Mengembangkan Tradisi Ilmiah Mahasiswa

Fungsi, peran, dan posisi mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change), penjaga nilai (guardian of value), dan cadangan pengetahuan (iron stock) telah menobatkan dirinya tidak hanya sebagai insan akademis saja, tetapi juga sebagai insan sosial. Jika kita sadar akan posisi kita sebagai seorang mahasiswa, maka kita pun akan dihadapkan pada konsekuensi logis yang nantinya akan menjadi arah bagi kita dalam berbuat sesuai dengan kapasitas sebagai seorang mahasiswa.

Sebagai mahasiswa, kita senantiasa dihadapkan pada dua dimensi tanggungjawab yang harus saling mendukung dan tidak boleh timpang serta merupakan parameter dalam menilai eksistensi seorang mahasiswa. Di satu sisi, mahasiswa dihadapkan pada kewajiban akademiknya, yaitu kuliah dan menekuni bidang keilmuan yang dipilihnya. Di sisi lain, seorang mahasiswa dalam dimensi sosialnya dihadapkan pada realita yang penuh dengan permasalahan dan sangat jauh dari mimpi-mimpi yang selama ini mengisi otaknya.

Perguruan Tinggi, sebagai lembaga pendidikan, merupakan salahsatu kawah candradimuka bagi generasi masa depan bangsa. Dalam hal ini, dunia kampus memiliki sangkut paut dengan dua hal, yaitu dunia perkuliahan (akademis) dengan segala aturan kelembagaannya dan dunia kemahasiswaan (sosial) sebagai arena alternatif dalam pencarian ilmu dan pembentukan citra diri seorang mahasiswa.

Perguruan Tinggi merupakan bagian dari aktivitas mahasiswa yang memiliki landasan gerak seperti yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Hal ini semakin meneguhkan kedudukan mahasiswa sebagai insan akademis dan insan sosial. Untuk semakin meneguhkan kedudukan tersebut, diperlukan suatu tradisi ilmiah yang mengakar kuat di lingkungan akademis, dalam hal ini Perguruan Tinggi.

Sebagai insan akademis dan insan sosial, tentu mahasiswa memiliki komunitas. Mahasiswa yang berkecimpung dalam sebuah komunitas dengan tradisi ilmiah yang kokoh akan merasakan kemandirian, aktualisasi diri, dan kebebasan berpikir. Namun, mereka juga tetap bisa menikmati heterogenitas (keberagaman), tantangan, dan menikmati segala hal yang baru. Mereka telah menelusuri segala jenis kerumitan; sabar dalam ketidakpastian kondisi; melatih kejernihan berpikir; dan percaya diri dalam mengambil keputusan.

Namun, dari mana tradisi ilmiah ini terbentuk? Menurut Anis Matta, tradisi ilmiah bukanlah sekedar kebiasaan-kebiasaan ilmiah yang baik, tapi lebih dari itu, tradisi ilmiah merupakan standar mutu yang menjelaskan kepada kita letak peradaban dari suatu bangsa atau komunitas itu berada. Tradisi ilmiah bukanlah merupakan gambaran dari suatu kondisi yang permanen, tapi lebih mengacu kepada suatu proses yang dinamis dan berkembang secara berkesinambungan.

Tradisi ilmiah mengakar kepada cara pandang mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan; tentang fungsi dan perannya dalam membentuk kehidupan; tentang sejauh mana mahasiswa mengikuti kaidah-kaidahnya; dan tentang seberapa besar usaha kita, sebagai mahasiswa,  untuk memperolehnya. Selanjutnya, tradisi ilmiah dibentuk oleh susunan pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang terserap secara salah akan menjadi racun informasi dan kemudian menjadi landasan berpikir yang salah. Ilmu pengetahuan yang terserap secara salah tidak akan saling berhubungan (berkorelasi) secara benar dan sistematis antara satu dan yang lainnya. Pengetahuan yang didapat bersifat tidak komprehensif dan tidak utuh.

