Pembelajaran di Era Internet (Digital Learnership)

Kita sekarang berada dalam era milenium ketiga yang juga sering disebut sebagai era internet. Beberapa nama yang membuat kita sekarang dapat memiliki sebuah dunia yang dilipat di atas meja kerja atau meja rumah kita adalah Steve Wozniak dan Steve Jobs—pendiri PC dan pendiri Apple tahun 70-an; Paul Allen dan Bill Gates—pendiri Microsoft; serta Andrew Grove—yang mentransformasikan Intel Corporation, sehingga masyarakat umum lebih mengenalnya dengan istilah Intel Inside.

Dari segi aktivitas penggunaannya, internet paling banyak dipergunakan—diantaranya—untuk : (1) surat-menyurat (email); (2) mendapatkan informasi dan berita; (3) sekedar mencari kesenangan; (4) mencari informasi tentang sebuah hobi tertentu; dan (5) mencari data terkait dengan penelitian yang dilakukan. Dengan kemudahan ini, orang-orang tidak perlu beranjak dari meja karena komputer atau notebook telah menghadirkan sebuah dunia yang dilipat itu, orang bisa mengetahui begitu banyak hal dari sumber-sumber yang dekat maupun yang jauh dalam arti geografis dan jarak waktu tempuhnya.

Berdasarkan data di atas, sedikitnya saya dapat menyimpulkan bahwa : Pertama, pengguna internet menjalankan berbagai aktivitas mereka dengan menggunakan teknologi komunikasi informasi berupa jaringan internet. Dalam hal ini, pengguna internet sedang melakukan prinsip belajar melakukan. Kedua, pengguna internet menggunakan fasilitas internet untuk mencari, mengirimkan, dan menerima berbagai bentuk informasi. Dengan demikian, pengguna internet melakukan prinsip belajar tentang yang memperluas pengetahuan mereka. Ketiga, dengan prinsip belajar tentang dan belajar melakukan, dapat dipastikan bahwa internet akan mengubah sikap dan keterampilan hidup semua penggunanya

Dengan adanya internet, akan membuka peluang masyarakat untuk menjadi pintar—dengan prinsip belajar tentang—dan terampil—dengan prinsip belajar melakukan. Namun, itu tidak otomatis mengembangkan proses belajar menjadi yang merupakan inti proses pembelajaran. Oleh karena itu, dengan internet, manusia tidak dapat melakukan proses pembelajaran dan pendidikan sepenuhnya, karena tidak dapat menggiring potensi yang berada dalam dirinya ke luar (proses inside-out). Internet hanya akan menjadi alat yang sangat penting untuk transfer informasi, yaitu proses menggiring ke dalam (proses outside-in) segala informasi dari luar.

Oleh karena itu pula, internet tidak dengan sendirinya dapat membentuk watak atau kepribadian seseorang. Internet tidak dengan sendirinya membuat orang menjadi lebih arif dan bijaksana (sikap—attitude), tetapi akan dapat membuat banyak orang lebih pintar (pengetahuan—knowledge) dan lebih terampil (skill) dalam melakukan sesuatu.

Namun, dalam soal pembentukan karakter, pencarian jati diri, dan proses belajar menjadi (learning to be); internet tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Internet tidak akan mampu menggeser ataupun membentuk paradigma karena tidak bisa menjangkau hati nurani, esensi, dan eksistensi jiwa manusia pengguna internet itu sendiri. Prinsip-prinsip pembelajaran mengajarkan bahwa proses pembelajaran yang baik hanya dapat dilakukan dengan melibatkan diri, mengaktualisasikan diri, dan menggali potensi diri melalui proses informal di masyarakat dan dalam kehidupan nyata, bukan dalam dunia maya (internet).

Internet menjanjikan berbagai jalan pintas untuk menguasai informasi dan pengetahuan, tetapi tidak menjanjikan bahwa seseorang akan menjadi lebih baik dalam arti lebih manusiawi dan berkarakter. Memang justru karena itu, manusia di era milenium ketiga akan tergila-gila dengan internet dan teknologi berikutnya, sebab ternyata manusia memang hanya suka mengubah apa yang tampak di luar, tetapi tidak mengubah apa yang ada dalam dirinya yang justru lebih hakiki.

Memang, internet sangat membantu dalam proses transfer informasi. Namun, penggunaan internet secera tidak sadar akan mereduksi sisi-sisi kemanusiaan (humanisme) pada proses pembelajaran. Maka, pada hakikatnya dari segi pembelajaran, dampak internet adalah menggugah kembali kesadaran bahwa pendidikan atau pembelajaran merupakan tanggung jawab bersama antara masing-masing individu dan masyarakat luas dalam kehidupan nyata—real life bukan virtual life—yang sebagian komponen itu adalah lembaga-lembaga bernama sekolah, universitas, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya—baik formal maupun informal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s