Selamanya Tentang Sepakbola

Akhir-akhir ini, baik dari pemberitaan di media maupun dari pembicaraan orang-orang tidak jauh dari urusan sepakbola. Piala Dunia 2010 telah lewat kurang lebih 6 bulan silam, meskipun Indonesia tidak (belum) ambil bagian dalam perhelatan akbar tersebut. Kini, saatnya timnas Indonesia yang menjadi bahan pembicaraan. Melaju ke babak final merupakan suatu prestasi luar biasa yang menjadi angin segar bagi citra persepakbolaan Indonesia, terlebih lagi PSSI. Apalagi, pertandingan ini berada dalam lingkup Asia.

Saya sendiri bukanlah pengamat sepakbola. Saya pun tidak pernah menyengajakan untuk menonton pertandingan sepakbola, kecuali hanya perhelatan besar saja, seperti Piala Dunia dan yang menyangkut tim nasional Indonesia. Maka, saya bukanlah orang yang tepat untuk bisa menjawab pertanyaan Anda seputar sepakbola, terlebih lagi tentang persepakbolaan dalam negeri. Saya juga bukan penggemar fanatik dari suatu klub sepakbola. Namun, untuk urusan bermain sepakbola di lapangan, itu lain soal, saya sangat antusias.

Sejatinya, sepakbola tidak sekedar sebagai permainan. Sepakbola bisa melampaui dirinya sebagai sebuah pertarungan. Sepakbola telah memungkinkan berbagai entitas di luar lapangan, masuk ke tengah lapangan untuk memainkan simbol-simbol dan merayakan kode-kode yang menampilkan pesan. Lapangan hijau tak lagi dapat dianggap hanya sebagai hamparan rumput yang menopang selebrasi pemain bintang. Sepakbola telah menerabas batas-batas yang menjadi patokan sebagai permainan, melampaui makna sebagai permainan strategi.

Sepakbola memang tak hanya sekedar permainan, ia bermetamorfosis menjadi politik bisinis dan bisnis politik. Kepentingan kuasa merasuk di lapangan hijau hingga membuat kejutan-kejutan politik dengan berbagai permainan wacana dan manuver politik. Sepakbola hadir dengan niatan menciptakan kompetisi, prestasi, dan harga diri. Namun, politik telah menjelma menjadi bingkai olahraga yang terus memicu tensi tinggi pertarungan kepentingan. Agaknya, urusan politik ini menjadi sangat sensitif karena menyangkut kepentingan suatu golongan atau partai.

Sepakbola juga merupakan gelanggang kemanusiaan yang dipentaskan secara popular. Sepakbola hari ini bukan lagi sekedar olahraga untuk mencari keringat semata, tapi juga ada hal yang lebih dari itu : nasionalisme, gengsi, bisnis, fanatisme golongan, hingga ranah politik. Disadari atau tidak, mencuatnya timnas Indonesia yang melaju ke babak final Piala AFF 2010 telah menumbuhkan semangat nasionalisme bagi semua kalangan. Mulai dari kalangan tukang becak, pedagang kaki lima, mahasiswa, pegawai kantoran, hingga—tentu saja—kalangan pejabat negeri ini. Bahkan, orang yang tidak menyukai sepakbola pun dipaksa untuk ikut merasakan euphoria-nya dan turut terbakar semangat nasionalismenya.

Memang, bisa dikatakan sepakbola adalah olahraga semua kalangan. Tidak melihat jabatan dan pangkat. Ketika timnas mencetak gol, hampir bisa dipastikan tidak ada yang malu-malu mengekspresikan dirinya. Maka, sepakbola juga bisa menjadi pentas olahraga pemersatu bangsa. Tidak melihat asal supporter, tidak melihat golongan, semua mendukung satu tim, semua satu suara dalam dukungan, yaitu mendukung tim nasional Indonesia.

Azyumardi Azra, salah seorang intelektual muslim pernah menulis pada momentum Piala Dunia 2006 lalu tentang indikasi sepakbola telah menjadi “agama” baru. Dalam tulisan beliau, sepakbola memiliki umat, yaitu para fans yang selalu setia dan “siap mati” untuk membela tim kesayangannya. Sepakbola pun memiliki ulama, yaitu wasit sebagai penjaga otoritas religiusitas pertandingan. Intinya, dalam sepakbola semua ada. Namun, sayangnya ada golongan-golongan atau supporter yang tidak cerdas dalam menyikapi kekalahan tim kesayangannya. Mereka menumpahkan kekesalannya dengan aksi vandalisme dan anarkisme yang tidak relevan dengan semangat olahraga pada umumnya, yaitu semangat sportivitas.

Pada hakikatnya, olahraga tidak hanya sekedar membentuk fisik yang sehat dan prima, tapi juga membentuk mentalitas yang tangguh dan jiwa sportivitas. Maka, jika ada olahraga yang tidak menghasilkan mental yang tangguh dan jiwa sportivitas, perlu dipertanyakan kembali hakikat dari olahraga itu sendiri. Jangan-jangan hanya membentuk fisiknya saja, tidak sesuai dengan pepatah latin : mensana in corpore sano (di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat). Kita harus mengakui secara sportif bahwa Indonesia kalah pada putaran pertama babak final—meskipun kecewa, tapi ada satu hal yang tidak boleh hilang dari setiap elemen bangsa : harapan! Bukankah masih ada waktu 90 menit lagi bagi Indonesia untuk menukik Malaysia pada putaran kedua nanti di Jakarta? Selama masih ada harapan, impian itu tidak akan pernah mati. Betul? Betul? Betul?

3 thoughts on “Selamanya Tentang Sepakbola

  1. Asop

    Sepakbola bisa dihubungkan dengan politik lho. Buktinya di negeri ini.😀
    PSSI dibantu banget ama Pak Ical, mantan menkokesra kita, yang katanya mau membangun pusat pelatihan sepakbola terbesar di Indonesia.
    Katanya sih, Pak Ical mau maju jadi presiden di pemilu selanjutnya. Dan kata orang, kalo mau mencari massa, yang mudah itu di PSSI.:mrgreen:
    Bahaya, PSSI dipolitisasi.

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Hahaha.. iya sop. Ada2 saja dunia politik kita, selalu bermain cantik
      Semua bisa jd kendaraan politik.:mrgreen:
      Dan yg lbh mengkhawatirkan lagi, masyarakat kita kadung sensitif begitu mendengar politisasi.. hihi…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s