Setiap mahasiswa hendaknya menggabungkan antara pengetahuan yang komprehensif, bersifat lintas disiplin, dan generalis dengan penguasaan yang tuntas terhadap satu bidang ilmu sebagai spesialisasinya. Hal ini ditujukan agar mahasiswa memiliki dua acuan, yaitu keluasan wawasan dan kedalaman pemahaman. Keluasan wawasan sebagai wawasan makro dan kedalaman pemahaman sebagai wawasan mikro. Hal pertama memberi pengaruh integralitas, sedangkan hal kedua memberi pengaruh ketepatan (akurasi). Dengan begitu, mahasiswa senantiasa memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam; integral dan tepat; serta berbobot.

Tradisi ilmiah ini dibentuk melalui sistematika dan metode pembelajaran yang benar. Tradisi ilmiah ini sebaiknya dikembangkan semenjak kita masih muda dan memperluas wawasan akan lebih efektif ketika otak kita masih segar. Salahsatu cara yang paling mudah adalah dengan memperbanyak membaca buku agar wawasan kita semakin bertambah. Memang, waktu kita tidak cukup untuk menguasai banyak ilmu sekaligus. Waktu kita pun terbatas untuk membaca semua literatur. Mungkin, tubuh kita pun memiliki “daya tahan” yang terbatas.

Nah, yang perlu diperhatikan saat ini adalah bagaimana memilih buku yang tepat untuk dibaca. Ada banyak buku yang tersedia di berbagai media internet dan toko buku, tetapi tidak mungkin kita membaca semuanya. Setiap bulan, bahkan setiap hari, selalu ada saja buku terbitan terbaru dengan judul yang variatif. Kita harus sangat selektif dalam memilih buku bacaan kita. Sudah saatnya kita tidak lagi membaca buku yang kita inginkan, tapi bacalah buku yang memang seharusnya kita baca. Selain itu, mahasiswa sebagai kaum terpelajar harus selalu mengembangkan kemampuannya dalam menulis—selain kemampuan komunikasi. Pada saatnya nanti, mahasiswa harus bisa mempublikasikan karya ilmiahnya dalam bentuk tulisan.

Dengan begitu, kita tetap dapat menerima asupan informasi dan pengetahuan sesuai dengan kebutuhan kita serta dapat menyebarluaskan pengetahuan yang dimiliki dalam bentuk tulisan (web, jurnal, makalah, paper, dsb). Kita juga memerlukan pembimbing, dosen, guru, mentor, ulama, dsb yang mengetahui sistematika dan metode pembelajaran yang benar agar kita tetap dapat menyerap banyak ilmu.

Sebagai mahasiswa yang memiliki tanggung jawab insan akademis, seyogianya kita mengembangkan tradisi ilmiah di lingkungan kampus. Mahasiswa harus menjadikan penejelajahan ilmu sebagai upaya untuk meluaskan cakrawala berpikirnya, menjadikan kampus sebagai dermaga ilmu, perpustakaan sebagai lautan dengan buku-buku dan karya ilmiah sebagai terumbu karang yang demikian menawan serta menarik untuk diamati. Mahasiswa juga harus memberi bobot yang lebih besar pada bidang keilmuwan tertentu, seperti agama untuk membangun moral spiritual; sejarah untuk membangun wawasan kepribadian bangsa; bahasa sebagai alat penjelajahan ilmu dan komunikasi—lisan dan tulisan; dan matematika untuk membentuk struktur berpikir/logika.

Mahasiswa sebagai insan akademis dan insan sosial yang berbasis kultur akademik di dalam kehidupan kampus harus tetap mampu menjaga imunitas idealismenya dan tetap mampu menjadi ujung tombak (avant garde) ketika menyikapi problematika bangsa. Mahasiswa diharapkan tetap mampu menyikapi problematika bangsa dengan gagasan berbasis intelektualitas yang dibangun oleh pembiasaan mengembangkan tradisi ilmiah di kampus. Tradisi ilmiah ini tidak hanya merupakan proses pembelajaran individu saja, tapi lebih dari itu, tradisi ilmiah akan menggambarkan kualitas peradaban dari suatu kelompok, perguruan tinggi, dan bangsa.

One thought on “Mengembangkan Tradisi Ilmiah Mahasiswa

  1. Pingback: Menulis Karya Ilmiah untuk Kalangan Mahasiswa « Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s