Internet : Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat?

Pada tahun 1980-an, mahasiswa Indonesia yang bersekolah di luar negeri kerap berlangganan majalah dari Indonesia yang dipesan melalui agen tertentu yang berada di negara-negara yang bersangkutan. Pada akhir tahun 1990-an, mahasiswa Indonesia tidak ada lagi yang berlangganan majalah, semua berita dapat diakses saat diterbitkan lewat internet. Begitu juga halnya dengan mahasiswa pada masa kini. Di zaman yang kian akrab dengan dunia teknologi informasi, internet kian menjadi barang konsumsi sehari-hari. Terlebih lagi bagi kalangan eksekutif dan bisnis.

Sejak Mark Zuckerberg—CEO Facebook—memperkenalkan pada dunia sebuah laman internet yang bisa menghubungkan orang-orang di seluruh dunia, perilaku manusia pun berubah. Kini, jarak beribu-ribu kilometer hanya berada dalam ujung jemari. Dunia yang terhampar seluas jagad, kini bisa “dipermainkan” oleh sebuah tetikus kecil. Urusan hubungan antar manusia kian begitu mudah, sesuai dengan logo pada tampilan depan Facebook : Facebook helps you connect and share with the people in your life.

Seiring berjalannya waktu, penggunaan Facebook telah membuat semacam candu. Fenomena Facebook cepat menyebar secara getok tular. Sugesti kian berkembang menjadi sebuah trend dan gaya hidup. Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna Facebook paling banyak. Ditambah lagi dengan Twitter, BlackBerry Mesengger, dan situs microblogging lainnya yang telah memanjakan penggunanya dan semakin terbius memasuki dunia maya. Maka, tidak perlu heran jika dalam situasi keseharian banyak orang yang sibuk dengan layar komputernya, bahkan rasanya ada yang kurang jika tidak membuka internet sehari pun. Terlebih lagi kini internet kian mudah diakses melalui smart phoneBlackBerry dan yang sejenisnya.

Walaupun begitu, kita tidak menafikan aspek kebermanfaatan internet yang secara nyata memberikan manfaat dan berbagai kemudahan bagi kehidupan. Lambat-laun, perlahan tapi pasti, internet kian mengubah kehidupan manusia. Internet kian menghubungkan antar manusia di berbagai belahan dunia, dunia serasa dilipat dan dihamparkan kembali di hadapan kita. Seperti kata Thomas L. Friedman : The wolrd is flat. Internet telah menjadi media yang ampuh untuk mendekatkan yang jauh—oleh karena itu, dunia serasa tak berjarak lagi.

Namun, kemajuan tekonologi informasi—internet—ternyata juga menimbulkan dampak sosial. Kemajuan internet yang semakin maju dan canggih, lambat-laun telah membuat manusia sibuk dengan dunianya sendiri—apatis. Walaupun berada dalam lingkungan komunitasnya, tanpa disadari justru perhatian tertuju pada layar laptop, BlackBerry, atau gadget lainnya. Secara perlahan, sikap mental ini membuat orang cenderung lebih nyaman berkomunikasi melalui media—baik itu internet, handphonedan cenderung melupakan dunia nyata tempat ia hidup.

Pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya—sesuai dengan Teori Hierarki Kebutuhan Maslow—dan salah satu bentuk pengaktualisasian diri itu tersalur melalui media internet, khusunya Facebook, Twitter, Blog, dsb. Maka, jangan heran jika sebagian besar jejaring sosial banyak diisi dengan informasi yang mengandung unsur narsis. Memang, itu tidak salah karena itulah kebutuhan manusia. Ada pula tersusup keinginan untuk mengetahui kehidupan pribadi orang lain. Dari situlah justru sang manusia akan semakin kecanduan untuk terus mengakses internet.

Perlahan tapi pasti, dunia offline mulai tak dihiraukan lagi. Maka, jangan heran pula jika ada orang yang kehidupan sosialnya menjadi berubah karena ia (mungkin) lebih nyaman bersosialisasi di dunia maya. Terlebih lagi di negara-negara maju, lingkungan bisnis, dan perkantoran. Dikhawatirkan budaya-budaya dan kearifan lokal tentang semangat toleransi, tenggang rasa, dan gotong royong akan semakin memudar. Jika begitu, bisa saja internet justru menjauhkan yang (sudah) dekat.

Tentunya, dunia offline memiliki nilai yang berbeda dengan dunia online. Bersosialisasi secara nyata lebih baik daripada di dunia maya. Ada perasaan, maksud, bahasa non-verbal, dan mimik wajah yang tidak tersampaikan dalam dunia maya. Kesemua itu hanya bisa dirasakan ketika kita bersosialisasi dalam dunia nyata. Maka, jangan biarkan kita terlalu lama “hidup” dalam dunia maya. Dunia maya memang luas, tetapi dunia nyata lebih luas; seluas bumi, kehidupan manusia, dan berbagai persoalannya.

Teknologi mengubah segalanya. Mengubah mobilitas manusia, jangkauan, wawasan, cara berpikir, cara berkomunikasi, memimpin, dan mengelola suatu persoalan. Kalau ia—teknologi—bisa dikelola dengan baik, maka ia akan memberikan kesejahteraan. Kalau tidak, ia bisa berubah menjadi ancaman yang menakutkan.

One thought on “Internet : Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s