Masih Tentang Sepakbola (Timnas)

Semalam, tim nasional Indonesia kembali harus menerima sebuah kenyataan yang berulang dalam sejarah Piala AFF Suzuki. Ini adalah kali keempat Indonesia belum berhasil meraih Piala AFF Suzuki pada laga final. Hal yang sama juga pernah terjadi pada tahun 2000, 2002, 2004, dan 2010. Indonesia hanya mampu menempati urutan kedua (runner up) setelah berhasil melaju ke babak final. Namun, kita tetap harus berbangga karena persepakbolaan kita tengah mengalami perkembangan—terlepas dari kontroversi PSSI, meskipun belum pernah menjuarai Piala AFF Suzuki.

Putaran final Piala AFF malam tadi sangat menyedot perhatian mayoritas masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, pertandingan final semalam bukan hanya sekedar urusan memenangkan pertandingan, tapi juga urusan titik tolak kebangkitan persepakbolaan Indonesia. Jujur saja, saya yang menonton di rumah pun merasa tegang dan berkali-kali harus menghela nafas panjang ketika timnas Indonesia gagal memanfaatkan peluang gol, terlebih lagi ketika kapten timnas Firman Utina gagal mengeksekusi tendangan penalti.

Namun, meski belum memenangkan Piala AFF, agaknya kita perlu mengacungkan jempol bagi para pemain dan elemen pendukung timnas. Tentunya kita melihat sendiri, timnas Indonesia telah berjuang habis-habisan dan totalitas dengan posisinya masing-masing. Namun, seringkali kemenangan itu urusan keberuntungan dan keberuntungan itu harus kita perbesar peluangnya dengan berusaha keras dan berdoa. Kekalahan timnas bukan berarti tanpa usaha dan doa, tentu seluruh masyarakat Indonesia mendukung dan mendoakan, tapi ada sisi lain yang patut kita jadikan pelajaran dari kekalahan ini.

Seringkali orang menyebut kekalahan sebagai kemenangan yang tertunda. Akan tetapi, pernyataan ini secara tidak sadar sebenarnya telah menjadi pledoi (pembenaran) dari setiap kekalahan-kekalahan. Harusnya, kekalahan adalah kebodohan yang dipelihara. Bukan bermaksud menghina siapapun. Namun, dengan semangat ini, kita bisa lebih meningkatkan kualitas diri dan prestasi sehingga tidak mencari kambing hitam di setiap kekalahan.

Berbicara mengenai kambing hitam, agaknya kita masih perlu belajar untuk tidak melulu menyalahkan orang atau pihak lain. Olahraga mengajarkan kita untuk bisa bersikap sportif, tentunya dalam menerima kekalahan. Kita harus mengakui secara sportif bahwa Indonesia memang kalah pada putaran pertama Final di Bukit Jalil, Malaysia. Menyalahkan laser, petasan, dan manajemen PSSI bukanlah tindakan yang solutif jika tanpa diiringi dengan solusi yang konstruktif. Supporter harus menunjukkan sikap yang cerdas dan sportif dalam menyikapi kekalahan, bukan malah diekspresikan dengan tindakan yang tidak terpelajar.

Selain itu, para penonton hanya bisa berkomentar terhadap aksi pemain di lapangan. Hal ini yang membuat saya agak risih ketika mendengar komentar-komentar yang tidak cerdas dan sedikit mengumpat. Memaki keadaan, mengumpat waktu, dan menyalahkan posisi : “Coba kalau… seandainya… dsb”. Padahal, setiap celetukan komentar itu akan dipertanggungjawabkan. Maka, mengingatkan diri saya sendiri juga, menonton sepakbola bisa menjadi sarang dosa karena lisan kita yang tidak terjaga saat berkomentar terhadap aksi pemain. Coba kita yang menjadi pemainnya, belum tentu bisa seperti apa yang kita komentari.

Kita semua telah melihat bahwa timnas telah menunjukkan usaha dan penampilan terbaiknya di Stadion Utama Gelora Bung Karno tadi malam. Firman Utina, Muhammad Nasuha, Muhammad Ridwan dkk telah menunjukan performansi terbaiknya. Gonzales, Irfan Bachdim, dan Bepe pun telah berjibaku untuk menjebol gawang Malaysia. Alfred Riedl pun harus memutar otak memeras keringat untuk membawa tim nasional Indonesia sampai melaju ke babak Final. Namun, sekali lagi, kemenangan itu urusan keberuntungan dan keberuntungan itu harus kita perbesar peluangnya dengan berusaha keras dan berdoa.

Kita akui bahwa Indonesia kalah. Seandainya kekalahan ini membuat kita tetap bersatu dan bersikap sportif, itu jauh lebih baik daripada kita menang kemudian bercerai-berai dan banyak yang mengaku-ngaku paling berjasa dalam kemenangan timnas—apalagi kemudian dipolitisasi. Kekalahan atau kemenangan itu hanyalah urusan hasil akhir, seringkali kita melupakan bahwa proses menuju hasil akhir itulah yang lebih bernilai. Tugas kita hanyalah berusaha, berdoa, lalu tawakal. Dalam prosesnya itu, apakah kita tetap berjiwa ksatria ataukah mencari jalan pintas? Kita yakin timnas Indonesia telah berjuang dan melawan dengan sebaik-sebaiknya dan sehormat-hormatnya. Dengan begitu, secara mental kita menang, meskipun tidak juara!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s