Jelajah Bandung (3) : Arsitektural Gedung Sate

Salahsatu landmark kota Bandung sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat adalah Gedung Sate, yang menjadi gedung kantor Gubernur Jawa Barat. Namun, masyarakat lebih akrab dengan nama Gedung Sate. Selama ini, saya hanya bisa melihat kemegahan Gedung Sate dari luar. Merasa penasaran, maka terbersit dalam benak saya untuk bisa menjelajahi Gedung Sate ini. Selain ingin mengetahui lebih dalam “isi” dan sejarah dari Gedung Sate ini, agaknya saya pun perlu belajar tentang bagaimana situasi kerja dalam lingkup pemerintahan, dalam hal ini Pemda Jawa Barat.

Mungkin kita akan merasa sungkan jika masuk ke dalam komplek pemerintahan. Saya pun merasa demikian. Ketika awal-awal memasukkan surat izin kunjungan, saya pun agak sungkan dan canggung. Namun, ternyata perasaan saya tersebut sebenarnya tidak beralasan. Kalangan dari Pemda Jawa Barat begitu terbuka dan ramah kepada masyarakat. Memang seyogianya begitulah pemerintah karena pemerintah adalah pelayan masyarakat. Bukan begitu?

Baiklah, saya tidak ingin “studi banding” yang saya lakukan ini hanya bisa dinikmati oleh saya sendiri saja. Sedapat mungkin, saya pun ingin berbagi mengenai apa saja yang saya dapat dan pelajari dari kunjungan saya ke Gedung Sate ini. Tepat di awal tahun ini, Sabtu kemarin, saya mengajak serta Ghani untuk berkunjung ke Gedung Sate. Maklum, suasana kantor sedang libur sehingga membuat kami lebih leluasa. Selain itu, kami juga dipandu oleh Pak Dadan sebagai “guide” yang merangkap sebagai keamanan, atau kemanan yang merangkap sebagai “guide”? Sudahlah, saya akan mulai bercerita saja.

Gedung Sate ini dibangun menurut rancangan Ir. J. Berger. Pada mulanya, Gubernur Jendral Pemerintah Hindia Belanda sedang menyiapkan pusat pemerintahan di Bandung dan merancang sebuah gedung dengan nama Gouvernment Bedrijven dan kemudian disebut Gedung Sate. Nama populer tersebut digunakan untuk menyebut ornamen tusuk sate yang terdiri dari enam potongan yang melambangkan tentang biaya awal pembangunan sebesar enam juta Gulden. Pelaksana pembangunannya adalah Johanna Catherina Coops dan Patronella Roelreesen. Sedangkan perusahaan yang melaksanakan pembangunannya adalah Waterkrecher Electrocillet. Pembangunannya dimulai pada tanggal 20 Juli 1920 hingga tahun 1924.

Pada masa kemerdekaan, Gedung Sate ini diambil alih dari kekuasaan Jepang dan dipergunakan sebagai kantor Departemen Pekerjaan Umum. Pada tanggal 3 Desember 1945, dua puluh satu pemuda dari Departemen ini berjuang mempertahankan gedung ini dari serbuan tentara sekutu. Tujuh orang pemuda gugur dalam pertempuran ini. Maka, dibangunlah sebuah tugu di halaman depan Gedung Sate untuk mengenang jasa-jasa mereka.

Gaya arsitektur Gedung Sate merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Moor (Spanyol) dan Siam (Thailand) dengan elemen gerbang, pintu, dan atap yang merupakan perpaduan antara kebudayaan Indonesia dan Thailand. Jika Anda masuk melalui pintu depan (utama), Anda akan “disambut” langsung oleh Gubernur dan Wakil Gubernur, tapi hanya dalam bentuk foto pada pigura besar. Lalu, Anda akan melihat ikon Jawa Barat berupa alat musik tradisional.

Jika sudah berada di dalam Gedung Sate, Anda akan sedikit heran karena interiornya tidak begitu luas, tidak seperti yang terlihat dari luar. Inilah gaya arsitektural peninggalan Belanda yang membangun gedung dengan kolom-kolom (fondasi) yang besar, sehingga akan membuat gedung terlihat megah dari luar. Gedung Sate ini terdiri dari lantai basement, 2 lantai utama, dan 1 lantai menara. Di  lantai basement terdapat ruangan-ruangan untuk para staf, perpustakaan, dan taman penitipan anak. Di lantai 1 terdapat aula dan beberapa ruangan untuk para pejabat. Sedangkan lantai 2 ditempati oleh ruangan Gubernur, Wakil Gubernur, dan Sekretaris Daerah, serta beberapa staf ahli.

