tapi lebih dari itu, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Seperti yang dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam romannya—Anak Semua Bangsa : “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s