Insan Pembelajar (3) : Mengasah Paradigma Pembelajar

Tugas pertama manusia dalam proses menjadi dirinya yang sebenarnya adalah menerima tanggung jawab untuk menjadi pembelajar. Hal inilah yang mengingatkan bahwa manusia hidup untuk belajar dan bukan belajar untuk hidup. Bila seseorang belajar untuk hidup, untuk mendapatkan pekerjaan, memeroleh jabatan, dan sebagainya, maka ia akan menjadi pemburu gelar dan atribut-atribut simbolis yang tidak esensial. Mereka merasa akan merasa puas bila sudah diwisuda dan merasa sudah “tamat belajar”. Hal ini membuat mereka berhenti belajar—baik dalam arti sempit : belajar dalam hal akademis, maupun belajar dalam arti luas : belajar di sekolah kehidupan—setelah usai sekolah atau lulus perguruan tinggi. Setelah mendapat “Surat Tanda Tamat Belajar”, tidak ada lagi proses pembelajaran yang dilakukan.

Sebaliknya, bila orang menyadari bahwa ia (mereka) hidup untuk belajar, maka ia tidak mementingkan gelar atau simbol-simbol status. Walaupun kadang gelar menjadi “primadona” karena pada suatu pekerjaan tertentu (baca : dosen), gelar akademis bisa menjadi syarat perlu dan penentu penghasilan. Namun, esensi dari hidup untuk belajar adalah manusia mampu mengeluarkan potensi dirinya dan membuat dirinya menjadi nyata (bermanfaat) bagi sesamanya. Proses ini tidak pernah berujung sampai mereka memeroleh gelar almarhum. Orang-orang dengan pilihan ini senantiasa tumbuh dan berkembang. Mereka senantiasa melihat hidup ini sebagai kesempatan belajar. Mereka adalah pembelajar seumur hidup (life long learner).

Menyamakan paradigma belajar untuk hidup dengan hidup untuk belajar, atau ketidakmampuan untuk membedakan keduanya, memang merupakan salah satu persoalan yang mendasar. Paradigma adalah cara kita melihat dunia, cara kita memersepsi, memahami, dan menafsirkan peristiwa-peristiwa yang kita alami. Dengan demikian, kita sebenarnya tidak melihat dunia sebagaimana realitas yang sebenarnya, tetapi kita melihatnya dengan realitas kita sendiri. Paradigma adalah bingkai sebuah kacamata, sementara sikap adalah lensa kacamata tersebut. Kita melihat dunia di sekitar kita dengan menggunakan keduanya—bingkai dan lensa. Dengan demikian, paradigma bukanlah sikap. Sikap adalah lensa kacamata yang bisa kabur, kotor, dan menjadi buram. Sikap ini terkurung dalam sebuah bingkai, yaitu paradigma.

Manusia memiliki dua paradigma yang mendasar. Paradigma yang pertama adalah memiliki. Paradigma ini banyak dianut oleh manusia modern. Dalam hal ini, ukuran kesuksesan adalah pemilikan kita atas benda-benda : harta, pekerjaan, jabatan, uang, kendaraan, dsb. Secara sederhana, paradigma ini dapat dirumuskan dengan kalimat : Saya adalah apa yang saya miliki. Paradigma kedua adalah menjadi. Dalam hal ini, ukuran kesuksesan adalah pada seberapa jauh seorang manusia dapat meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Paradigma ini sulit dikenali. Secara sederhana, paradigma ini dirumuskan dalam kalimat : Saya adalah siapa saya.

Paradigma yang membingkai sikap itulah yang menjadi dasar bagi seorang manusia untuk bertindak dan berperilaku. Perilaku kita tidak bisa keluar dari kedua hal tersebut karena kita melihat segala sesuatu di luar diri kita dengan menggunakan paradigma dan sikap kita. Diri kita adalah cerminan dari bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Paradigma juga dapat diilustrasikan sebagai fondasi dari sebuah bangunan. Maka, bila ingin mendirikan suatu bangunan yang tinggi dan megah, harus membuat fondasi yang dalam dan kokoh. Dalam konteks ini, sikap adalah kerangka dari bangunan tersebut yang bertumpu pada fondasi bangunan. Perilaku kita adalah bangunan itu sebagaimana yang tampak kasat mata. Paradigma dan sikap bersifat tak kasat mata, sedangkan perilaku adalah yang nampak oleh mata.

