Gaya Penulisan Blog

Setiap blog yang saya kunjungi saat sedang blogwalking pastinya memiliki gaya tulisan tersendiri dan desain blog yang unik (khas). Secara (tidak) langsung, gaya tulisan dan desain di blog itu merupakan gambaran pemikiran dan kepribadian dari si empunya blog. Ada cara sederhana yang saya lakukan untuk bisa lebih mengenal seseorang, yaitu membuka alamat situs blognya—jika punya—lalu mengamati gaya tulisannya dan desain dari blog itu sendiri. Maka, dari situ saya bisa menarik kesimpulan sederhana mengenai bagaimana pemikiran dan kepribadian dari orang yang bersangkutan, meskipun hanya sebatas permukaannya saja.

Seringkali saya menjumpai blog yang berisi tulisan-tulisan panjang yang merupakan pemikiran dari si empunya blognya atau hanya sekedar dari referensi. Tidak sedikit pula, ada blog yang hanya berisi tulisan-tulisan pendek dan lebih banyak menampilkan foto-foto. Ya, mungkin inilah salah satu cara untuk bisa terus meng-update blog pada saat inspirasi menulis sedang mandeg. Namun, justru dari blog yang berisi tulisan-tulisan pendek itulah sering saya dapati banyak komentar dari para pembaca—artinya, blog itu juga banyak pengunjungnya.

Adakah relevansi antara panjang-pendeknya tulisan (postingan) dengan jumlah komentar atau pengunjung? Menurut saya ada. Rata-rata, pembaca akan merasa malas jika harus membaca tulisan yang panjang-panjang. Terlebih lagi harus membaca di layar komputer, akan sangat melelahkan. Kecuali jika tulisan panjang itu memang bagus dan sedang dibutuhkan oleh pembaca (sebagai referensi). Para pembaca pun relatif akan mencari tulisan-tulisan pendek dan bersifat sebagai informasi atau hiburan karena pada dasarnya, pembaca melakukan blogwalking atas dasar refreshing dan sebagai “cemilan” saja. Pada kondisi seperti itu, pembaca enggan untuk membaca tulisan-tulisan panjang, apalagi yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Saya sendiri menetapkan semacam standar mengenai panjang-pendeknya tulisan sebelum menulis untuk blog. Rata-rata tulisan yang ada di blog saya, saya atur formatnya dengan huruf Calibri atau Times New Roman ukuran 11; Align Justify; dan line spacing 1.0. Hal ini untuk memudahkan saya dalam menyalin tulisan dari Microsoft Word ke blog. Biasanya, panjang tulisan saya patok maksimal 1.5 halaman, terkecuali untuk tulisan yang berisi opini atau kategori lain yang membutuhkan pembahasan yang komprehensif. Dikhawatirkan, jika tidak menulis secara lengkap, akan timbul salah persepsi dan pemahaman yang dangkal. Membuat standar penulisan sendiri juga melatih diri saya untuk bisa terus menuangkan ide.

Selain itu, saya lebih suka menggunakan bahasa yang formal dalam menulis blog. Ya, hitung-hitung latihan menulis untuk jurnal nasional dan internasional😀. Terus terang, saya agak canggung jika disuruh menulis dalam gaya bahasa pergaulan sehari-hari, terkecuali untuk forum-forum tidak resmi—seperti menulis komentar di Facebook. Bahkan, untuk menulis status pun, saya lebih suka menggunakan bahasa formal. Bukankah bahasa yang kita pergunakan menunjukkan identitas diri kita sendiri? Selain itu, penggunaan bahasa yang formal merupakan upaya untuk turut melestarikan bahasa nasional yang semakin tergerus oleh bahasa pergaulan dan bahasa SMS.

Lalu, benarkah pengunjung blog akan merasa lebih betah pada blog yang memiliki tulisan-tulisan pendek dan bergaya bahasa prokem? Benarkah pula, tulisan yang panjang dan bergaya bahasa formal hanya digunakan pembaca sebagai referensi saja? Memang, tidak ada standar dan aturan yang pasti dalam penulisan blog. Namun, walaupun tulisan pada suatu blog panjang-panjang, pembaca akan tetap betah bukan karena panjang-pendeknya tulisan, tapi karena isi (konten) dari blog yang dikunjunginya.

Sebaliknya, blog dengan tulisan pendek juga tidak akan membuat pembaca betah jika isinya nyampah (asal update), kecuali jika Anda public figure, se-nyampah apapun tulisan Anda, pasti akan ada yang menanggapi. Maka, untuk meningkatkan traffic pengunjung, ada dua hal yang bisa dilakukan : membuat tulisan-tulisan pendek (singkat, padat, jelas) atau membuat tulisan yang mencerahkan, meskipun panjang—tentu dengan meng-update-nya secara berkala. Kadang pula, ramainya suatu blog bukan karena isi tulisannya, tapi lebih kepada melihat siapa yang menulis, terlebih lagi public figure.

Mudah-mudahan saja, tulisan-tulisan yang menurut saya panjang dalam blog saya ini tidak membuat pembaca malas membacanya, lalu kapok mengunjungi blog ini lagi. Tentu saja, sesekali juga saya mem-posting tulisan yang agak ringan, pendek, dan foto sebagai intermezzo. Hal ini untuk membuat variasi tulisan agar tidak membosankan. Sayang juga kan jika ada pemikiran dan pengalaman berharga kita yang tidak menjadi manfaat untuk orang lain. Ya, pada dasarnya, blog ini saya gunakan sebagai media untuk berbagi ilmu, pemikiran, gagasan, dan pengalaman. Happy blogging with your own style

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s