Naik lagi menuju lantai menara, di lantai ini terdapat Ruang Pamer Gedung Sate yang merupakan wujud perhatian mantan Gubernur Pemerintah Daerah Jawa Barat, Bapak R. Nuriana, atas pelestarian bangunan bersejarah. Di Indonesia, perhatian terhadap pelestarian gedung bersejarah bisa dikatakan relatif masih langka. Langkah pembangunan Ruang Pamer Gedung Sate adalah salahsatu langkah penting untuk pelestarian dan pengembangan Gedung Sate sebagai gedung bersejarah yang sekaligus menjadi gedung Pusat Pemerintahan Daerah jawa Barat.

Ruang Pamer ini secara optimal dikembangkan dari ruang Menara Gedung Sate yang tidak terlalu besar dengan tidak mengubah struktur aslinya. Penataan interiornya mendukung fungsi ganda : sebagai ruang peragaan yang sekaligus bisa menjadi ruang pertemuan. Pada dasarnya, Ruang Pamer Gedung Sate berisi informasi sekilas tentang potret pembangunan Jawa Barat dan dokumentasi sejarah Gedung Sate.

Hirarki informasi dalam ruang pamer disusun menurut arah putaran jarum jam dengan tema : (1) Kekayaan alam dan budaya; (2) Kualitas Masyarakat Jawa Barat; (3) Sarana dan Prasarana; (4) Pertambangan; (5) Agrobisnis; (6) Industri Besar; (7) Kerajinan dan Industri Kecil; (8) Pariwisata; (9) Tentang Gedung Sate. Sedangkan informasi yang ditampilkan tersendiri adalah lima pilar pemberdayaan masyarakat Jawa Barat.

Dari ruang pamer ini, kami—saya dan Ghani—lalu naik menuju lantai tertinggi di Gedung Sate, yaitu lantai menara. Jika dianalogikan dengan gedung perkantoran pada umumnya, lantai menara ini berada pada lantai lima—seperti yang dituturkan oleh pemandu. Dari lantai menara ini, saya bisa melihat 8 arah mata angin dan wilayah Bandung yang “dikepung” oleh gunung-gunung (Bandung dilingkung ku gunung, heurin ku tangtung). Mulai dari Gunung Tangkuban Parahu dan Gunung Palasari di wilayah utara dan sekitarnya, hingga Gunung Malabar di wilayah selatan.

Lantai menara ini menjadi semacam tempat sarasehan untuk tamu-tamu dan pejabat penting, kadang juga menjadi tempat istirahat makan siang. Mungkin juga menjadi tempat hiburan karena saya melihat ada panggung kecil dan seperangkat alat sound system. Selain itu, di menara ini juga terdapat teropong jarak jauh yang saya gunakan untuk mengintip Bandung secara lebih detail. Terlebih lagi, jika Anda melihat keramaian kota Bandung pada hari Minggu pagi, Anda akan disuguhi oleh hiruk-pikuknya manusia di lapangan Gasibu.

Mencapai puncak menara menjadi tujuan akhir kami. Setelah dirasa cukup, kami turun dan mengakhiri kunjungan ke Gedung Sate siang itu. Kunjungan jelajah Bandung arsitektural ini membuat saya merasa perlu belajar lebih banyak lagi tentang sejarah kota Bandung itu sendiri. Tidak cukup hanya mempelajari sejarah dari literatur, agaknya saya harus lebih banyak lagi menjelajah untuk menangkap pelajaran dan pengalaman yang tidak tercantum dalam buku ataupun studi literatur. Oleh karena itu, mari menjelajah (lagi)!

4 thoughts on “Jelajah Bandung (3) : Arsitektural Gedung Sate

  1. Ghani

    Mantap Jal! Artikel ini saya share ya! ntar tapi…
    Next destination mana nih?
    Saya belum pernah ke Gedung Indonesia Menggugat euy…

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Sok we mangga.. Next Destination? Urang hayang Gedung KAA. Bolehlah Indonesia Menggugat, urng ga can, emang aya naon diditu? Eh, gan. Sigana tiket KA nu 10rb kudu dimangpaatkeun, urang ka Istana Merdeka, Monas, Istiqlal.. hehe.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s