Jelajah Bandung (2) : Alam

Sesuai dengan rencana dan komitmen saya untuk menjelajahi Bandung pada berbagai aspek, mulai dari urban, alam, arsitektural, kuliner, dll, maka tema pada jelajah Bandung kali ini adalah alam. Hari sabtu kemarin, saya beserta ketujuh teman-teman (Ari, Aldo, Ateng, Dida, Theo, Anggy, dan Pince) berkesempatan untuk menjelajahi Bandung bagian utara, tepatnya di kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) Juanda yang kemudian diteruskan ke kawasan Maribaya, Lembang. Si bleqi—motor saya—saya parkir di kawasan parkiran belakang kampus karena pada penjelajahan Bandung kali ini saya tidak (belum) membutuhkan si bleqi. Pada penjelajahan Bandung yang pertama pun saya menggunakan sepeda, agar lebih praktis dan hemat, sekaligus berolahraga.

Rencananya, pada jam 7 pagi tepat kami langsung berangkat menuju lokasi, tapi, ya sepertinya “budaya” ngaret masih mengakar kuat. Dan yang lebih “mengkhawatirkan” lagi, yang ngaret itu datang seperti tanpa dosa dan tanpa meminta maaf, alangkah baiknya meminta ijin dulu jika kira-kira akan datang terlambat. Usahakan pula jangan mendadak pemberitahuannya. Huh! Padahal waktu yang tersia-siakan—karena menunggu—tidak bisa dibeli walaupun dengan uang sebanyak bukit. Mari berlatih empati.

Singkat cerita, kami mulai berjalan dari terminal Dago menuju kawasan TAHURA. Begitu masuk kawasan TAHURA, udara sejuk langsung menyambut kami. Suasana TAHURA sekarang jauh lebih baik ketimbang dulu. Sekarang sudah banyak tersedia fasilitas dan objek wisata penyangga, seperti panggung terbuka, guest house, jogging track sepanjang jalan, dan fasilitas outbond. Ditambah lagi banyak terdapat pesan moral yang baik pada setiap papan informasinya—berupa ayat-ayat Al-Quran yang terkait. Namun, rasanya perlu perhatian lebih kepada fasilitas kamar kecil. Walaupun dianggap sepele, tapi bisa menggambarkan citra dari pihak pengelola yang terkait. Selain itu, fasilitas yang dianggap sepele ini justru merupakan kebutuhan vital bagi para wisatawan.

Salah satu objek utama yang kami kunjungi terlebih dahulu adalah Goa Jepang. Goa Jepang ini merupakan goa yang dibangun oleh tentara Jepang untuk kepentingan pertahanan setelah tentara Belanda menyerah tanggal 10 Maret 1942. Nampaknya, goa Jepang ini menjadi lahan rezeki bagi para penyewa senter. Maka, saya sarankan bagi para wisatawan yang akan mengunjungi TAHURA, tidak perlu membawa senter dari rumah. Sewa saja senter seperlunya di lokasi. Ya, hitung-hitung saling memberdayakan masyarakat sekitar. Cukup membayar 3.000 rupiah per senternya, maka kita telah membantu perekonomian masyarakat setempat.

Selanjutnya, kami menuju Goa Belanda yang berada tidak jauh dari Goa Jepang. Goa Belanda ini merupakan goa peninggalan Belanda yang dibangun pada awal tahun 1941. Dahulu dipergunakan untuk terowongan PLTA bengkok. Karena perbukitan Pakar merupakan kawasan yang sangat menarik bagi strategi militer Hindia Belanda, lokasinya yang terlindung, dan begitu dekat dengan pusat kota Bandung; maka menjelang perang dunia II, pada awal 1941 Militer Hindia Belanda membangun stasiun Radio Telekomunikasi. Bangunan ini berupa jaringan goa di dalam perbukitan batu pasir tufaan, sehingga dapat dimasuki dengan aman. Kami tidak berlama-lama di goa Belanda ini, lalu kami keluar di pintu sebelah utara. Perjalanan selanjutnya menuju Curug Omas, Maribaya.

Dari kawasan TAHURA terdapat jogging track yang langsung menghubungkan ke Curug Dago, Curug Lalay, dan Curug Omas. Rute menuju Curug Omas merupakan rute yang terjauh, tertulis 5 km. Namun, berjalan sepanjang 5 km rasanya tidak terlalu menjadi masalah karena udaranya pun terasa segar. Menyehatkan! Banyak pos-pos yang kami jumpai, selain itu terdapat pula fasilitas ojek. Ya, bagi Anda yang tidak kuat berjalan jauh, ada baiknya Anda membantu perekonomian warga setempat dengan menyewa ojek😀. Singkat cerita, setelah berjalan kurang lebih 2 jam, kami tiba juga di Curug Omas, Maribaya. Setelah mengambil foto, lalu menuju ke acara yang paling ditunggu : Murak bekel (baca : membuka bekal). Tapi, hanya saya dan Dida yang membawa bekal dari rumah, yang lain sepertinya lebih memilih untuk memberdayakan perkonomian pedagang makanan setempat (baca : membeli) karena tidak membawa bekal, hehe.

Setelah kami selesai makan dan sholat, waktu menunjukkan pukul 13.10 di jam tangan saya. Langit pun sudah kelabu dan menggemuruh. Kami bergegas mencari jalan menuju pintu keluar Maribaya dan harus berjalan kurang lebih setengah jam. Sebelumnya, kami sempat diminta membayar tiket lagi karena telah memasuki kawasan Maribaya dan sempat terjadi tawar-menawar harga tiket. Saya jadi heran, apakah tidak ada peraturan tertulis yang mengatur masalah ini? Logikanya, mengapa harga tiket bisa ditawar jika sudah ada ketetapan harga di peraturan tertulisnya? Ayolah birokrasi, permudahlah urusan rakyat! Alhasil, kami harus memutar. Tak apalah. Kali ini, kami tidak mau membantu memberdayakan perekonomian masyarakat sekitar yang tidak jelas aturannya.

Singkat kata, dengan setting cerita dibawah gerimis hujan dan kondisi badan lelah, kami tiba juga di pintu keluar Maribaya. Tanpa membayar apapun! Lalu, kami naik angkot menuju Pasar Lembang untuk membeli susu murni sebagai oleh-oleh. Kami meneruskan perjalanan menuju Bandung dengan angkot dan mulai disambut dengan penyakit kehidupan perkotaan : kemacetan! Ah, jadi terngiang-ngiang kembali suasana hutan yang penuh ketenangan tadi, hehe…

4 thoughts on “Jelajah Bandung (2) : Alam

  1. athnk

    nice share gan..
    dengan ini saya mohon maaf kepada semua teman-teman yang tepat waktu..
    memang sulit mengubah “budaya” yang sudah mendarah daging.
    ditunggu permohonan maaf dari 2 tersangka lain yang telatnya lebih parah🙂
    juga buat 2 brader KP yang kita tunggu-tunggu karena pada malam sebelumnya komit untuk ikut..

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Oke, kita jadiin perbaikan bwt ke depannya ya.. Masih banyak perjalanan2 yg lainnya. Oke, sip? selain belajar mengenal alam, kita jg belajar disiplin, menghargai waktu, dan saling mengingatkan sesama teman.. Sy jg minta diingetin kalo salah.

      Nuhun.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s