Menjadi Pembelajar Sejati

Tugas, tanggung jawab, dan panggilan utama bagi setiap manusia adalah belajar menjadi seseorang yang bertanggung jawab hanya untuk menjadi dirinya sendiri dan bukan yang lain. Menolak tanggung jawab untuk menjadi diri sendiri hanya akan membuat seseorang menjadi kerdil secara psiko-spiritual karena telah melecehkan hakikat dan esensi dalam dirinya sendiri. Belajar bertanggung jawab untuk menjadi diri sendiri berarti menjadi pengendali bagi lingkungan dan bersikap proaktif. Dengan demikian, kita tidak terombang-ambing terhadap situasi lingkungan.

Kita memiliki kemampuan untuk mengambil inisiatif, untuk menunjukkan tanggung jawab terhadap setiap gagasan, kata dan tindakan kita, apapun konsekuensi yang ditimbulkannya. Kita memiliki kesadaran diri, suatu kemampuan untuk mengatur nasib sendiri, dan menciptakan masa depan sendiri. Kita adalah ciptaan yang dicipta oleh Sang Pencipta dan dianugrahi daya cipta (karya) untuk mencipta. Kita adalah makhluk yang didorong oleh insting dan intuisi untuk mengejar kesempurnaan sesempurna mungkin dalam menemukan hakikat penciptaan kita.

Berdasarkan potensi-potensi itu, tunduk begitu saja pada lingkungan dan membiarkan diri didikte oleh faktor-faktor yang berada di luar diri kita merupakan penghinaan terhadap hakikat, harkat, dan martabat, serta eksistensi manusia. Kita bukanlah objek yang sepenuhnya dibentuk oleh lingkungan, tapi kita juga merupakan subjek yang ikut membentuk lingkungan. Dengan bersikap proaktif, mengambil sikap positif, belajar mengambil inisiatif, dan bertanggung jawab; pada dasarnya adalah proses menjadi manusia pembelajar itu sendiri.

Manusia adalah makhluk yang bisa merenungkan dirinya sendiri. Setiap orang tidak saja dapat memikirkan—dengan akal—siapa dirinya, tetapi juga dapat merasakan—dengan hati—siapa dirinya itu, dan bahkan dapat mengekspresikan apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Manusia sebagai pelaku sejarah masih bisa berproses maju menuju hakikat diri dan mengekspresikan berbagai kemungkinan yang baru di masa depan. Dan, cermin bagi manusia menjadi penting untuk memberikan umpan balik tentang sesuatu yang tampak, dalam kaitannya dengan sesuatu yang belum tampak, dan bagaimana menyelaraskan kedua hal itu—yang tampak dan yang tidak—agar kita menjadi manusia yang jujur, memiliki integritas, dan benar-benar otentik (be your self).

Belajar menjadi diri sendiri seutuhnya berarti belajar bertanggung jawab kepada diri sendiri dan siap menerima risiko. Menolak untuk bertanggung jawab bukan berarti menghindari risiko, tapi malah mengundang risiko lainnya, yang bahkan lebih buruk. Seorang pembelajar yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri perlu—bahkan harus—belajar mengarang sejarah hidupnya sendiri. Ia perlu membangun dan mengembangkan karakter dan memahat jiwanya agar memiliki bentuk; dalam arti memiliki kejujuran, integritas, ketekunan, dan kekonsistenan.

Di awal proses tersebut, manusia sebagai pembelajar memang merasa “terpaksa”, paling tidak untuk sementara waktu. Namun, semua itu bersifat sementara. Ia harus bertumbuh menjadi semakin dewasa, semakin mandiri, semakin berdaya, semakin merdeka, dan semakin dekat dengan hakikat keberadaan dirinya yang ia rumuskan sendiri. Seorang pembelajar sejati, yang belajar menjadi dirinya sendiri, harus menumbuh-kembangkan keberanian dalam arti menerima perbedaan sebagai suatu kenyataan yang wajar dan manusiawi yang patut disyukuri.

Seorang pembelajar sejati pun perlu belajar untuk berani bertindak sesuai dengan suara hati nuraninya. Ia perlu belajar untuk berani menyatakan kebenaran sebagai kebenaran dan kesalahan sebagai suatu kesalahan. Ia perlu belajar untuk berani menerima diri apa adanya, menghargai dirinya, memercayai dirinya, dan mengarahkan dirinya sendiri untuk menjadi dirinya yang sebenarnya. Dengan kata lain, ia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri ditandai dengan kesadaran untuk belajar mengatasi ketidakmampuan belajar.

Ketidakmampuan belajar pada diri seseorang disebabkan oleh ketertutupan pikiran, kebabalan nurani, dan perasaan merasa diri paling benar (sombong). Dalam konteks kepemimpinan, ketidakmampuan belajar merupakan akar dari runtuhnya suatu organisasi, perusahaan, hukum, dan pemerintahan. Tanpa upaya yang serius untuk mengatasi ketidakmampuan belajar, maka sebuah organisasi mustahil bertransformasi menjadi organisasi pembelajar dan masyarakat pun tak kunjung berkembang menjadi masyarakat pembelajar.

Pembelajaran sebenarnya mendapatkan inti artinya untuk menjadi sangat manusiawi (humanis). Melalui pembelajaran, kita menciptakan kembali diri kita dan dapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dapat kita lakukan sebelumnya. Melalui pembelajaran, kita dapat memperluas kapasitas kita untuk menciptakan dan menjadi bagian dari proses pembentukan kehidupan. Dengan begitu, semangat mental pembelajar akan memperluas lingkar pengaruh seseorang dari tingkat personal menjadi tingkat kelompok hingga berkembang ke tingkat masyarakat. Ia tidak sekedar menjadi merdeka dan berdaulat untuk dirinya sendiri, tapi ia juga belajar memerdekakan dan memberdayakan orang lain untuk menjadi lebih manusiawi.

Demikianlah, tugas dan panggilan bagi setiap manusia untuk belajar menjadi seseorang yang bertanggung jawab hanya untuk menjadi dirinya sendiri dan bukan yang lain. Itulah jalan menuju kedewasaan. Itulah jalan menuju kemandirian. Itulah jalan menuju pemberdayaan dan kedaulatan diri. Itulah jalan menuju dan menjadi diri sendiri yang sejati. Itulah jalan menuju kepemimpinan sejati. Menjadi diri sendiri adalah jalan untuk membebaskan belenggu dan penjajahan pada diri sendiri. Itu pula jalan sepi yang memerlukan kedisiplinan untuk menunda kenikmatan; untuk menerima tanggung jawab; untuk mengabdi pada kebenaran; dan untuk keseimbangan hidup.

2 thoughts on “Menjadi Pembelajar Sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s