Tentu mengubah hal yang tak kasat mata akan jauh lebih sulit ketimbang mengubah hal yang nampak oleh mata. Bagaimana mungkin proses pembongkaran fondasi yang menopang seluruh bangunan seseorang dapat direkayasa? Paling tidak memerlukan revolusi paradigma dan cara berpikir secara besar-besaran. Mengubah paradigma akan jauh lebih sulit bila tanpa adanya kesediaan untuk meninjaukan kembali visi, misi, dan strategi hidup pribadinya, atau tanpa adanya keinginan yang kuat untuk melakukan semacam reformasi diri. Tanpa hal itu, seseorang akan cenderung bersikap enggan untuk mengubah paradigmanya dan tidak mau membongkar fondasi bangunan pikiran dan perilakunya

Kenyataan bahwa paradigma dapat bergeser, berkembang, dan bertumbuh mengikuti proses pertumbuhan diri kita menunjukkan bahwa paradigma itu bersifat dinamis, tergantung sejauh mana usaha kita untuk mengubahnya dari powerless menjadi powerful. Oleh karena itu, untuk mengubah cara berperilaku dan sikap kita, yang perlu kita lakukan adalah mengubah paradigma. Kesulitan dan kemudahan; kesedihan dan kebahagiaan; kegagalan dan kesuksesan; dan juga nasib, semua hanya dipisahkan oleh satu sekat tipis bernama paradigma. Memang, kita tidak kuasa mengotak-ngatik takdir, tapi kita bisa mengotak-ngatik nasib. Mengubah nasib dengan mengubah paradigma, kemudian termanifestasikan dalam sikap dan perilaku. Pertanyaannya : bagaimana pergeseran paradigma itu terjadi?

Pergeseran paradigma dapat terjadi dengan dua cara. Pertama, dilakukan secara sadar dan proaktif. Mengikuti pembelajaran, memperluas wawasan, belajar dari pengalaman masa lalu, banyak membaca, bergaul dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, berusaha mengenali visi dan misi hidup pribadi, melakukan pendekatan secara spiritual, dan berbagi waktu dengan alam (inti kesemua itu adalah meningkatkan kapasitas diri dengan ilmu) adalah sekian proses perluasan paradigma yang dapat dilakukan secara sadar dan proaktif, sehingga melalui proses pertama ini manusia tidak terkungkung oleh paradigmanya yang sempit. Kedua, dilakukan dalam keadaan terpaksa yang berada di luar kehendak kita. Misalnya, mengalami kegagalan, kebangkrutan usaha, mengalami depresi berkepanjangan, dsb. Tentu proses kedua ini tidak kita kehendaki.

Oleh karena itu, untuk melakukan perubahan paradigma mendasar, kita perlu mengubah paradigma terlebih dahulu, baru kemudian sikap dan perilaku. Kita bisa saja mengubah perilaku tanpa mengubah paradigma dasar kita, tetapi yang akan kita dapatkan hanyalah perubahan yang relatif kecil dan tidak mengakar kuat. Mengubah paradigma memang tidak semudah yang dibayangkan dan diucapkan (dituliskan), yang jelas dalam proses ini manusia harus memiliki semangat sebagai seorang pembelajar sejati dan akan mengalami “penderitaan” paling tidak untuk sementara waktu. Maka, disinilah tanggung jawab manusia sebagai insan pembelajar dituntut. Bila seseorang berhenti belajar, maka ia berhenti pula menghargai dirinya sendiri. Pada hakikatnya, semakin banyak ia belajar, maka akan semakin banyak ketidaktahuan yang ia rasakan, bukannya malah merasa semakin banyak yang ia ketahui. Hal inilah yang membuat seseorang merasa bahwa semakin banyak ia mereguk ilmu—dari proses belajar, maka akan semakin haus yang ia rasakan. Maka, disini pula terletak hakikat bahwa manusia hidup untuk belajar.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S Al-Alaq [96] : 1-5)

One thought on “Insan Pembelajar (3) : Mengasah Paradigma Pembelajar

  1. Pingback: Manifesto Kaum Terpelajar « Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s