Dibutuhkan : Berita Inspiratif!

Bisakah suatu berita buruk sekaligus menjadi berita yang baik? Jawabannya bisa! Media selama ini memiliki paradigma bahwa bad news is good news. Berita buruk adalah berita baik. Semakin buruk suatu kondisi, justru semakin baik untuk diberitakan. Musibah dengan dampak multiaspek—ekonomi, politik, pariwisata, sosial, dll—akan lebih bisa menjadi berita dibandingkan dengan berita tentang musibah dalam ruang lingkup yang kecil (bersifat lokal). Semakin besar jumlah korban dan dampaknya, akan semakin besar nilai news-nya. Akibat paradigma ini, setiap media nampaknya berlomba-lomba menampilkan berita yang buruk.

Paradigma ini ternyata menjalar kuat hingga sampai kepada pembentukan opini publik. Demonstrasi yang dilakukan secara damai dan cerdas dianggap sebagai fenomena yang biasa-biasa saja. Justru demonstrasi yang rusuh, anarkis, dan tidak cerdas yang mendapat sorotan untuk menjadi berita. Padahal, masih banyak masyarakat di beberapa daerah yang melakukan demonstrasi secara cerdas dan sesuai dengan prosedural. Namun, demonstrasi dengan cara cerdas ini dianggap tidak memiliki nilai jual berita.

Selain itu, televisi, radio, surat kabar, dan situs berita online—insan media—seperti berlomba-lomba memberitakan berbagai peristiwa buruk karena dianggap memiliki nilai jual lebih. Suatu berita kriminal yang melibatkan tokoh masyarakat, politikus, atau artis akan lebih banyak mendapat sorotan. Lebih dari itu, berita tersebut akan terus disiarkan secara berulang-ulang. Apalagi jika subjek berita menyangkut subjek lainnya yang juga merupakan tokoh masyarakat, politikus, atau artis. Siap-siap saja Anda disuguhi berita seperti itu dengan intensitas yang terus-menerus, hingga masyarakat merasa bosan kemudian media akan mencari berita dengan sensasi yang lain.

Penyelewengan dalam penegakan hukum menjadi menu harian informasi sepanjang pagi, siang, sore, dan malam. Lebih dari itu, penyelewengan hukum oleh aparat penegak hukum akan menjadi informasi yang disampaikan secara bertubi-tubi. Apalagi jika sudah menyerempet ranah politik dan kekuasaan, maka berita yang disampaikan seolah tidak pernah tuntas; justru terkesan berbelit-belit dan membingungkan masyarakat—khususnya masyarakat awam. Selain itu, berita seputar para wakil rakyat kita di DPR seolah tidak pernah berhenti menjadi sorotan. Ada “gerak-gerik” sedikit saja, media akan menyerempet dan membuatnya menjadi suatu objek pemberitaan.

Saya merasa bahwa media jarang—atau tidak (belum) pernah?—membuat pemberitaan seputar DPR yang bernada positif. Berita yang mencuat hanya seputar pelesiran ke luar negeri, bolos rapat, kontroversi pembangunan gedung DPR, kericuhan saat rapat, dan sebagainya. Rasanya, saya belum pernah mendengar berita seputar prestasi-prestasi dari DPR ini. Apakah ada? Ataukah (memang) ada, tapi media tidak menyorotinya? Padahal, mungkin saja anggota DPR ini memiliki banyak prestasi yang patut diketahui oleh publik yang memilihnya. Akibat dari maraknya berita yang tidak sedap seputar DPR ini, agaknya masyarakat mulai bersikap antipati terhadap DPR. Ada manuver sedikit saja, dianggap tidak berpihak pada rakyat.

Informasi buruk mengalir deras bagaikan air bah yang tak bisa dibendung. Berita seputar kriminal, sadisme, anarkisme, kericuhan demonstrasi, tawuran antar supporter, aksi berandalan bermotor, hingga korupsi terus menjadi menu “andalan” dari suatu pemberitaan. Melalui pemberitaan buruk yang terus memenuhi otak dan opini masyarakat itulah, bangsa ini secara tidak sadar telah keracunan informasi. Masyarakat secara perlahan mulai bersikap antipati terhadap keadaan di sekitarnya. Masyarakat pun secara perlahan mulai bersikap permisif dan menganggap bahwa tindakan kriminal akibat keadaan terdesak adalah suatu hal yang lazim. Bahkan, secara perlahan, mulai mati rasa. Melihat kecelakaan sepeda motor saja bukannya terdorong untuk menolong, malah menontonnya. Akibatnya, kerap memacetkan jalan karena banyak yang terpancing untuk ikut menonton. Jika ingin menolong, tolonglah! Tapi jika tidak, jangan menjadi penonton yang memacetkan jalanan!

Sejak kebebasan informasi diperkenalkan, sepanjang itu pula masyarakat Indonesia menerima informasi tanpa filter. Akibatnya, masyarakat mulai keracunan informasi. Untuk menormalkannya kembali, bangsa ini membutuhkan informasi penawar yang dapat menormalkan suasana. Membalikkan berita atau informasi dari yang serba buruk menjadi serba baik akan membentuk opini publik yang positif. Dalam keadaan bangsa Indonesia yang sedang mengalami keracunan informasi ini, kabar berita yang mencerahkan dan inspiratif dapat menjadi obat penawar, bahkan bisa menjadi semacam oase yang akan menjadi penyegar opini publik yang telah sekian lama digiring kepada opini negatif.

Berita atau informasi yang bagus dan inspiratif dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Kebaikan dapat diajarkan kepada orang lain melalui contoh (teladan) dan bukti nyata. Berita baik pun bisa menjalar menjadi opini publik yang baik. Jika bangsa ini ingin kembali “normal”, maka hal yang harus dilakukan adalah merombak dan merevolusi paradigma yang masih salah. Salah satu perantara yang dapat memulihkan kembali paradigma bangsa adalah media. Maka, media ditantang untuk bisa memberikan solusi secara bertanggung jawab dengan menampilkan informasi, tayangan, dan pemberitaan yang bisa menginspirasi masyarakat untuk berbuat kebaikan. Media harus tetap kritis dan—tentu saja—harus bisa memberikan informasi yang menjual, tapi tidak boleh melupakan tanggung jawabnya untuk menginspirasi masyarakat—melalui informasi, tayangan, dan pemberitaan—untuk berbuat kebaikan dan menggiring paradigma masyarakat ke arah yang positif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s