Melancong ke Jakarta

Semenjak hari Jumat malam (7/1/2011), saya sekeluarga berangkat ke Jakarta untuk menghadiri undangan pernikahan anaknya adik Bapak saya (sepupu?) di daerah Cibubur. Pada tulisan ini, saya tidak akan bercerita mengenai acara tersebut karena toh memang tidak perlu diceritakan. Namun, saya ingin berbagi sedikit pengalaman dalam perjalanan, khususnya perjalanan wisata. Rasanya ada yang kurang jika tidak melengkapi perjalanan dengan agenda wisata. Dan, berwisata pun agaknya masih kurang lengkap jika kemudian tidak membuat semacam “laporan” perjalanan.

Setelah melewati satu hari satu malam penuh berkumpul dengan keluarga dari pihak Bapak saya, kami kemudian memanfaatkan hari terakhir kami di Jakarta untuk berkeliling kota. Awalnya, kami berencana untuk mengunjungi TMII lalu menuju ke pusat kota, tapi waktu kami terbatas. Maka, kami putuskan untuk berkeliling di Jakarta Pusat saja. Daerah wisata Kota Tua menjadi objek kami. Daerah Kota Tua Jakarta ini menjadi objek yang menarik, khususnya bagi penggemar fotografi yang menggemari objek-objek tak bergerak. Selain itu, daerah wisata Kota Tua bisa menjadi alternatif objek wisata pendidikan karena terdapat berbagai museum, seperti Museum Fatahillah, Museum Bank Mandiri, Museum Seni Keramik, Museum Wayang, dan Museum Kantor Pos. Selain bangunan bersejarah, di area Kota Tua pun terdapat rental sepeda onthel. Hanya dengan membayar 20.000 rupiah per jam, Anda bisa berkeliling Kota Tua dan sekitarnya serta bisa dijadikan objek foto.

Kami hanya memasuki museum Fatahillah saja. Museum Fatahillah ini becerita tentang sejarah kota Jakarta dari masa ke masa——mulai dari Jayakarta, Batavia, hingga Jakarta kini——dan sebagian sejarah Indonesia. Tiket masuknya pun terbilang sangat terjangkau, hanya 600 rupiah untuk pelajar, 1.000 rupiah untuk (masih) mahasiswa, dan 2.000 untuk dewasa. Maka, tak heran jika di dalam museum ini terbilang banyak pengunjung dari kalangan remaja tanggung dan anak-anak. Satu hal yang menarik, menurut pengamatan saya, pengunjung remaja tadi cenderung banyak yang berfoto narsis, sedangkan anak-anak cenderung untuk menakut-nakuti satu sama lain, toh memang interior museum terkesan angker (dalam bahasa Sunda : keueung).

Menarik sekali mempelajari sejarah, khususnya kota Jakarta. Mempelajari sejarah untuk mendapatkan pelajaran berharga; mengetahui sesuatu yang telah dicapai dan yang belum; serta meresapi semangat perjungan para pendahulu kita. Selain itu, saya juga bisa mengetahui tentang zaman Prasejarah, kerajaan-kerajaan, hingga adat/budaya masyarakat. Menuju ke halaman bagian belakang gedung, saya bisa melihat patung Dewa Hermes, ruang Etnografi, ruang tahanan, dan beberapa meriam——salahsatu meriamnya bernama si Jagur.

Setelah menyusuri setiap sudut gedung, akhirnya kami harus segera beranjak dari daerah Kota Tua ini. Saya tidak sempat untuk berkeliling, padahal menurut saya ada objek gedung yang menarik untuk dipotret. Sebaiknya memang sudah seharusnya melestarikan bangunan bersejarah. Inilah pentingnya melestarikan bangunan sejarah (heritage) karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Kawasan bangunan bersejarah jangan dijadikan sebagai lahan komersial untuk kepentingan pribadi, tapi harus menjadi nilai tambah bagi masyarakat. Bangunan bersejarah tidak boleh dialihfungsikan untuk kepentingan pribadi, apalagi sampai mengubah arsitekturalnya.

Kemudian, kami beranjak menuju Monas, setelah sebelumnya sempat mengisi perut di Kawasan Tanah Abang. Jalanan pada saat itu terbilang ramai lancar walau sempat memutar akibat penutupan jalan Car Free Day di wilayah Bundaran HI. Namun, alhasil saya bisa berkeliling melihat-lihat gedung Kementerian dan Pemerintah Pusat. Rasanya, saya ingin sekali-kali menikmati suasana Car Free Day di Jakarta. Berjalan atau bersepeda di pusat kota dan diantara gedung-gedung tinggi mungkin menjadi nuansa yang tersendiri. Akhirnya, setelah memutar-mutar mencari jalan, kami tiba juga di Monas.

Setelah tiba di Monas, saya lalu menuju Museum Sejarah Nasional. Di Museum ini, terdapat diorama-diorama tentang sejarah Indonesia. Mulai dari zaman Prasejarah, zaman perjuangan kemerdekaan, zaman kerajaan, zaman penjajahan, hingga zaman pergerakan nasional pun dihadirkan dalam sebuah diorama 3 dimensi. Melihat diorama tersebut membuat saya bisa membayangkan situasi dan keadaan sejarah nasional Indonesia dahulu secara lebih nyata. Selain itu, saya juga bisa mengetahui tentang sejarah pembangunan Monas itu sendiri. Namun, sepertinya saya salah waktu untuk berkunjung ke Monas. Apa pasal? Objek utama untuk melihat Jakarta dari puncak Monas harus saya tunda karena antreannya sangat panjang, sedangkan waktu kami terbatas. Ya sudahlah, mungkin pada saatnya nanti akan lebih indah (Insya Allah)😀

Kami mengakhiri kunjungan dari Monas untuk kemudian menuju masjid terbesar se-Asia Tenggara, yaitu Masjid Istiqlal. Saya sempat bingung karena masjidnya terlalu besar, saya harus bertanya-tanya lokasi pintu masuk; penitipan sandal; kamar kecil; pintu masuk ke ruang utama. Masjid Istiqlal menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar. Dan yang menarik, Masjid Istiqlal ini berseberangan dengan Gereja Kathedral. Ini melambangkan walaupun Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan agama, tetapi tetap harus menjunjung toleransi dan kesatuan dalam keragaman.

Hari telah sore, matahari terasa hangat dari arah barat, dan awan tetap saja kelabu. Kami mengakhiri perjalanan kami di Jakarta untuk menuju Bandung sore itu. Selamat bertemu kembali Jakarta! Sampai bertemu kembali Metropolitan! Sampai jumpa kembali di Kantor Kementerian Pendidikan Nasional, hehe..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s