Yang Muda yang Menyejarah

Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati suri, matilah sejarah sebuah bangsa.”—Pramoedya Ananta Toer

Terhadap (sesama) generasi muda, kita tidak bisa mengambil sikap masa bodoh. Generasi muda adalah masalah masa kini dan masa depan. Justru karena kekiniannya itu membentuk ujung tombaknya masa depan, sebagaimana kekiniannya terbentuk dari produk masa lalu. Barangkali inilah yang diformulasikan oleh (Alm) Rendra dalam salah satu syairnya : kemarin adalah hari ini, esok adalah hari ini. Generasi muda bukanlah anak wayang yang harus beraksi menurut kemauan ki dalang. Orang-orang muda bisa menyusun skenarionya sendiri sesuai dengan cita-cita dan idealismenya meskipun bisa mendapat inspirasi dari siapapun.

Pada tingkat pertama, generasi muda harus menuliskan sendiri skenarionya dalam pembentukan pola pikir, intelektualitas, dan kemampuan berpikir kritisnya. Bahkan, perlu dituliskan skenario mengenai pertumbuhan watak dan karakternya. Itulah sebabnya, dalam masyarakat yang maju tersusun secara tepat politik pendidikan dan pengajaran melalui jenjang-jenjang sesuai dengan tingkatan usia mereka. Namun, pada tingkat akhir, generasi muda sendiri yang menyusun skenario dalam sejarah mereka.

Dalam sejarah Islam, kita melihat generasi mudanya seperti Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, Khalid bin Walid, Mushab bin Umair, dll dari kelompok generasi muda pembuat sejarah yang besar. Meskipun mereka memiliki intelegensia dalam politik, ilmu pengetahuan, militer, diplomasi, dan memiliki idealisme yang berkobar-kobar, tetapi mereka tidak merasa perlu membuat skenario baru karena telah menemukannya pada pribadi di lapisan atas mereka (generasi pendahulu), seperti Abu Bakar As-Shidiq, bahkan pada pribadi Nabi Muhammad yang mahsum.

Dalam sejarah yang lain, manakala kita melihat generasi muda seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Ahmad Saddat yang menyusun sendiri skenario perjuangannya karena skenario yang telah disiapkan oleh generasi sebelumnya dipandang tidak lagi dapat dipergunakan untuk menopang seluruh aspirasi mereka. Bahkan, sama sekali tidak bisa digunakan. Generasi sebelumnya hanya bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi; mengambil sisi-sisi positifnya; dan membuang sisi-sisi negatifnya.

Generasi muda menggemari sejarah, hendak belajar dari sejarah, bahkan hendak membuat sejarah. Jika orang-orang muda tidak bangkit cita-citanya untuk membuat sejarah, maka matilah sejarah sebuah bangsa. Disinilah arti penting dari sebuah motto : Kun rojulan rijluhu fi ats-tsara, wa haammat himmatihi fi ats-tsuroya (Meskipun kaki Anda berpijak di bumi mayapada, tapi gantungkan cita-cita Anda di bintang kejora).

Orang-orang muda membaca buku sejarah, membaca huruf-huruf kecil yang berangkai menjadi kalimat-kalimat yang padu. Orang-orang muda merasa berdaulat untuk menyusun sendiri skenario perjuangannya serta pengabdiannya kepada bangsa dan tanah airnya sesuai dengan aspirasi mereka setelah belajar dari sejarah. Berdialog dengan sejarah agar kita mendapatkan sesuatu yang telah dicapai dan yang belum, apa yang sebenarnya diperlukan dan yang tidak, dsb. Sebagai pembuat sejarah, generasi muda mengenggam di tangannya harapan masa depan yang lebih meyakinkan!

One thought on “Yang Muda yang Menyejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s